Telah banyak digencarkan obesitas erat kaitannya dengan penyakit jantung dan penyakit gula (diabetes mellitus), tetapi tahukah Anda bahwa obesitas juga dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik?

Obesitas — Simbol Kemakmuran?

Secara objektif, kegemukan ditentukan melalui perhitungan indeks massa tubuh (IMT). Perhitungan IMT tersebut dapat disimak lebih lanjut pada artikel “Apa Bukti Anda Gemuk?” Menurut kriteria Asia-Pasifik, IMT >30 kg/mdapat dikatakan sebagai obesitas. Cara lebih mudah adalah dengan mengukur lingkar pinggang Anda. Apabila > 90 cm pada laki-laki atau > 85 cm pada perempuan, maka kemungkinan Anda telah mengalami penyakit ini.

Masalah yang mencemaskan adalah angka kejadian yang terus meningkat. Pada tahun 2008, terdapat 1,4 miliar orang dengan kelebihan berat badan. Pada dekade berikutnya, diduga akan meningkat 40%. Obesitas ini sendiri merupakan gambaran kesehatan masyarakat dan dinilai bukan sebagai simbol kemakmuran, karena terjadi lintas usia, ras/etnis, agama, sektor masyarakat, status sosioekonomi. Dari sini perlu ditekankan bahwa untuk menekan angka obesitas, diperlukan strategi kombinasi yang melibatkan kesehatan masyarakat, ekonomi, perubahan perilaku, dan perubahan lingkungan.

Indonesia kini sedang menghadapi double burden pada masalah malnutrisi. Di saat angka kurang gizi dan perawakan pendek masih tinggi, angka obesitas juga meningkat secara tajam. Pada tahun 2007, angka kelebihan berat badan di Indonesia 12,2%m tetapi pada tahun 2010 telah menjadi 14%. Hal ini menjadi masalah baru yang perlu menjadi perhatian masyarakat.

Untitled

Bahaya Obesitas

Penyakit ini dikenal dengan penyebab yang sangat banyak, mulai dari genetik (keturunan), pola makan, aktivitas fisik yang kurang, perubahan hormon, infeksi virus (adenovirus), gangguan keseimbangan bakteri di usus, dan lain sebagainya. Proses tersebut dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi (hipertensi), penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), dan penyakit kencing manis (diabetes mellitus). Selain itu, penyakit lain yang ditimbulkan (komorbid) dapat berupa mendengkur yang berbahaya (sleep apnea), kanker, perlemakan hati (fatty liver), radang sendi (osteoarthritis), batu saluran empedu, penyakit pikun (alzheimer).

Penting diketahui bahwa semua bahaya obesitas di atas dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik dengan berbagai mekanisme dalam tubuh.

Untitled

Obesitas dan Penyakit Ginjal Kronik (PGK)

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kelebihan berat badan pada usia 20 tahun tanpa penyakit darah tinggi dan kencing manis memiliki risiko 3 kali lipat untuk mengalami PGK. Selain itu, obesitas juga meningkat risiko seseorang untuk harus cuci darah akibat penyakit ginjal yang dialaminya. Hal ini jelas bahwa obesitas memang dapat menyebabkan PGK.

Pencegahan Obesitas pada PGK

Mencegah obesitas berarti mencegah juga PGK. Langkah awal adalah lakukan pengukuran berat badan, hitung IMT atau lingkar pinggang secara berkala. Untuk pencegahan lebih lanjut adalah konseling nutrisi, jaga pola makan, lakukan aktivitas fisik 3 kali seminggu dengan durasi masing-masing 30 menit atau jalan cepat 5 kali/minggu. Mengetahui kapan harus melakukan manajemen penurunan berat badan juga penting, yaitu apabila terjadi penambahan berat badan >5% dalam 3-6 bulan, IMT>30 kg/m2, gaya hidup sedenter, lingkar pinggang berlebih. Strategi penurunan berat badan dilakukan dengan pembatasan kalori harian, olahraga lebih teratur, dan perbanyak konsumsi buah dan sayur, gandum, makanan rendah lemak dan rendah gula.

Untitled

 

Referensi:

  1. World Health Organization. Global health risks: mortality and burden of disease attributable to selected major risks. Geneva: World Health Organization, 2009.
  2. Kelly T, Yang W, Chen C-S, Reynolds K, He J: Global burden of obesity in 2005 and projections to 2030. Int J Obes (Lond). 2008;32: 14317.
  3. Ejerblad E, Fored CM, Lindblad P, Fryzek J, McLaughlin JK, Nyrén O: Obesity and risk for chronic renal failure. J Am Soc Nephrol. 2006;17: 16951702.
  4. Stenvinkel P, Zoccali C, Ikizler TA.  Obesity in CKD—what should nephrologists know? J Am Soc Nephrol. 2013;24: 172736.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr