Banyak yang menganggap bahwa bibir sumbing adalah suatu kutukan. Namun benarkah demikian?

Bagaimana terjadinya bibir sumbing?

sm-cleftlip-cleftpalate-600x300Pada minggu ke 4 hingga minggu ke 9 kehamilan, bibir dan langit-langit mulut mulai terbentuk. Bibir dan langit-langit mulut terbentuk dari persatuan antara bagian kiri dan kanan wajah yang tumbuh membentuk bibir dan langit-langit mulut. Apabila terjadi kelainan pada proses pembentukkan bibir dan/atau langit-langit mulut, maka terbentuklah kondisi bibir sumbing.

Apa yang menyebabkan terjadinya bibir sumbing?

Penyebab dari bibir sumbing umumnya tidak diketahui. Faktor genetik dan lingkungan sangat terlibat dalam terjadinya kondisi bibir sumbing. Meskipun demikian, beberapa faktor risiko yang cukup signifikan adalah:

  1. Merokok. Wanita yang merokok selama hamil berisiko memiliki anak dengan bibir sumbing dibandingkan wanita yang tidak merokok.
  2. Diabetes/kencing manis. Wanita dengan diabetes (kencing manis) sebelum kehamilan akan memiliki risiko yang lebih besar untuk memiliki anak dengan bibir sumbing.
  3. Penggunaan obat-obatan tertentu. Tidak semua obat berbahaya untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Namun, konsumsi obat-obat antiepilepsi (anti kejang), seperti topiramat dan asam valproat, pada trimester pertama dapat meningkatkan risiko memiliki anak dengan bibir sumbing.

 

Apakah bibir sumbing dapat dideteksi sebelum lahir?

Jawabannya adalah ya! Bibir sumbing dapat dideteksi dengan ultrasonografi (USG) pada saat pemeriksaan kehamilan rutin. Namun, beberapa kondisi tidak adalah dideteksi dengan USG dan hanya dapat dideteksi pada saat bayi lahir.

Apa masalah yang dapat timbul dari adanya bibir sumbing?

Anak-anak dengan bibir sumbing dapat memiliki masalah untuk makan dan minum, serta masalah dalam berbicara dengan jelas. Apabila langit-langit mulut tidak terbentuk sempurna, maka makanan/minuman yang ada di rongga mulut anak akan masuk ke rongga hidung pada saat menelan. Hal ini dapat berbahaya bagi anak.

Suatu harapan bagi pasien dengan bibir sumbing

Meskipun masalah yang ditimbukan dari bibir sumbing begitu besar, penanganan bibir sumbing dapat dilakukan sesegera mungkin. Penanganan yang dapat dilakukan adalah operasi/pembedahan. Pembedahan pada kasus bibir sumbing sangat bergantung pada derajat keparahan bibir sumbing, usia anak, dan kebutuhan.

Dengan tindakan operasi, maka perawakan wajah dapat menjadi lebih baik. Selain itu, anak dapat menjadi lebih baik dalam fungsi pernapasan, pendengaran, artikulasi, dan perkembangan fungsi bahasa. Selain pembedahan, anak dengan bibir sumbing dapat juga diberikan penanganan tambahan, seperti terapi wicara dan penanganan dengan dokter gigi.

Joshua, anak dengan bibir sumbing

Joshua, anak dengan bibir sumbing namun dapat hidup normal seperti teman-temannya.

Dengan adanya penanganan yang baik, anak dengan bibir sumbing dapat hidup normal selayaknya anak biasanya, seperti pada gambar di samping. Oleh karena itu, kenalilah bibir sumbing dan perkaya pengetahuan agar anak-anak dengan bibir sumbing dapat hidup tanpa tekanan sosial seperti anak-anak lainnya.

Referensi:

  1. Parker SE, Mai CT, Canfield MA, Rickard R, Wang Y, Meyer RE, Anderson P, Mason CA, Collins JS, Kirby RS, Correa A; for the National Birth Defects Prevention Network. Updated national birth prevalence estimates for selected birth defects in the United States, 2004-2006. Birth Defects Research (Part A): Clinical and Molecular Teratology 2010;88:1008-16.
  2. Little J, Cardy A, Munger RG. Tobacco smoking and oral clefts: a meta-analysis. Bull World Health Organ. 2004;82:213-18.
  3. Honein MA, Rasmussen SA, Reefhuis J, Romitti P, Lammer EJ, Sun L, Correa A. Maternal smoking, environmental tobacco smoke, and the risk of oral clefts. Epidemiology 2007;18:226–33.
  4. Yazdy MM, Autry AR, Honein MA, Frias JL. Use of special education services by children with orofacial clefts. Birth Defects Research (Part A): Clinical and Molecular Teratology 2008;82:147-54.
  5. Correa A, Gilboa SM, Besser LM, Botto LD, Moore CA, Hobbs CA, Cleves MA, Riehle-Colarusso TJ, Waller DK, Reece EA. Diabetes mellitus and birth defects. American Journal of Obstetrics and Gynecology 2008;199:237.e1-9.
  6. Margulis AV, Mitchell AA, Gilboa SM, Werler MM, Glynn RJ, Hernandez-Diaz S, National Birth Defects Prevention Study. Use of topiramate in pregnancy and risk of oral clefts. American Journal of Obstetrics and Gynecology 2012;207:405.e1-e7.
  7. Werler MM, Ahrens KA, Bosco JL, Michell AA, Anderka MT, Gilboa SM, Holmes LB, National Birth Defects Prevention Study. Use of antiepileptic medications in pregnancy in relation to risks of birth defects. Annals of Epidemiology 2011;21:842-50.
  8. American Cleft Palate-Craniofacial Association. Parameters for evaluation and treatment of patients with cleft lip/palate or other craniofacial anomalies. Revised edition, Nov 2009. Chapel Hill, NC. P. 1-34. http://www.acpa-cpf.org/uploads/site/Parameters_Rev_2009.pdf
Mahasiswa FKUI 2015
Anggota Produksi Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr