Orang tua pada umumnya senang mendapati anaknya suka makan, apalagi ketika anaknya tumbuh dengan gemuk. Sebagian masyarakat beranggapan anak gemuk terlihat lucu, menggemaskan dan sehat. Namun, sering kali tanpa disadari oleh orang tua anak menjadi gemuk berlebihan dan obesitas. Obesitas pada anak mengakibatkan anak cenderung tetap obesitas saat dewasa, lebih rentan terkena penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskuler pada usia lebih muda serta membuat umur anak lebih pendek dari umur orang tua. Tentu orang tua tidak menginginkan hal ini terjadi. Oleh karena itu, orang tua mencari solusi dari masalah ini yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter dan bertanya “Bagaimana cara mengatasi obesitas pada anak?”
Prevalensi obesitas anak mengalami peningkatan di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. Tingginya prevalensi obesitas anak disebabkan oleh pertumbuhan urbanisasi dan perubahan gaya hidup seseorang termasuk asupan energi. Menurut WHO (World Heart Organization), satu dari 10 (sepuluh) anak di dunia mengalami kegemukan. Peningkatan obesitas pada anak dan remaja sejajar dengan orang dewasa.1 Sejak tahun 1970 hingga sekarang, kejadian obesitas meningkat 2 (dua) kali lipat pada anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga (3) kali lipat pada anak usia 6-11 tahun. Di Indonesia, prevalensi obesitas pada anak usia 6-15 tahun meningkat dari 5% pada tahun 1990 menjadi 16% pada tahun 2001.2
Prevalensi kecenderungan meningkatnya obesitas baik pada anak maupun orang dewasa merupakan peringatan bagi pemerintah dan masyarakat bahwa obesitas dan segala implikasinya memerlukan perhatian khusus.
Lalu bagaimana obesitas pada anak muncul?
Mekanisme dan Manifestasi Obesitas
Kelebihan gizi menimbulkan obesitas dapat terjadi pada anak-anak hingga usia dewasa. Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi masuk dengan kebutuhan tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan dan aktivitas serta pemeliharaan kesehatan.3 Jika keadaan ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu cukup lama, akan berdampak anak terkena obesitas. Obesitas merupakan keadaan indeks massa tubuh (IMT) anak yang berada di atas persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya.4
Obesitas pada masa anak dapat meningkatkan kejadian diabetes mellitus (DM) tipe 2 saat anak dewasa. Selain itu, juga berisiko anak menjadi obesitas saat dewasa dan berpotensi mengakibatkan gangguan metabolisme glukosa dan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, penyumbatan pembuluh darah dan lain-lain. Selain itu, obesitas pada anak usia 5-7 tahun juga dapat menurunkan tingkat kecerdasan karena aktivitas dan kreativitas anak menjadi menurun dan cenderung malas akibat kelebihan berat badan.5 Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain asupan makanan berlebih seperti makanan olahan serba instan, minuman soft drink, makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger, pizza, hot dog) dan makanan siap saji lainnya. Selain itu, obesitas dapat terjadi karena kebiasaan saat bayi anak tidak mengonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi mengunakan susu formula dengan jumlah asupan melebihi porsi kebutuhkan bayi atau anak.6 Akibatnya, anak akan mengalami kelebihan berat badan saat berusia 4-5 tahun. Hal ini diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi makanan jajanan yang kurang sehat dengan kandungan kalori tinggi tanpa disertai konsumsi sayur dan buah yang cukup sebagai sumber serat.
Faktor penyebab obesitas lainnya adalah kurangnya aktivitas fisik baik kegiatan harian maupun latihan fisik terstruktur. Aktivitas fisik yang dilakukan sejak masa anak sampai lansia akan mempengaruhi kesehatan seumur hidup.7 Obesitas pada usia anak akan meningkatkan risiko obesitas pada saat dewasa. Penyebab obesitas dinilai sebagai ‘multikausal’ dan sangat multidimensional karena tidak hanya terjadi pada golongan sosio-ekonomi tinggi, tetapi juga sering terdapat pada sosio-ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. Obesitas lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dibandingkan dengan faktor genetik.8 Obesitas pada anak dapat menimbulkan anak mengalami obesitas berkelanjutan saat anak tumbuh dewasa. Anak obesitas biasanya berasal dari keluarga yang juga obesitas.7

Lalu, bagaimana cara mencegah obesitas pada anak?
Pola Hidup Sehat sejak Dini Cegah Obesitas pada Anak
“Perhatikan Asupan”
Anjuran ini sudah sering disampaikan para ahli dalam kehidupan sehari-hari. Saat anak berusia satu tahun, kebutuhan susu perlu dibatasi, tidak melebihi 500-700 ml per 24 jam.9 Anak di bawah usia 2 (dua) tahun tidak dianjurkan untuk menurunkan berat badan karena masa tersebut merupakan periode perkembangan otak yang pesat. Namun setelah usia 2 (dua) tahun, anak sudah dapat diperkenalkan cara mengontrol berat badan yaitu dengan pola hidup sehat dan menyeimbangkan antara kegiatan serta asupan makan anak.
Berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Dr. Mark De Boer dari University of Virginia School of Medicine, AS mengamati 10.700 anak-anak dari AS berusia 2-4 tahun. Penelitian ini mengemukakan bahwa ketika seorang anak aktif bermain di luar dan memiliki pola makan seimbang serta menghindari konsumsi makanan manis dan cepat saji dapat menurunkan risiko obesitas anak.10 Merujuk dari penelitian tersebut, orangtua hendaknya meningkatkan kesehatan anak dengan cara memastikan agar anak-anaknya mengurangi kebiasaan makan sambil menonton televisi, konsumsi minuman berpemanis buatan dan mendorong serta mendampingi anak agar lebih banyak berolahraga.
Jadi, bagaimana cara mencegah obesitas pada anak?
Berikut tips-tips untuk mencegah obesitas pada anak, khususnya untuk anak berusia di atas 2 (dua) tahun.
1. Dukung anak untuk mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah.
Berikan anak sedikitnya lima porsi buah atau sayur setiap harinya. Buah-buahan sangat baik untuk diberikan sebagai pengganti camilan manis. Usahakan agar buah diberikan dalam bentuk buah potong bukan jus. Dengan mengonsumsi buah potong, anak akan mengunyah, dan dengan demikian akan mengurangi asupan kalori ke dalam tubuh. Apabila hendak memberikan jus, batasi pemberian jus hanya satu gelas (180 mL) untuk anak usia 1-6 tahun, dan maksimal dua gelas (total 360 mL) untuk anak usia 7-18 tahun.
2. Batasi konsumsi minuman manis.
Minuman dalam kemasan mengandung tambahan gula, termasuk minuman bersoda atau susu kental manis yang dikonsumsi sebagai susu, memiliki kalori tinggi, namun nilai gizinya rendah sehingga dapat menyebabkan kenaikan berat badan berlebih pada anak jika dikonsumsi berlebihan.
3. Batasi waktu menonton anak maksimal dua jam dalam sehari.
Batasan waktu ini termasuk waktu untuk menonton televisi dan bermain di depan komputer. Pada obesitas akut, waktu menonton TV secara bertahap dibatasi hingga maksimal 1 jam dalam sehari.
4. Upayakan anak melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap harinya.
Pada anak kecil, aktivitas fisik dapat dilakukan sambil bermain, sedangkan pada anak yang lebih besar aktivitas dapat bersifat lebih terarah, misalnya bersepeda, berenang, senam, atau olahraga lain yang disukai anak.
5. Batasi frekuensi makan di restoran.
Kurangi makan makanan di restoran cepat saji dan perbanyak makan makanan rumah karena lebih bergizi dan berkualitas baik.
6. Biasakan anak untuk sarapan setiap pagi dengan makanan yang sehat.
Sejumlah penelitian memperihatkan bahwa anak-anak penderita overweight dan obesitas jarang mengonsumsi sarapan pagi jika dibandingkan dengan anak berat badan normal.
7. Jadikan upaya untuk mengatasi obesitas anak sebagai program seluruh anggota keluarga, dan bukan hanya untuk anak yang mengalami kelebihan berat badan.
Pada anak overweight, modifikasi perilaku dan gaya hidup bertujuan untuk memertahankan agar berat badan tidak bertambah, sehingga dengan adanya pertumbuhan tinggi badan anak, diharapkan indeks massa tubuh akan turun secara bertahap hingga di bawah persentil 85. Berbeda untuk anak yang sudah mengalami obesitas, penurunan berat badan diharapkan terjadi secara bertahap, namun tidak melebihi 0,5 kg per bulan untuk anak berusia 2-5 tahun, dan tidak melebihi 4 kg per bulan untuk anak berusia 6 sampai 18 tahun. Penurunan berat badan dengan sangat drastis dapat menyebabkan terbentuknya batu empedu, diare, anak menjadi lemas, peningkatan asam urat, kadar protein tubuh menjadi rendah, dan hipotensi ortostatik, yaitu tekanan darah rendah saat perubahan posisi tubuh. Evaluasi keberhasilan program ini dilakukan dalam 3-6 bulan, dan apabila tidak didapatkan hasil sesuai target, intervensi lebih lanjut perlu dilakukan dan mungkin memerlukan kerjasama dengan disiplin ilmu lainnya.10

Kesimpulan
Anak-anak merupakan kelompok usia berisiko mengalami masalah gizi baik masalah gizi kurang maupun gizi lebih. Anak berusia 5-7 tahun merupakan kelompok rentan terhadap gizi berlebih. Oleh karena itu, anak dalam rentang usia ini perlu mendapat perhatian dari sudut perubahan pola makan seperti pembatasan camilan tinggi gula seperti coklat dan pemberian camilan sehat seperti buah dan sayur karena makanan yang biasa dikonsumsi sejak anak usia dini akan membentuk pola kebiasaan makan anak selanjutnya sampai dewasa maka risiki anak terkena obesitas di kemudian hari dapat dikurangi.

Referensi
1. World Health Organization. Obesity: Preventing and managing the global epidemic. WHO Obesity Technical Report series 894. Geneva; 2000.
2. Soegondo, Sidartawan. Berbagai Penyakit dan Dampaknya terhadap Kesehatan dan Ekonomi. Jakarta; Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) IX; 2008.
3. Jahari A. Penilaian Status Gizi Berdasarkan Antropometri. Bogor; Puslitbang Gizi dan Makanan; 2004.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Growth charts for the United States: methods and development. Washington; Department of Health and Human Services; 2000.
5. Sjarif D. Anak gemuk, apakah sehat? Jakarta; Divisi anak dan penyakit metabolic FKUI; Jakarta.
2004.
6. Stettler N, Zemel BS, Kumanyika S, Stallings VA. Infant weight gain and childhood overweight status in a multicenter, cohort study. Pediatrics. 2002;109(2):194-9.
7. Maffeis CG, Talamini G, Tato L. Influence of diet, physical activity and parent’s obesity on children’s adiposity: a four year longitudinal study. Int. J. Obes. Relat. Metab. Disord. 1998; 22(8):758-764.
8. Haines J, Sztainer DM, Wall M, Story M. Personal, Behavioral, and Environmental Risk and Protective Factors for Adolescent Overweight. Int. J. Obes. 2007; 15:2748-2760.
9. Dunican KC, Desilets AR, Montalbano JK. Pharmacotherapeutic options for overweight adolescents. Ann Pharmacother. Sep 2007;41(9):1445-1455.
10. Toschke AM, Grote V, Koletzko B, von Kries R. Identifying children at high risk for overweight at school entry by weight gain during the first 2 years. Arch. Pediatr. Adolesc. Med. 2004;158(5):449-452.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr