Belum genap sebulan kita merayakan Hari Kesehatan Nasional dengan seluruh acara dan semaraknya.  Lantas, timbul sebuah pertanyaan: sudahkah kesehatan itu terwujud?

 

health-(7)

Sumber: Telegraph India

Indonesia merupakan negara yang besar dengan lebih dari 250 juta penduduk. Dengan demikian, Indonesia juga memiliki tantangan yang besar dalam mewujudkan kesehatan. Data World Health Organization menunjukkan 3 penduduk Indonesia meregang nyawa setiap menitnya. Lantas, apa yang masih menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia? Penyakit stroke, hipertensi, diabetes, dan jantung koroner masih menjadi penyebab utama pada orang dewasa. Sementara itu, diare menjadi kontributor utama pada anak-anak. Penyakit-penyakit tersebut sebetulnya bisa dicegah. Oleh karena itu, pemerintah sudah meluncurkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Berikut adalah beberapa kiat hidup sehat sesuai GERMAS yang berguna untuk meningkatkan kesehatan.

Hidup Bersih

Sanitasi dan kebersihan masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang mengakar di Indonesia. Bagaimana tidak, World Health Organization mencatatkan 27 juta penduduk Indonesia masih tidak memiliki akses yang cukup terhadap air bersih, sementara 51 juta tidak mempunyai sanitasi yang baik. Selain itu, lebih dari setengah penduduk Indonesia tidak memiliki kebiasaan cuci tangan dan mandi yang teratur. Tentunya kebiasaan ini akan meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti diare, kolera, tifus, hepatitis infektif, polio, hingga cacingan. Oleh karena itu, sesuai dengan GERMAS, kebiasaan menjaga kebersihan diri, cuci tangan, buang air besar di jamban, hingga konsumsi air bersih perlu ditingkatkan guna mencegah penyakit menular.

Aktivitas Fisik

Sifat sedenter atau ‘mager’ merupakan salah satu kebiasaan sebagian besar orang. Padahal, sifat sedenter adalah biang munculnya penyakit seperti penyakit jantung koroner, diabetes, hingga kanker. Bahkan, suatu studi menunjukkan bahwa sifat sedenter mengakibatkan kematian lebih besar daripada kebiasaan merokok. Manusia sedenter dapat didefinisikan sebagai manusia yang melangkah tidak lebih dari 5.000 langkah dalam sehari. Padahal, melangkah lebih dari itu dapat menurunkan risiko nyeri sendi dan artritis. Bahkan, lebih dari 10.000 langkah sehari dapat menurunkan tekanan darah dan risiko diabetes atau gangguan metabolik lain. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak melakukan aktivitas fisik sebab terdapat segudang manfaat di baliknya. Aktivitas fisik tidak harus dilakukan sembari berolahraga, tetapi bisa di tengah-tengah kesibukan seperti menggunakan tangga, berjalan di daerah kantor, hingga pergi-pulang menggunakan kendaraan umum, berjalan, atau bersepeda.

Makanan Sehat

Meskipun dilabeli sebagai negara agraris, rakyat Indonesia masih kekurangan konsumsi buah dan sayur. Bahkan, rakyat Indonesia lebih gemar mengonsumsi makanan cepat saji yang meningkatkan risiko penyakit jantung, hati, stroke, dan diabetes. Padahal, konsumsi buah dan sayur erat dikaitkan dengan penurunan risiko terkena penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan beberapa tipe kanker. Selain itu, konsumsi buah dan sayur apabila dibarengi dengan diet rendah lemak, rendah gula, rendah garam, dan tinggi serat dapat mencegah kenaikan berat badan serta obesitas. Buah dan sayur merupakan sumber sterol, flavonoid, dan antioksidan, zat-zat yang dapat mempertahankan fungsi dan kesehatan tubuh.

Kebiasaan hidup di atas apabila dibarengi dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya seperti pemeriksaan rutin ke pusat kesehatan, pembersihan lingkungan berkala, penghindaran terhadap konsumsi alkohol dan rokok akan meningkatkan taraf hidup serta kesehatan sehingga menurunkan kejadian penyakit dan kematian.

Melalui GERMAS, pemerintah sudah mencoba memfasilitasi dengan berbagai pengadaan bantuan seperti program infrastruktur berbasis masyarakat, program keamanan pangan, hingga edukasi. Pekerjaan kita sebagai masyarakat hanya mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi agen perubahan bagi orang lain yang belum mengetahuinya. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita siap hidup sehat dan menularkannya pada orang lain?

 

 

 

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. GERMAS wujudkan Indonesia sehat [Internet]. 2016 November 15 [Cited 2018 March 23]. Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16111500002/germas-wujudkan-indonesia-sehat.html
  2. World Health Organization. Indonesia: WHO statistical profile [Internet]. 2015 [Cited 2018 March 23]. Available from: http://www.who.int/gho/countries/idn.pdf?ua=1
  3. Water Organization. Indonesia’s water and sanitation crisis [Internet]. 2015 [Cited 2018 March 23]. Available from: https://water.org/our-impact/indonesia/
  4. Nurlali IA. National and global strategy to reduction a 10% relative in prevalence of insufficient physical activity. 2016 [Cited 2018 March 23]: World Health Organization. Available from: http://www.searo.who.int/entity/noncommunicable_diseases/events/ncd_twg-bangkok_physical_inactivity.pdf?ua=1
  5. World Health Organization. Increasing fruit and vegetable consumption to reduce the risk of noncommunicable diseases [Internet]. 2018 February 21 [Cited 2018 March 23]. Available from: http://www.who.int/elena/titles/fruit_vegetables_ncds/en/
Jeremy Rafael Tandaju
Faculty of Medicine Universitas Indonesia
Cipto Mangunkusumo National General Hospital
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr