Santer dibicarakan bahwa kanker tidaklah sulit diobati, tetapi dimanfaatkan oleh perusahaan farmasi dan dokter untuk meraup keuntungan. Apakah benar?

Seperti yang dilansir oleh newsrescue.com pada 23 September 2016 dan semakin ramai dibicarakan di media sosial pada awal Januari 2017 ini, kanker dikatakan hanya sebuah penyakit biasa yang sebenarnya dapat diobati dengan Vitamin B17. Pengobatan kanker sengaja ditutup-tutupi dan dilarang oleh USA agar dokter dan perusahaan farmasi meraup keuntungan dari kemoterapi. Perang dunia ke-2 yang menelan dana besar diduga menjadi penyebab bisnis obat-obatan ini dimulai. Bukan konspirasi, melainkan epigenetik jawabannya. Mari sedikit mengenal epigenetik dalam kanker!

Epigenetik adalah perubahan gen manusia yang terjadi bukan karena perubahan pada susunan DNA, melainkan pada struktur kromosomnya (tempat sekumpulan DNA), sehingga gen yang pada dasarnya normal justru muncul menjadi tidak normal. Secara sederhana, mobil yang rusak tidak hanya karena ada kerusakan dalam komponen mesin (gen), tetapi bisa juga karena ada air yang masuk atau oli yang tidak baik. Air dan oli itulah yang dikenal sebagai epigenetik!

Proses terjadinya kanker (karsinogenesis) diawali dari perubahan gen sehingga sel membelah tanpa henti dan menjadi tidak terkontrol. Seharusnya, ada beberapa gen yang bisa menahan sel dalam pembelahannya, namun gen ini tidak muncul (tertahan epigenetik misalnya) sehingga sel membelah secara liar. Pada dasarnya, tubuh manusia memiliki kemampuan untuk menjaga diri dari proses karsinogenesis ini.

Epigenetik layaknya writer, eraser, dan readers gen kita. Sumber gambar: http://www.nyas.org/image.axd?id=5bb314f6-8a25-4436-840b-627c6c1e7aec&t=636026440987330000

Dalam dunia kedokteran, epigenetik telah menjadi terobosan dalam mengobati kanker sejak beberapa dekade terakhir, mulai dari asal usul terjadinya kanker hingga berbagai pengobatannya.

Beberapa proses dalam epigenetik yang menyebabkan terjadinya kanker adalah gangguan metilasi DNA, modifikasi histon, dan remodeling nukleosom. Jangan khawatir bila Anda kurang mengerti hal tersebut karena memang ahli genetika yang memahaminya. Namun, hal ini menunjukkan bahwa jelas sekali faktor lingkungan memengaruhi terjadinya kanker dari berbagai mekanisme.

Data WHO menunjukkan kanker lebih banyak ditemui pada negara maju

Dalam epigenetik, lingkungan merupakan faktor yang menyebabkan kanker, seperti merokok (kanker paru), alkohol dan makanan cepat saji (kanker hati), seks bebas (kanker serviks), terlalu banyak daging merah dan makanan rendah serat (kanker saluran cerna), radiasi (leukemia) dan banyak lagi.

Mari kita lihat beberapa contoh secara ilmiah. Penurunan metilasi (hipometilasi) pada rantai DNA dapat terjadi karena konsumsi alkohol yang menurunkan kadar metionin (sebuah protein) tubuh, padahal metionin ini berfungsi dalam metilasi beberapa gen, alhasil terjadilah kanker hati. Beberapa contoh hipometilasi lainnya adalah paparan cadmium berlebih pada leukemia, serta virus HPV pada kanker serviks.

Kanker paru menurun seiring menurunnya angka perokok. Sayangnya perokok wanita masih tinggi, ditambah usia harapan hidup yang semakin tinggi, sehingga angka kejadian kankernya masih sulit diturunkan. Sumber gambar: http://scienceblog.cancerresearchuk.org/2015/02/04/why-are-cancer-rates-increasing/

 

Namun, satu penjelasan utama yang berhasil disimpulkan dari epigenetik adalah masalah usia. Ya, usia menjadi faktor penting dalam terjadinya kanker! Mengapa? Saat kita sudah berusia tua, gen kita sudah terpapar banyak zat yang dapat merusak dan sistem pertahanan gen lama kelamaan pun akan semakin menurun kemampuannya (layaknya diabetes yang timbul karena kelelahan pada kondisi gula darah tinggi). Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa risiko menderita kanker meningkat dari 38,5% pada penduduk yang lahir tahun 1930 menjadi 53,5% pada penduduk yang lahir setelah tahun 1960. Bagaimana dengan kita yang lahir pada era 1980 dan 1990an ini ya?

Usia harapan hidup masyarakat dunia yang semakin meningkat (Data WHO)

Lantas apa hubungan epigenetik dengan perang dunia ke-2? Sejak perang dunia selesai, dunia berbenah, masyarakat semakin makmur, dan usia harapan hidup meningkat jauh. Namun, gaya hidup menjadi tidak baik, jutaan pabrik dibangun, makana cepat saji bertebaran dimana-mana, radiasi akibat kemjuan teknologi semakin meningkat, rokok dan alkohol pun kini menjadi konsumsi harian. Namun, berkembangnya ilmu pengetahuan pula yang menjadi alasan mengapa obat kanker semakin cepat berkembang. Jangan salah, tingkat kesintasan (survival rate) pengobatan leukemia saja sudah diatas 90% loh sejak perkembangan epigenetik!

Epigenetik mampu menjelaskan mengapa kanker diturunkan pada satu keluarga dan tidak diturunkan pada keluarga lainnya, mengapa kanker muncul secara tiba-tiba, dan mengapa kanker lebih banyak ditemukan pada orang dewasa, khususnya mereka yang memiliki paparan faktor risiko tinggi. Sebagai masyarakat cerdas, mari berusaha mencerna setiap informasi dengan baik dan bertanya pada ahlinya, serta selalu dukung ilmuwan untuk bisa menemukan pengobatan kanker yang efektif dan terjangkau!

 

Sumber dan bahan bacaan lanjutan:

  1. Dawson MA, Kouzarides T. Cancer epigenetics: from mechanism to therapy. Cell. 2012. 150: 12-27.
  2. Ahmad AS, Smith NO, Sasieni PD. Trens in the lifetime risk of developing cancer in great Britain: comparison of risk fof those born from 1930 to 1960. British Journal of Cancer. 2015. 112:943-7.
  3. Feinberg AP, Tycko B. The history of cancer epigenetics. Nature reviews Cancer. 2004. 4: 143-53.
  4. Reis AHO, Vargas FR, Lemos B. Biomarkers of genome instability and cancer epigenetics. Tumor Biol. 2016.37:13029.
  5. Campbell RM, Tummino PJ. Cancer epigenetics  drug discovery and development: the challenge of hitting the mark. J CLin Invest. 2014; 124(1):64-9.
Pemimpin Umum Media Aesculapius 2016
Direksi Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr