Sulit makan merupakan keluhan orang tua yang paling sering pada saat datang ke dokter. Bayi / anak dikatakan sulit makan jika menunjukkan gangguan yang berhubungan dengan makan atau pemberian makan, serta mengundang kekhawatiran ibu. Keluhan yang biasa disampaikan berbagai macam di antaranya1 :

  • Makanan yang tidak mau ditelan.
  • Makan terlalu sedikit atau tidak nafsu makan.
  • Penolakan atau melawan pada waktu makan.
  • Hanya mau makan jenis tertentu saja.
  • Cepat bosan terhadap makanan yang disajikan.

 

Sulit makan dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti penyakit / kelainan organik yang mendasari, interaksi biologis, dan faktor lingkungan terutama faktor keluarga. Penyebab yang paling sering ditemukan berhubungan dengan tata cara pemberian makan.1-3

 

Tata cara pemberian makan pada anak terdiri dari dua metode, yaitu metode konvensional (spoon fed) dan metode Baby-Led Weaning (BLW). Metode BLW menjadi populer saat ini karena dianggap dapat menjadi solusi bagi anak yang sulit makan. BLW adalah metode pemberian makanan padat pada anak dimana anak diberikan kesempatan untuk makan makanannya sendiri. Anak akan menentukan sendiri jumlah dan jenis makanannya (dari yang telah disediakan). Menu yang dikonsumsi adalah menu makanan keluarga dan anak akan makan bersamaan dengan waktu makan keluarga.4-6

 

Metode BLW dapat mengatasi masalah sulit makan pada anak, seperti penolakan makan dan masalah pemberian makan yang tidak benar. Hal ini dikarenakan metode ini memberikan  kesempatan dalam pengenalan dan eksplorasi jenis makanan yang lebih luas dan jadwal makan yang lebih disiplin. Selain itu, metode ini juga dapat mengatur berat badan, membantu perkembangan motorik, meningkatkan keterampilan sosial, dan menjadi lebih dekat dengan keluarga. Namun, metode BLW ini juga memiliki kekurangan yang harus diperhatikan, seperti risiko tersedak dan risiko kekurangan nutrisi karena anak yang menentukan jumlah makanannya sendiri, sehingga jumlah nutrisi anak tidak diketahui secara pasti.4-5

 

Di Indonesia metode BLW tidak direkomendasikan. Hal ini dikarenakan, sampai saat ini data WHO mencatat potensi kematian bayi dan balita di Indonesia akibat malnutrisi masih sangat tinggi. Oleh sebab itu, pemerintah menganjurkan untuk mengikuti panduan dari WHO, dengan metode konvensional.6 Namun, jika orang tua merasa anaknya memang sulit makan dengan cara pemberian metode makan konvensional, orang tua dapat mencoba metode BLW dengan memperhatikan kesiapan anak pada metode BLW4-5, berupa:

  • anak dapat tenang pada posisi duduk dan menjaga kepala tetap tegak,
  • anak dapat melakukan koordinasi mata, tangan, dan mulut sehinga dapat melihat makanan, mengambilnya, dan meletakkan makanan pada mulutnya, yang dapat dilakukan sendiri,
  • anak dapat menelan makanan.

 

Penerapan metode BLW pada anak yang mengalami kesulitan makan juga harus mengacu pada feeding rules menurut Bernard-Bonnin7 yaitu:

  • Jadwal makan utama dan selingan yang teratur
  • Makan tidak > 30 menit
  • Jangan menawarkan camilan lain saat makan kecuali minum
  • Lingkungan yang menyenangkan (tidak ada paksaan)
  • Jangan ada distraksi seperti mainan, televisi, perangkat permainan elektronik pada saat makan
  • Jangan memberikan makanan sebagai hadiah
  • Berikan makanan dalam porsi kecil
  • Berikan makanan utama dulu, baru diakhiri dengan minum
  • Motivasi anak untuk makan sendiri
  • Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan, seperti mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis, maka tawarkan kembali makanan secara netral, yaitu tanpa membujuk ataupun memaksa untuk makan
  • Akhiri proses makan bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan
  • Hanya boleh membersihkan mulut anak jika sudah selesai makan

 

Jika dapat memenuhi kriteria dan aturan tersebut, maka metode BLW dapat menjadi salah satu pilihan cara untuk mengatasi sulit makan pada anak.

 

 

Referensi:

  1. Kezner B, Milano K, Maclean WC, et al. A Practical Approach to Classifying and Managing Feeding Difficulties. American Academy of Pediatrics. 2014;135(2):344-53.
  2. Rommel N, DeMeyer AM, Feenstra L, Veereman-Wauters G. The complexity of feeding problems in 700 infants and young children presenting to a tertiary care institution. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2003;37(1):75-84.
  3. UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI. Rekomendasi praktik pemberian makan berbasis bukti pada bayi dan batita di Indonesia untuk mencegah malnutrisi. 2015:37-40.
  4. Rapley G, Murkett T. Baby-led weaning: helping your baby to love good food. UK: Vermilion; 2008
  1. Sachs, M. (2011). Baby‐led weaning and current recommendations–are they compatible?. Maternal & child nutrition. 2011;7(1), 1-2.
  2. World Health Organization. Guiding principles for complementary feeding of the breastfeed child. [Internet]. [16 Oktober 2017]. Dapat diakses di: http://www.who.int/nutrition/publications/guiding_principles_compfeeding_breastfed.pdf
  3. Bernard-Bonnin, A. Feeding problems of infants and toddlers. Can Fam Physician. 2006;52:1247-51.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr