Beberapa pekan terakhir, masyarakat diresahkan dengan kabar bahwa produk makarel kemasan kaleng terkontaminasi cacing jenis nematoda, Anisakis simplex. Sejauh ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sudah menarik 27 produk makarel yang terkontaminasi dari pasar. Lantas, apa itu cacing Anisakis dan bagaimana jika sudah terlanjur mengonsumsinya?

Sumber: WikiHow

Sumber: WikiHow

Anisakis simplex yang kerap disebut cacing Anisakis merupakan cacing jenis nematoda yang menginfeksi manusia melalui konsumsi produk laut yang diolah kurang matang. Sebetulnya, anisakiasis (infeksi cacing Anisakis) sudah dijumpai sejak beberapa dekade silam. Akan tetapi, perubahan gaya hidup masyarakat seperti tren memasak tidak sampai matang, masakan cepat saji, hingga Mediterranean diet (yang menitikberatkan konsumsi ikan) membuat anisakiasis semakin sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari.

Cacing ini berawal dari telur yang dilepaskan oleh mamalia laut terinfeksi. Telur ini kemudian dibuahi dan menetas menjadi larva yang berenang bebas. Larva ini akan menginfeksi remis laut seperti udang yang kemudian akan dimakan oleh hewan laut yang lebih besar seperti ikan dan cumi-cumi. Hewan laut ini kemudian akan dikonsumsi oleh manusia. Apabila pengolahannya baik, kita tidak akan teinfeksi. Akan tetapi, pengolahan yang tidak baik akan membuat larva Anisakis tetap hidup dan masuk ke dalam lambung dan usus kemudian menetap di sana.

Cacing Anisakis akan menimbulkan gejala dalam beberapa jam setelah dikonsumsi. Pada umumnya, gejala yang muncul berupa gangguan di sistem pencernaan, meliputi nyeri perut, mual, muntah, dan diare. Hal ini terjadi karena cacing Anisakis dapat menembus permukaan lambung dan usus sehingga terluka dan menghasilkan respons berupa gejala tersebut. Beberapa penderita anisakiasis dapat menunjukkan tanda-tanda alergi seperti kemerahan, rasa panas, nyeri, hingga gatal. Kumpulan gejala ini akan terus meningkat sampai hari ke-14 setelah konsumsi, di mana cacing akan mati dan gejala mereda.

Apabila sudah terinfeksi, gejala hanya dapat diredakan dengan menghilangkan keberadaan cacing di tubuh. Sejauh ini, pengeluaran larva dengan endoskopi masih menjadi opsi, yaitu dengan memasukkan endoskop ke dalam kerongkongan pasien untuk mengeluarkan cacing secara langsung. Pengobatan lain berupa pemberian albendazole 400 mg selama 3-5 hari juga dapat diterapkan meskipun belum banyak studi terkait efektivitasnya. Melalui pemberian obat ini, diharapkan cacing akan mati dan keluar dari tubuh saat buang air besar.

Mengingat tata laksananya yang sulit, anisakiasis tentunya lebih baik untuk dicegah. Ada beberapa cara untuk mencegah infeksi, salah satunya adalah memasak ikan dengan temperatur di atas 60°C selama lebih dari 1 menit. Apabila memanaskan, gunakan suhu di atas 74°C selama lebih dari 15 detik. Jika ingin dimakan mentah, bekukan ikan di bawah -20°C paling kurang selama 24 jam. Cara-cara tersebut efektif untuk mengeleminasi penyebaran cacing Anisakis melalui konsumsi produk laut.

Cacing Anisakis memang sedang marak dijumpai dan mengakibatkan dampat yang cukup mengkhawatirkan. Akan tetapi, infeksi cacing tersebut dapat kita cegah dengan mengolah makanan, terutama produk laut sebaik mungkin.

 

Referensi:

  1. Audicana MT, Kennedy MW. Anisakis simplex: from obscure infectious worm to inducer of immune hypersentivity. 2008; 21(2): 360-79.
  2. Sencer DJ. Anisakiasis overview [Internet]. 2015 March 18 [Cited 2018 April 4]. Centers for Disease Control and Prevention. Available from: https://www.cdc.gov/parasites/anisakiasis/biology.html
  3. Pearson RD. Anisakiasis [Internet]. 2017 [Cited 2018 April 4]. MSD Manual: Professional Version. Available from: https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/nematodes-roundworms/anisakiasis
Jeremy Rafael Tandaju
Faculty of Medicine Universitas Indonesia
Cipto Mangunkusumo National General Hospital
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr