dancers

Sumber gambar : www.ginasthma.org/wp-content/uploads2016/03/dancers.jpg

Asma telah memperberat hidup jutaan penderitanya di dunia. Namun, kesadaran masyarakat global akan penyakit pernapasan ini masih rendah. Mampukah Hari Asma Sedunia membantu menyadarkan mereka?

Asma merupakan penyakit kronis pada sistem pernapasan yang saat ini diderita oleh sekitar 235 juta orang. Penyakit ini bukan penyakit menular, melainkan sebuah penyakit yang diakibatkan oleh proses alergi di saluran napas. Penderita asma mengalami batuk, sesak, dan suara napas mengi, serta dapat muncul banyak gejala yang memburuk secara tiba-tiba, atau disebut juga serangan asma. Serangan ini berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Sayangnya, belum ditemukan pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Kabar baiknya, serangan asma dapat dikontrol dan dicegah, terutama dengan adanya kesadaran masyarakat tentang asma.

Pada 1 Mei 2018, telah diadakan hari besar kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat seluruh dunia akan gejala dan penanganan dini asma. Tanggal tersebut dirayakan sebagai Hari Asma Sedunia (World Asthma Day) ke-20. Acara berskala dunia ini diadakan oleh Global Initiative for Asthma (GINA), sebuah organisasi kesehatan yang bekerja sama dengan WHO. Hari Asma Sedunia telah dirayakan setiap Selasa pertama di bulan Mei sejak tahun 1998.

Pada tahun ini, tema Hari Asma Sedunia yang diusung adalah “never too early, never too late”. Slogan ini bermaksud meyakinkan masyarakat bahwa tidak ada kata terlalu awal atau sudah terlambat dalam penanganan asma. Meskipun asma menyerang berbagai orang dari berbagai umur dengan  berbagai tingkat keparahan, penanganan asma yang tepat mampu meringankan penderitaan akibat penyakit ini.

Hari Asma Sedunia dirayakan dengan mengadakan kampanye edukasi gejala, bantuan kesehatan, dan panel diskusi pengetahuan terkini mengenai asma. Semua kegiatan ini diharapkan dapat melawan ketidaktahuan publik, karena persepsi keliru publik dinilai masih tinggi. Buktinya, dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa hanya 3% orang tua anak penderita asma di India mengerti bahwa penyakit ini disebabkan oleh proses alergi, sementara 26% masih menganggapnya penyakit menular.

Pada akhirnya, Hari Asma Sedunia mengingatkan bahwa gejala asma tidak seharusnya mempersulit kehidupan sehari-hari penderita maupun keluarganya. Tidak ada kata terlambat bagi penderita asma mana pun untuk menjalani kehidupan yang normal.

 

REFERENSI

  1. Global Initiative for Asthma. World Asthma Day Press Release.[Internet] Global Initiative for Asthma; 2018[cited 12 May 2018 13:26]. Available from : www.ginasma.org/WAD
  2. Broaddus VC, Mason RC, Ernst JD, King TE, Lazarus SC, Murray JF, Nadel JA, Slutsky A, Gotway M. Murray & Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine. Elsevier Health Sciences; 2015. p. 731-4
  3. Shivbalan S, Balasubramanian S, Anandnathan K. What do parents of asthmatic children know about asthma? An Indian perspective. Indian J Chest Dis Allied Sci. 2005;47(2). p. 81-7

 

 

Kania Indriani
FKUI 2016
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr