Apakah anda pernah mendengar mengenai bakteri Streptoccocus? Bakteri ini sudah banyak didengar di masyarakat awam, tetapi bagaimana dengan infeksi Streptococcus Grup B atau SGB? Infeksi ini memang sangat jarang didengar di kalangan masyarakat kita, namun dampak yang ditimbulkan tidak bisa dipandang sebelah mata, khususnya bagi bayi baru lahir atau neonatus.

Bayi baru lahir rentan terhadap infeksi Streptokokus Grup B (Sumber: 30Seconds)

Bayi baru lahir rentan terhadap infeksi Streptokokus Grup B (Sumber: 30Seconds)

Apa itu SGB?

SGB terjadi khususnya akibat bakteri Streptococcus agalctiae. Infeksi ini adalah salah satu infeksi yang sering terjadi pada wanita hamil namun tidak menimbulkan masalah klinis. Infeksi ini juga jarang ditemukan pada kasus orang dewasa sehingga cukup jarang terdengar. Tetapi, SGB dapat menjadi sangat berbahaya apabila infeksi ini dialami oleh bayi. Streptokokus grup B sendiri sebenarnya merupakan penghuni atau flora normal (mikroorganisme yang secara normal berada di suatu tempat tertentu) di lapisan mukosa atau pembungkus pada saluran cerna dan saluran reproduksi wanita, termasuk vagina dengan tingkat pembawaan (carriage) sekitar 15-45%. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya SGB tidak menimbulkan bahaya karena dapat terbilang wajar apabila seseorang terdeteksi memiliki koloni bakteri tersebut. Namun, bakteri ini dapat menyerang bayi baru lahir saat proses persalinan melalui kontak kulit bayi dengan vagina selama proses tersebut.

Bahaya SGB pada bayi baru lahir

Bakteri streptokokus grup B dapat disebarkan menuju bayi pada sekitar 50% kelahiran dari ibu yang membawa bakteri tersebut, namun hanya 1-2% yang menyebabkan infeksi yang membahayakan. Meskipun begitu, tingkat kejadian di Indonesia masih sangat tinggi di dunia. Data WHO menyebutkan bahwa jumlah wanita hamil dengan SGB di Indonesia mencapai angka 799,100 dan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Infeksi SGB memiliki banyak dampak yang membahayakan seperti terjadinya sepsis (infeksi bakteri yang menyebar pada aliran darah sehingga menyebabkan gejala secara luas) pada bayi baru lahir yang dapat berujung pada kematian. Selain itu, pada fase lanjutan, anak pun dapat mengalami komplikasi atau penyakit lanjutan lainnya, seperti pneumonia (infeksi jaringan paru-paru) dan meningitis (radang selaput otak). WHO mencatat bahwa SGB menyebabkan sekitar 150,000 kematian setiap tahunnya yang seharusnya dapat dicegah.

Apa yang harus kita lakukan?

Tes Streptokokus Grup B wajib dilakukan pada wanita hamil (Sumber: Medisave)

Tes Streptokokus Grup B wajib dilakukan pada wanita hamil (Sumber: Medisave)

Oleh sebab itu, SGB harus ditangani dengan langkah-langkah yang tepat. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah melakukan tes atau deteksi untuk mengetahui apakah seorang wanita hamil memiliki SGB atau tidak. Tes ini harus dilakukan pada minggu kehamilan ke-35 hingga 37 untuk mempersiapkan proses persalinan. Tes ini penting untuk menentukan bagaimana proses melahirkan akan dilakukan. Apabila tes memberikan hasil negatif (tidak ada SGB), maka proses persalinan dapat dilakukan secara normal tanpa persiapan khusus. Namun, apabila tes terbukti positif maka proses melahirkan harus dilakukan dengan bantuan antibiotik, yang digunakan melalui jalur intravena (IV) atau jalur infus. Apabila hal ini dilakukan dengan baik, maka penyebaran SGB pada bayi dapat dicegah. Selain itu, menjaga kesehatan pada wanita hamil juga harus menjadi fokus, khususnya kesehatan saluran reproduksi. Hal yang paling mudah mulai dari pola hidup sehat sesuai anjuran dokter dapat dilakukan dan juga dibantu dengan suplemensi atau tambahan seperti menggunakan probiotik menurut beberapa sumber. Hal ini dilakukan untuk menjaga komposisi bakteri yang ditemukan pada saluran cerna atau saluran reproduksi.

SGB adalah infeksi yang sangat berbahaya bagi bayi baru lahir. Komplikasi yang ditimbulkannya dapat berujung pada kematian bayi dan harus diwaspadai oleh setiap orang. Langkah terbaik yang harus dilakukan saat ini adalah langkah pencegahan dengan secara aktif menyadari pentingnya deteksi dini sebelum proses persalinan dilakukan. Langkah-langkah tersebut tentu dilakukan dengan harapan agar buah hati kita terbebas dari ancaman SGB.

Referensi
1. Woods, CJ. Group B streptococcus (GBS) infections overview: background [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2017 [cited 9 July 2018] Available from: https://edemidicine.medscape.com/article/229091-clinical#b4
2. Group B streptococcus infection causes an estimated 150,000 preventable stillbirths and infant deaths every year [Internet]. World Health Organization. 2017 [cited 9 July 2018]. Available from: https://www.who.int/immunization/newsroom/press/news_group_b_strep_stillbirths_infant_deaths_2017/en/
3. Verani JR, McGee L, Schrag SJ. Prevention of perinatal group B streptococcal disease: revised guidelines from CDC, 2010. MMWR CDC. 2010;59(RR10):1-32. Available from: https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5910a1.htm
4. Vitali B, Cruciani F, Brigidi P. Dietary supplementation with probiotics during late pregnancy: outcome on vaginal microbiota and cytokine secretion. BMC Microbiology. 2012;12:236.
5. Hayati Z. Infeksi streptokokus grup B (SGB) pada ibu hamil dan neonatus: diagnosis dan pencegahan. Jurnal Kedokteran YARSI. 2010;18(1):79-85.

FKUI Student Batch 2016
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr