Diam-diam, penyalahgunaan narkoba atau drug abuse meningkat setiap tahunnya. Masyarakat tidak sadar akan bahaya yang mengintai dibalik penggunaan obat-obatan terlarang ini.

Banner

Pada tahun 1987, masyarakat dunia dihebohkan dengan terungkapnya kasus perdagangan opium Lin Zexu di Humen, Guangdong. Untuk meningkatkan kewaspadaan dan animo masyarakat melawan penyalahgunaan obat-obatan atau drug abuse, sejak tahun 1987, tanggal 26 Juni diperingati sebagai Hari Anti Narkoba Internasional atau International Day Againts Drug and Illicit Trafficking.

Narkoba digunakan untuk narkotika, psikotropika, dan zat berbahaya lainnya. Di Indonesia, istilah ini sering tumpang tindih dengan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif).

Sejauh ini belum ada data yang akurat menggambarkan penggunaan narkoba di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan POLRI, penggunan narkotika terus bertambah, sedangkan penggunaan psikotropika dan bahan adiktif lainnya fluktuatif. Berdasarkan data BNN, pengguna narkotika sejumlah 19.081 dan dipercaya hal ini hanyalah fenomena gunung es. Artinya, ada banyak kasus yang belum terdeteksi.

Pengedar narkoba menargetkan masyarakat usia produktif. Berumur 30-34 tahun, laki-laki, pendidikan terakhir SLTA, dan bekerja sebagai karyawan swasta merupakan kelompok yang paling banyak menyalahgunaan narkoba. Kalimat “Kalo loe gak pake narkoba, loe ga gaul!” kerap digaungkan untuk menarik minat target pasar. Konsumsi narkoba diperburuk dengan gaya hidup individualistis, bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain.

Penyalahgunaan narkoba banyak menimbulkan dampak negatif. Penggunaan narkoba yang marak pada kelompok usia produktif meningkatkan beban negara. Kelompok yang seharusnya membangun negara justru menambah beban biaya kesehatan negara. Selain itu, pengguna menjadi tidak produktif bekerja,berujung pada pengangguran.

Awalnya gratis, akhirnya menangis.

Masa anak-anak merupakan periode yang kondusif untuk berkembang dan menemukan potensi diri. Di masa ini pula anak-anak rentan dipengaruhi kebiasaan buruk, termasuk penyalahgunan narkoba. Tahun 2018, dalam memperingati Hari Anti Narkoba Internasional, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menetapkan tema “Listen First – Listening to children and youth is the first step to help them grow healthy and safe”.

Listen First

Kamu bisa berpartisipasi mencegah penyalahgunaan narkoba dengan melakukan langkah-langkah berikut.

#1 – Meluangkan waktu untuk memfokuskan perhatian kepada anak

#2 – Memuji anak untuk hal yang dilakukannya dengan baik meskipun hal tersebut hanyalah hal kecil

#3 – Membuat peraturan yang jelas dan tetap tenang ketika anak melanggar peraturan

#3 - How to

#4 – Tetap mengawasi anak, terutama terkait di mana, berapa lama, bersama siapa, dan melakukan apa ketika anak bermain

#5 – Bila kamu petugas kesehatan, deteksi sedini mungkin penyalahgunaan narkoba pada anak

#6 – Ikut menyebarluaskan informasi gaya hidup sehat untuk menutup pintu-pintu masuk yang menggoda masyarakat mencoba narkoba

#4 - How to

Tanpa komitmen masyarakat bersama tentu dunia yang bebas penyalahgunaan narkoba hanyalah angan belaka. Yuk, kita ciptakan generasi emas bebas narkoba!

#5 - Preface

 

Referensi:

  1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Infodatin: Situasi dan analisis penyalahgunaan narkoba. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014
  2. UNODC. Facts for policy makers [internet]. 2018 [cited 2018 June 30]. Available from: https://www.unodc.org/listenfirst/en/policy-makers/policy-makers-en.html
  3. UNODC. Facts for parents [internet]. 2018 [cited 2018 June 30]. Available from: https://www.unodc.org/listenfirst/en/parents/parents.html
  4. UNODC. Facts for health workers [internet]. 2018 [cited 2018 June 30]. Available from: https://www.unodc.org/listenfirst/en/health-workers/health-workers.html
Dewi Anggraeni
Desk Produksi
Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr