Dewasa ini media sosial merupakan terobosan teknologi yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Ibu rumah tangga hingga pejabat negara dapat leluasa membagikan apa yang dipikirkan dan diperbuatnya melalui media sosial. Beberapa saat yang lalu seorang ibu dengan ribuan pengikut di media sosialnya memberikan tempe bagi anaknya yang berusia 5 bulan1.

Metode pemberian makan yang diperagakan sang ibu tersebut dinamakan baby-led weaning (BLW). Metode yang ‘tampil beda’ ini diperkenalkan oleh Rapley dan Murkett di Inggris pada tahun 20082. BLW menganjurkan memberikan makanan secara utuh sejak awal MPASI. Metode ini tidak memberikan sendok sebagai alat bantu makan. Bayi didorong untuk mengambil makanan dengan tangan, merasakan rasa dan teksturnya dan memasukkan ke mulutnya sendiri. Bagaikan dua kutub yang berbeda, MPASI tradisional yang dianjurkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) menegaskan kaidah pengenalan satu jenis makanan pada satu waktu, pemberian makanan bertekstur halus pada awal MPASI, serta peningkatan kekasaran tekstur makanan hingga makanan keluarga secara bertahap hingga usia 12 bulan3,4.

 

Beberapa penelitian telah secara khusus ditujukan untuk mengkaji manakah metode MPASI yang terbaik. Salah satu penelitian paling awal mengenai perbandingan metode BLW dan MPASI tradisional ini dilakukan oleh Morison et al. di Selandia Baru5. Bayi BLW ternyata mendapatkan total kalori yang hampir sama, namun lebih sedikit zat besi, vitamin B12, dan seng. Bayi kurang mikronutrien, utamanya zat besi memiliki risiko lebih tinggi terkena anemia defisiensi besi. Konsekuensi serius kondisi defisiensi besi ini adalah keterlambatan perkembangan, gangguan perilaku, dan gangguan kognitif6. Jika kondisi defisiensi besi ini terjadi dini dan tidak segera diatasi, maka efeknya dapat permanen. Penelitian lain pada tahun yang sama menemukan bayi BLW mengkonsumsi lebih banyak protein, natrium, selenium, namun lebih sedikit vitamin A. Kedua penelitian tersebut juga menemukan baik bayi BLW maupun bayi MPASI tradisional memiliki tingkat pertumbuhan dan risiko tersedak yang hampir sama5,7.

 

Hingga saat ini para ahli belum mencapai kata sepakat mengenai metode MPASI terbaik, namun tidak dapat diingkari bahwa bayi BLW berisiko mendapatkan asupan mikronutrien yang tidak optimal, memiliki risiko tersedak dan berisiko untuk gagal tumbuh akibat asupan nutrisi yang kurang seimbang. Akhirnya terlepas dari metode apapun yang dipilih seorang ibu, MPASI harus aman bagi anak, memberikan kandungan gizi yang seimbang sehingga menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Daftar Pustaka

  1. co. Andien terapkan BLW ini penjelasan dokter tentang risikonya. [article on internet]. Diakses pada 17 Oktober 2017. Diunduh dari: https://gaya.tempo.co/read/900842/andien-terapkan-blw-ini-penjelasan-dokter-tentang-risikonya.
  2. Rapley G, Murkett T. Baby-led weaning: helping your baby love good food. London: Vermillion; 2008.
  3. World Health Organization. Guiding principles of complementary feeding of the breastfed child. Geneva: World Health Organization; 2005.
  4. World Health Organization. Guiding principles of complementary for feeding non-breastfed children 6-24 months of age. Geneva: World Health Organization; 2005.
  5. Morison BJ, Taylor RW, Haszard JJ et al. How different are baby-led weaning and conventional complementary feeding? A cross-sectional study of infants aged 6 – 8 months. BMJ Open. 2016; 6: e010665.
  6. Halterman JS, Kaczorowski JM, Aligne A, Auinger P, Szilagyi P. Iron deficiency and cognitive achievement among school-aged children and adolescents in United States. Pediatrics. 2001;107(6): 1381-86.
  7. Brown A, Jones Sw, Rowan H. Baby-led weaning: the evidence to date. Curr Nutr Rep. 2017; 6: 148-56.

 

Patricia Lukas Goentoro is a young medical doctor graduate and passionate researcher. She finished her medical doctor degree in Universitas Indonesia. She also obtained masters of research in Stem cells and regenerative medicine from Newcastle University. She currently works as the assistant of Indonesian Paediatrician Association Task Force.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr