Peranti Dengar

https://heavyeditorial.files.wordpress.com/2015/10/headphones.jpg?quality=65&strip=all&w=780&strip=all

Berkembangnya era globalisasi disertai kemunculan berbagai teknologi baru, salah satunya adalah peranti dengar. Namun, sering kali peranti dengar digunakan secara berlebihan tanpa menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan terhadap pendengaran.

Pada zaman ini, istilah earphone, headphone, atau headset bukanlah suatu kata yang asing lagi. Ketiga hal tersebut merupakan istilah untuk peranti dengar yang tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Alat tersebut membantu para penggunanya untuk menikmati lagu yang tersimpan di dalam gadget.

Namun, penggunaannya memiliki bahaya yang sering tidak disadari. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap sekelompok mahasiswa, ditemukan bahwa 94% mahasiswa pengguna peranti dengar tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan. Penelitian lain menemukan bahwa 9,6% anak mengalami kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh penggunaan peranti dengar. Menurut data dari World Health Organization (WHO), hampir 50% penduduk berusia 12–35 tahun berisiko kehilangan pendengarannya karena paparan terhadap suara dari peranti dengar.

Sebenarnya, apa itu kehilangan pedengaran?

Kehilangan pendengaran didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk mendengar atau jika seseorang tidak dapat mendengar bunyi dengan intensitas di bawah 25 dB. Hilangnya pendengaran dapat terjadi jika telinga terpapar terhadap berintensitas tinggi secara berlebihan.

Di bagian dalam telinga, terdapat suatu struktur yang disebut koklea yang berisi sel-sel sensoris. Sel-sel sensoris tersebut berfungsi untuk mengubah suara yang ditangkap oleh telinga menjadi sinyal listrik yang dapat dihantarkan oleh saraf di dalam telinga menuju otak.

Ketika terpapar bunyi berintensitas tinggi, sel sensoris tersebut dapat mengalami gangguan. Pada keadaan normal, sel sensoris dapat berfungsi normal kembali setelah paparan suara keras berhenti. Namun, jika paparan suara berintensitas tinggi terjadi dalam waktu yang lama, sel sensoris tersebut dapat mengalami kerusakan permanen yang menyebabkan hilangnya pendengaran secara permanen.

Hilangnya pendengaran dapat menimbulkan berbagai konsekuensi buruk yang mengganggu kualitas hidup. Pendengaran yang menumpul menyebabkan seseorang lebih tidak peka terhadap bunyi berfrekuensi tinggi. Tak hanya itu, penggunaan peranti dengar dalam jangka panjang juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi telinga. Pengguna peranti dengar juga kerap mengeluhkan beberapa gangguan seperti rasa nyeri dan sensasi berdenging dalam telinga. Selain itu, risiko terjadinya kecelakaan pada para pengendara kendaraan yang mengemudi sambil menggunakan peranti dengar pun meningkat.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah hilangnya pendengaran?

Untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran, harus diterapkan kebiasaan mendengar yang aman. Cara pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi volume suara. Menurut WHO, batas intensitas maksimal yang aman adalah 85 dB maksimal selama 8 jam. Bunyi 85 dB setara dengan bunyi knalpot truk diesel atau bunyi mesin potong kayu.

Cara lainnya adalah mengurangi intensitas suara yang masuk ke liang telinga menggunakan peranti dengar ber-feature noise-cancelling. Mengurangi paparan terhadap suara berintensitas tinggi juga dapat dilakukan dengan menjauhkan diri dari sumber suara. Waktu penggunaan peranti dengar harus dibatasi maksimal 1 jam sehari. Orang tua harus memainkan peran aktif untuk mengajarkan anak mengenai kebiasaan mendengar yang baik dan memantau penggunaan peranti dengar pada anak. Terakhir, periksakan fungsi pendengaran secara rutin guna menemukan gangguan pendengaran sedini mungkin.

 

 

Referensi

  1. Marron KH, Marchiondo K, Stephenson S, Wagner S, Cramer I, Wharton T, et al. College students’ personal listening device usage and knowledge. Int J Audiol. 2015 Jun 3;54(6):384–90.
  2. Clercq CMP le, Ingen G van, Ruytjens L, Schroeff MP van der. Music-induced Hearing Loss in Children, Adolescents, and Young Adults: A Systematic Review and Meta-analysis. Otol Neurotol. 2016 Oct 1;37(9):1208–16.
  3. Make Listening Safe.pdf [Internet]. [cited 2018 Mar 10]. Available from: http://www.who.int/pbd/deafness/activities/MLS_Brochure_English_lowres_for_web.pdf
  4. Portnuff CD. Reducing the risk of music-induced hearing loss from overuse of portable listening devices: understanding the problems and establishing strategies for improving awareness in adolescents. Adolesc Health Med Ther. 2016 Feb 10;7:27–35.
  5. Ansari H, Mohammadpoorasl A. Using Earphone and its Complications: An Increasing Pattern in Adolescents and Young Adults. Health Scope. 2016;5(1).
Mahasiswa FKUI 2015
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr