SG-How-Do-I-Protect-My-Family-From-Foodborne-Illnesses-RM-722x406

 

Food-borne illness atau food poisoning adalah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh asupan dari makanan atau minuman yang mengandung agen infeksi atau substansi beracun. Setiap tahunnya, 300,000 manusia dirawat di rumah sakit dan sebanyak 5,000 manusia meninggal. Banyak dari kita tidak menyadari bahaya dari keracunan makanan yang disebabkan oleh isu keamanan pangan karena dampak dari keracunan makanan itu sendiri tidak secara jelas terlihat untuk beberapa kasus.

Isu keamanan pangan menjadi penting untuk dipertimbangkan karena dampaknya yang berbahaya. WHO pada tahun 2017 mengestimasi terdapat 600 juta orang di dunia (1 dari 10 orang) jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan terdapat 420 ribu orang yang meninggal tiap tahunnya. Balita juga memiliki risiko kesehatan yang besar akibat kontaminasi pangan. Tiap tahunnya, terdapat 40% balita yang menderita penyakit akibat keamanan pangan yang tidak terjaga dengan baik dan terdapat sekitar 125 ribu balita meninggal (WHO, 2017). Hal ini telah dibahas dalam The 2nd International Conference on Nutrition yang dilaksanakan oleh WHO dan UN Food and Agriculture Organization sebagai tantangan dalam membuat keberadan pangan yang aman, sehat, dan beragam.

Sampai sekarang ini, keamanan pangan masih kurang mendapatkan perhatian khusus. Penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tidak aman dapat disebabkan oleh infeksi akut akibat patogen atau paparan bahan kimia, yang sampai sekarang jarang sekali dilaporkan, sehingga tidak bisa ditentukan berapa populasi yang telah mengalami hal ini. Sekarang, pemaparan penyakit akibat ketidakamanan pangan diketahui telah menyebabkan kematian dalam banyak populasi mulai dari bayi sampai lansia tengah.

 

Apa saja faktor penyebab terjadinya food-borne illness?

Food-borne illness pada umumnya disebabkan oleh mikroorganisme atau racun yang dihasilkannya. Dua penyebab umum dari food-borne illness adalah konsumsi makanan yang terpapar mikroorganisme hidup, atau konsumsi makanan di mana terdapat racun yang dikeluarkan oleh mikroba.

Beberapa bakteri yang umum ditemukan dan menyebabkan keracunan makanan dan makanan yang biasa menjadi inangnya adalah: Campylobacter jejuni pada daging mentah dan matang, unggas, telur mentah, dan susu yang tidak dipasteurisasi; Salmonella yang terdapat pada telur mentah atau kurang matang, unggas, susu mentah dan produk susu, makanan laut, buah dan sayuran; Escherichia coli yang terdapat pada air tercemar, susu mentah, daging sapi mentah, sosis, jus apel atau sari apel yang tidak dipasteurisasi, buah dan sayuran mentah; Clostridium botulinum yang terdapat pada makanan dan minuman kaleng yang tidak dikemas dengan baik,  daging, sosis, ikan, bawang putih dalam minyak, Madu. Mikroorganisme yang dapat menyebabkan keracunan bukan hanya bakteri, namun juga virus, cacing, parasit, maupun jamur.

Beberapa mikroorganisme juga dapat mengeluarkan bahan kimia yang disebut toksin yang dapat menyebabkan penyakit kronis dan bahkan mengancam jiwa. Contohnya toksin yang diproduksi oleh bakteri Clostridium botulinum. Racun botulisme dapat menghambat transmisi saraf ke sel otot dan menyebabkan kelumpuhan. Racun ini biasnya terdapat pada makanan yang tidak dibungkus dengan benar, dan madu mentah. Selain itu, beberapa jamur menghasilkan bahan kimia beracun yang disebut mikotoksin. Racun ini biasanya ditemukan pada biji-bijian yang tersimpan di lingkungan lembab.

Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kerja mikroorganisme dalam mencemari makanan. Faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan reproduksi mikroorganisme makanan termasuk:

  1. Temperatur, banyak mikroorganisme yang mampu menyebabkan penyakit manusia berkembang pada suhu yang hangat, dari sekitar 4 ° C sampai 60 ° C.
  2. Kelembaban, banyak mikroorganisme yang membutuhkan tingkat kelembaban yang tinggi dlam menjaga kelangsungan hidupnya.
  3. Keasaman, setiap mikroorganisme memiliki tingkat keasaman optimal mereka masing-masing yang biasanya berbeda pada tiap organisme.
  4. Kandungan oksigen, banyak mikroorganisme yang memerlukan oksigen dalam menjaga kelangsungan hidupnya.

 

Apa saja dampak dari food-borne illness?

Dampak yang dirasakan dari food poisoning bisa dirasakan secara langsung dan tidak langsung. Beberapa jenis bakteri atau kuman penyebab penyakit dapat bereaksi secara cepat maupun dalam waktu lama, dan kemudian juga dapat dipengaruhi oleh sistem imunitas (respon) dari masing-masing individu. Dampak secara langsung yang diperoleh akibat keracunan makanan umumnya bereaksi secara cepat dan tidak lama, kemudian dapat ditangani dengan pengobatan sederhana.

Contoh dampak yang dirasakan secara langsung adalah seperti makanan yang sudah dimasak namun terkontaminasi oleh bakteri Staphylococcus aureus karena disajikan dengan tangan yang tidak bersih. Ditambah lagi, makanan dibiarkan di ruangan terbuka atau tidak diletakan dalam pendingin. Dalam kondisi tertentu, bakteri dapat dengan cepat bertumbuh dalam beberapa kondisi tertentu dan pemanasan makanan hanya akan mematikan bakterinya saja tetapi racun dari bakteri menetap. Akibat makanan terkontaminasi ini, reaksi dari tubuh manusia dapat berupa diare, mual, muntah, dan lainnya.

Dampak secara tidak langsung akibat food poisoning tidak dapat diprediksi dan sifatnya sangat membahayakan. Efek jangka panjang yang ditimbulkan merupakan hasil dari akumulasi zat beracun yang sedikit demi sedikit menggerogoti organ tubuh sampai akhirnya nanti akan membentuk kerusakan organ yang kompleks dan mengakibatkan penyakit komplikasi. Contoh beberapa kasus akibat tidak langsung dari food poisoning sebagai berikut :

  1. Gagal ginjal
    Hemolytic-uremic syndrome adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi sistem pencernaan yang merusak sel darah merah dan berakibat pada luka/trauma pada ginjal.HUS dapat terjadi akibat infeksi bakteri yang salah satunya E.coli.
  1. Arthtritis kronik
    Radang sendi bisa disebabkan oleh bakteri Shigella atau Salmonella. Juga pasien penderita Campylobacter bisa berkembang menuju arthtritis juga yang efeknya nampak setelah berbulan bulan sejak terpapar toksik dari bakteri.
  1. Kerusakan otak dan saraf
    Banyak sekali rubrik yang menyarankan ibu hamil untuk tidak mengonsumsi sushi dan makanan lain yang dikhawatirkan tidak matang. Hal ini disarankan, karena dalam bahan makanan yang kurang matang berisiko terdapat bakteri Listeria yang efek jangka panjangnya mengakibatkan retardasi mental, kebutaan, tuli, dan lumpuh.
  1. Kematian
    Di Amerika, sekitar 3000 orang meninggal setiap tahun karena penyakit yang disebabkan oleh keracunan makanan. 5 jenis organisme yang paling bertanggung jawab akan hal tersebut adalah Salmonella, Toxoplasma, Listeria, Norovirus, dan Campylobacter.

 

Bagaimana kita mencegah food-borne illness?

Selain dari sumber hewani, food-borne illness juga dapat berasal dari buah-buahan dan sayuran. Kita dapat mencegah food-borne illness baik dari hewani, buah-buahan ketika mempersiapkan makanan di rumah dengan berbagai cara berikut:

fight bac

  1. Bersihkan tangan dan dapur dengan sering.
    Cara ini merupakan salah satu cara termudah dan paling efektif dalam mecegah food-borne illness, yaitu dengan cara menggosok tangan setidaknya 20 detik dengan sabun dan air hangat mengalir, serta membersihkan dapur serta perlengkapannya menggunakan pembersih dapur.
  1. Pisahkan makanan-makanan untuk mencegah cross-contamination, yaitu penyebaran bakteri atau mikroba dari satu makanan ke makanan lainnya
  2. Dinginkan atau masukkan makanan ke dalam kulkas ato freezer untuk mencegah perkembangan mikroba atau bakteri.
    Kebanyakan bakteri yang menyebabkan food-borne illness berkembang pesat pada suhu 4,44°C atau diatasnya. Oleh karena itu, dengan menyimpan makanan di kulkas maupun freezer dapat mencegah hal tersebut.
  1. Masak makanan dengan suhu yang tepat.

 

Kesimpulan

Foodborne illness sekarang ini telah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dan harus dikhawatirkan serta ditangani secepatnya. Kesehatan masyarakat secara keseluruhan merupakan taruhannya apabila masalah ketidakamanan pangan ini tidak dapat diatasi secepatnya. Hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka kematian akibat ketidakamanan pangan adalah melalui tindakan preventif yang dapat dilakukan dengan mudah oleh masyarakat itu sendiri.

 

Referensi

Thompson, J. et al. 2010. Science of Nutrition. USA : The Benjamin Cummings.

WHO. 2017. Fact Sheet : Food Safety. [online]. Diakses pada 27 Oktober 2017. Tersedia di <http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs399/en/>

Pusdatin Kemenkes RI. 2015. Situasi Pangan Jajanan Anak Sekolah. [online]. Diakses pada 27 Oktober 2017. Tersedia di <http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-pjas.pdf>

Foodsafety.gov. (2017). Long-term Effects. FoodSafety.gov. [Online]. Available at : https://www.foodsafety.gov/posioning/effects/index.html [Accessed 28 October 2017].

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2014). Foodborne Illnesses. [online]. Tersedia di: https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/foodborne-illnesses [diakses pada 28 oktober 2017].

MedlinePlus. (2016). Diet- clear liquid. [online] Tersedia di: https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000205.htm [diakses pada 28 oktober 2017]

Menteri Kesehatan RI. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan. [online]. Tersedia di : http://jdih.pom.go.id/produk/peraturan%20menteri/Permenkes%20ttg%20BTP.pdf [diakses pada 29 Oktober 2017].

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr