dialysis-blog1

 

Pada umumnya hemodialisis atau sering disebut sebagai cuci darah dikerjakan sebagai alternatif pengobatan pasien dengan penyakit ginjal kronis. Dalam kondisi ini, kerja ginjal sebagai penyaring zat-zat hasil metabolisme yang berbahaya bagi tubuh sudah tidak efektif, bahkan tidak berfungsi. Akibatnya, terjadi penumpukan zat-zat berbahaya tersebut dan membuat pasien penyakit ginjal kronis jatuh dalam keadaan yang mencemaskan.

Hemodialisis bukanlah seperti sebutannya “cuci darah” yang menambahkan bahan-bahan kimia untuk “membersihkan” darah. Dalam prosesnya, komposisi darah dan konsentrasinya dikembalikan menjadi normal, misalnya tingkat ureum dan kreatinin diturunkan, tingkat ion kalium yang tinggi dikembalikan pada rentang normalnya, serta tekanan darah yang meningkat akibat penumpukan cairan diturunkan.

Ketika menyebut “darah”, tidak melulu sel darah merah saja yang dimaksud. Dalam darah terdapat berbagai komponen seperti sel darah putih, trombosit, air, protein, ion, dan zat hasil metabolisme. Kekurangan atau kelebihan satu atau beberapa diantaranya dapat berdampak buruk bagi pengaturan normal tubuh.

Bagaimana caranya?

Hemodialisis menggunakan prinsip difusi (perpindahan air dan zat terlarut di dalamnya). Darah dikeluarkan dari pembuluh darah dan dialirkan ke dalam suatu alat yang di dalamnya telah berisi cairan dialisis. Cairan ini mengandung komponen-komponen yang mirip dengan darah orang normal.

Darah yang dialirkan dari tubuh tadi ditempatkan terpisah dengan cairan ini, dibatasi oleh membran semipermeabel (sejenis saringan dengan lubang sangat kecil yang hanya bisa ditembus zat tertentu). Sesuai prinsip keseimbangan, akan terjadi pertukaran, baik air maupun zat lainnya, antara darah dan cairan dialisis melalui membran ini.

Untuk mengalirkan darah dari tubuh, akan dibuat akses ke pembuluh darah. Pada pasien yang menjalani hemodialisis rutin, umumnya akses ini dibuat khusus di lokasi yang sama (misalnya pada lengan), kecuali jika dibutuhkan akses yang baru atas pertimbangan tertentu.

Proses akan berhenti ketika telah terjadi keseimbangan antara keduanya. Saat hal ini terjadi, komposisi darah sudah menjadi lebih normal daripada sebelumnya. Darah siap dialirkan kembali dalam tubuh.

Dengan demikian, proses hemodialisis sebenarnya menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Karena ginjal sudah tidak mampu menjalankan kerjanya, penggantian peran, baik dengan transplantasi maupun dialisis, harus dilakukan.

Apakah semua orang dengan penyakit ginjal kronis perlu menjalani hemodialisis? Tidak, penentuan dilakukannya hemodialisis tentu didasarkan pada pertimbangan yang sesuai. Namun, saat ini semakin banyak orang menderita penyakit ginjal kronis dan semakin banyak diantaranya membutuhkan pengganti peran ginjal. Oleh karena itu, mari kita tidak menambah daftar antrean hemodialisis tersebut.

Sayangi ginjal Anda.

 

 

Referensi:

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2010

Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Fauci AS, Longo DL, Loscalzo J. Harrison’s principles of internal medicine. 19th ed. New York City: McGraw Hill Education; 2015

Veronika Renny Kurniawati
Pemimpin Redaksi Media Aesculapius FKUI
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr