(C) news.com.au

(C) news.com.au

Pada akhir tahun 2016, Oxford Dictionaries, penerbit kamus yang terkemuka asal Inggris, menerbitkan hasil  deliberasi mereka untuk kata paling mengena pada tahun tersebut. Kata yang akhirnya terpilih adalah “post-truth”, paska-kebenaran. Terkait dengan kejadian-kejadian besar yang terjadi tahun kemarin, seperti hengkangnya Britania Raya dari Uni Eropa, ataupun terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, melawan segala ekspektasi, kata ini tentu telah menjadi sangat populer. Apa imbas dari sifat yang makin terlihat ini bagi pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan?

Lingkungan sekitar kita, baik di dunia nasional, maupun internasional, cetak maupun maya, mencerminkan sebuah kenyataan yang semakin terlihat. Kebenaran dan kejujuran, dua nilai yang seharusnya dijunjung tinggi semua insan, sudah mulai ditinggalkan, bahkan, dianggap klise. Masyarakat ingin mendengar dari media apa yang ingin mereka dengarkan. Simpelnya, kebenaran sudah mati.

Salah satu konsekuensi dari hal ini yang paling fatal, dapat dibilang, terdapat di bidang kesehatan. Hal ini tentu karena nyawa manusia secara langsung terpengaruh, dan hasilnya dapat mematikan. Contoh kasus dari penyelewengan masif ini terjadi ketika salah satu akun resmi Line yang berkaitan dengan dunia universitas meneruskan sebuah berita palsu bahwa kanker bisa dicegah cukup dengan pemberian substansi vitamin B17.

Tulisan-tulisan semacam ini, yang menyatakan bahwa para profesional kesehatan telah berbohong kepada masyarakat dimotivasi alasan finansial, memang sudah menjamur sejak awal mula keberadaan Internet. Keberadaan media sosial, baik dalam lingkup pribadi hingga masyarakat, juga mempermudah penyebaran berita-berita semacam ini. Akibatnya pada masyarakat juga bukan hanya ketidakpercayaan pada fakta dan pengetahuan ilmiah, namun juga kebencian bagi para ilmuwan dan klinisi yang pengetahuannya ditentang dan pada jidatnya dicap “mata duitan, perusak keluarga” oleh berita tersebut.

Sebagai manusia, khalayak ramai tentu ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Seorang sanak keluarga dari seorang pasien penderita kanker stadium empat tentu akan berbahagia untuk mendengar bahwa penyakit seorang saudaranya cukup disembuhkan dengan buah aprikot. Namun, sebuah hal yang patut disayangkan adalah bahwa kebenaran itu tidak nisbi. Dan para pasienlah, dengan pengharapan mereka yang palsu yang paling dirugikan, setelah mencoba intervensi yang dianjurkan tersebut namun tidak mendapatkan hasil yang dijanjikan. (baca artikel-artikel mengenai keabsahan berita “Kanker Bukan Penyakit tapi Bisnis Miliaran Rupiah” pada tautan berikut: Epigenetik, Hoax, Vitamin B17, Kanker)

Pada akhirnya, sepertinya mahasiswa dan praktisi medis di Indonesia patut berkaca dari insiden ini. Apakah kita telah menerapkan kaidah-kaidah etis dan profesional dalam berkomunikasi dengan pasien? Mengapa kita sangat sering digambarkan sebagai para vampir haus uang? Mungkin kita dapat menemukan bahwa diri kita kurang mendengarkan keluhan para pasien, dan kurang mencerminkan standar praktik yang sebaik-baiknya.

Para penyebar berita palsu juga sebaiknya diwanti-wanti untuk menghentikan aksinya ini. Penyebaran berita palsu dan kebebalan terhadap fakta, selain menciptakan suatu masyarakat yang tidak tahu-menahu mengenai kesehatan, juga dapat, dalam jangka pendek maupun panjang, mencelakakan nyawa orang lain. Pemerintah harus merunut dan menindak tegas perkara ini agar menimbulkan efek jera bagi para pelakunya.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr