Teh hijau

Manfaat teh hijau (green tea) sudah banyak didengar oleh masyarakat. Namun, apakah manfaatnya terbukti dan semua orang dapat menikmatinya?

Pada zaman ini, bahan-bahan herbal memiliki pamornya sendiri yang tidak kalah dari obat-obatan kimia. Menurut sebagian orang, bahan-bahan herbal diyakini lebih sehat dalam membantu menjaga tubuh tetap sehat. Salah satunya adalah teh hijau yang kini populer di seluruh dunia dan dikonsumsi terutama oleh kaum wanita. Teh hijau biasa menjadi minuman suguhan dalam berbagai acara, ketika bersantai, dan bahkan berada di tempat tersendiri dalam budaya Jepang seperti upacara minum teh. Kandungan teh hijau yang beragam diyakini memiliki banyak efek untuk tubuh. Namun, apakah teh hijau benar-benar baik untuk semua orang?

Teh diolah dari daun Camellia sinensis menjadi berbagai macam jenis. Teh dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan daun yang dipetik dan cara pemrosesannya, yaitu teh hitam, teh hijau, dan teh oolong. Untuk teh hijau, bahan yang digunakan adalah daun muda segar tanpa melalui fermentasi. Oleh karena itu, pemrosesan dilakukan dengan cara dikukus atau pan firing untuk mencegah terjadinya fermentasi oleh aktivitas enzim alami. Teh hijau mengandung kafein dan polifenol yang utamanya flavonol atau disebut juga katekin. Terdapat tiga jenis katekin yang ditemukan dalam teh hijau yaitu epikatekin, epigallokatekin, dan epigallocatechin-3-gallate (EGCG).

Teh hijau dikenal dengan manfaatnya sebagai antioksidan. Antioksidan berperan dalam melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas seperti superoksida, radikal hidroksil, dan radikal peroksil. Katekin disebut dapat membantu melindungi dengan vitamin antioksidan (vitamin C dan vitamin E) dan enzim (katalase dan superoksida dismutase). Antioksidan bekerja melawan radikal bebas dengan cara menetralkannya melalui transfer atom atau transfer elektron.

Manfaat lain dari teh hijau yang terkenal adalah sebagai antikarsinogenik. Sebuah penelitian dilakukan pada populasi di Shanghai mengenai keterkaitan teh hijau dengan kanker pankreas. Hasilnya, terdapat penurunan risiko kanker payudara sebesar 32% pada wanita yang mengonsumsi teh hijau secara rutin. Penelitian lain pada populasi yang sama juga mengatakan bahwa petumbuhan kanker sistem pencernaan menurun sebanyak 21%. Menurut penelitian pada tahun 2015, menurunnya risiko kanker dikarenakan kandungan EGCG dalam teh hijau yang menekan ekspresi enzim LDHA oleh sel kanker.

Teh hijau juga dikatakan dapat menurunkan berat badan. Kandungan EGCG memiliki efek antiobesitas dan antidiabetik. Mekanisme yang dipengaruhi dapat melalui modulasi keseimbangan energi, asupan makanan, sistem endokrin, metabolisme lemak dan karbohidrat, dan status redoks. Studi menunjukkan teh hijau menurunkan penyerapan energi dan peningkatan oksidasi lemak tubuh sehingga dapat menurunkan berat tubuh. Peningkatan oksidasi lemak disebabkan oleh pengaruh enzim intraselular catechol-O-methyltransferase (COMT) yang berfungsi untuk mendegradasi katekol. EGCG secara langsung menginhibisi COMT sehingga konsentrasi katekolamin lebih besar dalam sirkulasi. Hal ini kemudian menstimulasi lipolisis dan berpotensi meningkatkan oksidasi lemak.

Walaupun memiliki manfaat yang banyak, teh hijau juga tetap harus diwaspadai penggunaannya. Terlalu banyak mengkonsumsi teh hijau dapat memberikan efek negatif melalui kandungan kafein, aluminium, atau polifenol. Teh hijau sebaiknya tidak dikonsumsi oleh penderita penyakit kardiovaskular. EGCG dari teh hijau bersifat sitotoksik yang dalam jumlah besar dapat merusak sel hati. Kandungan aluminium yang tersimpan dalam teh apabila dikonsumsi oleh penderita gagal ginjal dapat menyebabkan penyakit saraf. Katekin memiliki afinitas dengan besi sehingga dapat memengaruhi penururunan bioavailabilitas besi pada makanan. Selain itu, penderita penyakit autoimun yang dominan sel imun Th2 sebaiknya tidak mengonsumsi teh hijau. Hal ini dikarenakan kandungan teh hijau, yaitu EGCG, menekan Th1 pada sistem imun dan membuat Th2 lebih dominan. Jika Th2 lebih banyak, maka dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih parah.

Teh hijau memang memiliki banyak manfaat, tetapi bukan berarti tidak memiliki efek buruk.  Pengetahuan akan baik dan buruknya sesuatu membuat kita dapat lebih bijak dalam menggunakannya. Tidak ada salahnya untuk mengetahui efek lainnya terhadap tubuh sendiri untuk menjamin kita tetap aman.

Referensi

  1. Khan N, Mukhtar H. Tea and health: studies in humans. Curr Pharm Des [Internet]. 2013 [cited 2018 Jul 4];19(34):6141–7. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23448443
  2. Peluso I, Serafini M. Antioxidants from black and green tea: from dietary modulation of oxidative stress to pharmacological mechanisms. Br J Pharmacol. 2017;174(11):1195–208.
  3. Chacko SM, Thambi PT, Kuttan R, Nishigaki I. Beneficial effects of green tea: a literature review. Chin Med [Internet]. 2010 Apr 6 [cited 2018 Jul 4];5:13. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20370896
  4. Lorenzo JM, Munekata PES. Phenolic compounds of green tea: Health benefits and technological application in food. Asian Pac J Trop Biomed [Internet]. 2016 Aug 1 [cited 2018 Jul 4];6(8):709–19. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2221169116300272
  5. Lu Q-Y, Zhang L, Yee JK, Go V-LW, Lee W-N. Metabolic Consequences of LDHA inhibition by Epigallocatechin Gallate and Oxamate in MIA PaCa-2 Pancreatic Cancer Cells. Metabolomics [Internet]. 2015 Feb [cited 2018 Jul 4];11(1):71–80. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26246802
  6. Hodgson AB, Randell RK, Jeukendrup AE. The effect of green tea extract on fat oxidation at rest and during exercise: evidence of efficacy and proposed mechanisms. Adv Nutr [Internet]. 2013 Mar 1 [cited 2018 Jul 4];4(2):129–40. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23493529
  7. Wu D, Wang J, Pae M, Meydani SN. Green tea EGCG, T cells, and T cell-mediated autoimmune diseases. Mol Aspects Med [Internet]. 2012 Feb 1 [cited 2018 Jul 4];33(1):107–18. Available from: https://remote-lib.ui.ac.id:2053/science/article/pii/S0098299711000458

 

FKUI 2017
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr