Attachment

Orang tua pada hakikatnya ingin anaknya tumbuh dan berkembang secara optimal. Berbagai nutrisi pun diberikan kepada anak saat masih umur 0-3 tahun, terutama dari ASI. Namun, banyak orang tua yang tidak tahu bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh nutrisi saja, tetapi juga oleh stimulus dari lingkungan dan hubungan antara anak dan ibu.

Terdapat tiga kebutuhan dasar anak agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal, antara lain kebutuhan fisis-biologis (asuh), kasih sayang (asih), dan rangsangan dari lingkungan (asah). Kebutuhan fisis-biologis merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi guna melindungi anak dari hal-hal yang dapat mengganggu pertumbuhan fisik anak, yang mencakup nutrisi, pakaian, kebersihan, imunisasi, dan sebagainya. Kasih sayang dari orang tua menjadi kebutuhan primer anak karena anak yang mendapat kasih sayang akan merasa terlindungi dan dia mampu mengeksplor dunia secara optimal. Rangsangan dari lingkungan, baik rangsangan sensorik, motorik, maupun kognitif juga harus selalu diberikan agar anak tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang kreatif, mandiri, dan mempunyai daya pikir yang baik. Tentunya, tiga hal tersebut harus selalu didukung oleh peran orang tua sebagai pengasuh. Orang tua harus memiliki kelekatan yang sangat baik dengan anak, karena orang tua merupakan pengasuh terbaik dan anak akan belajar dari orang yang mempunyai hubungan terdekat dengannya.

John Bowlby, seorang psikolog dari Inggris, merupakan orang yang pertama kali mengemukakan istilah kelekatan (attachment) yang mengacu pada hubungan psikologis antar manusia yang memunculkan rasa aman dan percaya. Menurut Soetjiningsih, kelekatan merupakan kecenderungan seseorang untuk mencari hubungan yang dekat dengan orang lain dan menginginkan kepuasan dalam hubungan tersebut.1 Pada umumnya, kelekatan pada orang tua dan anak lebih mengacu pada kelekatan anak dan ibu, karena pada periode awal kehidupan anak, ibu umumnya merupakan pengasuh utama yang mampu memenuhi setiap kebutuhannya.

Mary Ainsworth mengemukakan bahwa hubungan kelekatan antara ibu dan anak terus berkembang secara signifikan, terutama pada fase kehidupan awal anak (saat masih bayi). Perkembangan kelekatan tersebut didasarkan pada pengalaman bayi dengan pengasuh. Sebagai contoh, hubungan kelekatan akan semakin kuat apabila ibu memberikan respon atas sinyal yang diberikan bayi dengan cepat dan tepat. Waktu yang krusial untuk membangun kelekatan adalah sejak konsepsi hingga saat anak berumur 26 bulan. Pada umumnya, kelekatan antara anak dengan orang tua akan terbentuk secara sempurna saat anak berumur 5 tahun dan sulit berkembang setelah umur 6 tahun.

Kelekatan antara ibu dan anak memberikan pengaruh yang besar terhadap diri anak kelak. Konsep ini dikemukakan oleh Bowlby, yang dinamakan internal working model. Istilah tersebut menjadi nama dari konsep ini karena konsep ini tersimpan dalam pikiran (internal), mengarahkan perilaku (working), dan juga menjadi cerminan dalam membina hubungan dengan orang lain (model). Anak yang memiliki kelekatan yang baik dengan ibunya akan memiliki rasa aman dan percaya tidak hanya kepada ibunya, tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya. Hasilnya, anak akan memiliki kompetensi sosial yang lebih tinggi daripada anak yang memiliki kelekatan yang kurang baik dengan ibunya. Parke dan Waters juga mengemukakan bahwa anak yang memiliki kelekatan yang baik juga lebih mampu membangun persahabatan yang harmonis dan lebih responsif. Sebaliknya, kelekatan yang tidak baik akan menyebabkan anak tidak memiliki rasa aman dan percaya terhadap pengasuh dan lingkungan sekitarnya, sehingga anak rentan mengalami masalah dalam membina hubungan sosial. Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa anak yang memiliki kelekatan buruk memiliki orang tua yang mengalami masalah serupa saat kecil.2 Kelekatan yang buruk antara anak dan orang tua saat masa-masa kehidupan awal anak akan menyebabkan anak menderita reactive attachment disorder yang akan dijelaskan kemudian.

Banyak cara dapat dilakukan untuk membangun kelekatan dengan anak, diantaranya adalah lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain dengan anak dan mempelajari ‘sandi’ yang biasa diberikan anak ketika membutuhkan sesuatu, terutama saat ia ingin makan dan tidur, karena setelah makan dan tidur, bayi akan memiliki lebih banyak energi untuk berinteraksi sehingga memberikan orang tua kesempatan untuk ‘melekatkan’ dirinya dengan sang anak. Selain itu, floor-time model yang dikemukakan oleh Greenspan (1997), juga memberikan cara-cara pengasuhan dini anak oleh orang tua, yang selain dapat membangun kelekatan, juga dapat membantu perkembangan kemampuan kognitif, afektif, dan melatih anak untuk berempati terhadap orang lain. Ada lima langkah untuk melakukan floor-time model, antara lain:

  1. Observation, yaitu memperhatikan gestur anak, ekspresi muka, dan nada bicara untuk menentukan bagaimana pendekatan yang tepat terhadap anak,
  2. Approach – open circle of communication, yaitu melakukan pendekatan terhadap anak dengan tepat sesuai dengan suasana hati anak,
  3. Follow the child’s lead, yaitu mengikuti alur bermain sang anak dengan menjadi ‘asisten’ sang anak yang suportif, membiarkan sang anak untuk mengarahkan permainan. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan kepercayaan diri sang anak dan anak menjadi asertif karena ia seolah-olah berpikir “saya dapat memberi dampak pada dunia”,
  4. Extend and expand play, yaitu memperluas lingkup permainan dengan memberikan pertanyaan yang dapat menstimulasi kreativitas anak. Misalnya saat anak menabrakkan mobil mainan, alih-alih sang orang tua bertanya “mengapa terjadi tabrakan?”, tanyalah “mobil tersebut memiliki energi yang sangat besar, apakah mereka ingin melaju ke suatu tempat?”
  5. Child closes the circle of communication, terjadi saat anak memperluas lingkup permainannya berdasarkan pertanyaan yang orang tua berikan pada tahap 4.

Seperti yang telah disebutkan diatas, hubungan yang buruk antara bayi dan orang tua dapat menyebabkan reactive attachment disorder (RAD) pada anak, yang dampaknya akan terlihat di kehidupan anak kelak. Tingkah laku anak dengan RAD akan terlihat menunjukkan kemarahan dan penolakan kepada ibunya (apabila ibunya merupakan pengasuh utamanya), namun bisa saja ia menunjukkan kehangatan kepada anggota keluarga lainnya. Anak dengan RAD menunjukkan kemarahan kepada pengasuh utamanya karena kegagalan pembentukan kelekatan dengan pengasuh utamanya yang menyebabkan RAD. Aspek pada sang anak yang akan terganggu oleh adanya RAD, antara lain:

  1. aspek psikologi dan tingkah laku sang anak, merupakan aspek yang paling signifikan. Anak dengan RAD akan sulit berempati terhadap orang lain (karena perasaannya tidak berkembang), dikarenakan tidak adanya rasa percaya terhadap orang lain yang seharusnya terbentuk melalui kelekatan antara anak dan pengasuhnya. Anak dengan RAD sulit untuk merasakan rasa bersalah, dan akan terlihat sering bersikap kasar kepada orang lain dengan tujuan membuat orang lain merasa bersalah terhadap dirinya.
  2. aspek kognitif sang anak. Apa yang orang lain pikir sah dan logis sering tidak berlaku bagi anak dengan RAD. Anak dengan RAD akan sulit menerima sebab dan akibat dari suatu perbuatan. Contohnya, ia memukul dan melukai temannya, tetapi ia marah apabila ia dihukum karena perbuatannya tersebut.
  3. aspek verbal. Anak dengan RAD biasanya sulit mendeskripsikan apa yang ia pikirkan dengan kata-kata. Secara normal, anak sebayanya dapat menjelaskan mengapa dirinya marah. Anak dengan RAD dapat merasakan kemarahan dalam pikirannya, namun sulit mengidentifikasi apa yang membuatnya marah.
  4. aspek auditori. Anak dengan RAD sulit memproses dan merespon apa yang ia dengar, misalnya instruksi dari orang tuanya.
  5. aspek motorik. Anak dengan RAD biasanya sulit berpikir bagaimana cara melakukan sesuatu. Ia bisa saja lebih lambat dalam melatih kemampuan yang cukup mudah bagi teman sebayanya, misalnya mengancing baju, mengikat tali sepatu, dan lain-lain disebabkan perkembangan area motoriknya yang terlambat.
  6. aspek kemampuan personal dan sosial. Secara tipikal, anak dengan RAD akan merespon terhadap orang lain seperti anak normal yang berumur jauh dibawahnya. Ia akan sulit berbagi mainannya, marah apabila keinginannya tidak terpenuhi. Hal tersebut normal bagi anak berumur 2-4 tahun, namun sering dijumpai pada anak dengan RAD yang berumur 8-9 tahun.

Tidak ada perawatan standar untuk anak dengan RAD. Pada intinya, intervensi pada anak dengan RAD wajib melibatkan anak dan juga orang tuanya atau pengasuh utamanya. Tujuan dari intervensi adalah untuk membantu anak merasakan lingkungan keluarga yang aman, nyaman, dan stabil dan juga membangun interaksi yang positif antara anak dan orang tua. Tentunya, semakin dini intervensi dilakukan, kemungkinan hasil yang diharapkan akan semakin baik. Beberapa strategi intervensi yang dapat diberikan, antara lain:

  • mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak dengan memberikan rasa kasih sayang dan kepedulian secara konsisten dengan tujuan menciptakan kelekatan yang stabil,
  • menciptakan lingkungan yang positif dan interaktif bagi anak,
  • membantu anak mengidentifikasi perasaannya dan mengekspresikan emosi dan kebutuhannya melalui kata-kata, dengan meyakinkan anak bahwa semua perasaan adalah baik dan menunjukkan cara yang baik untuk mengekspresikan emosinya,
  • mengetahui cara yang tepat untuk memperlakukan anak berdasarkan emosinya, karena seperti yang telah dijelaskan, anak dengan RAD berperilaku seperti anak normal yang berumur jauh dibawahnya. Orang tua perlu memperlakukan mereka sesuai dengan umur emosional mereka dengan lebih menggunakan metode non-verbal untuk menenangkan mereka,
  • mendengarkan, berbicara, dan bermain dengan anak. Fokus untuk memberikan apa yang membuat sang anak nyaman. Semakin banyak orang tua meluangkan waktunya bersama anak, semakin sering anak merasakan kasih sayang sehingga pada akhirnya ia akan merasa aman dan lebih terbuka kepada orang tuanya.

 

Melalui konsep internal working model, kualitas kelekatan antara ibu dan anak berperan penting dalam membentuk kepribadian anak dalam berinteraksi sosial di masa depannya. Untuk memperkuat hubungan kelekatan, Ibu harus berusaha mengerti kebutuhan sang anak dan meluangkan banyak waktu untuk berinteraksi dengan sang anak. Hubungan yang buruk antara ibu atau pengasuh utama dengan anak dapat menyebabkan reactive attachment disorder (RAD), yang gejalanya dapat terlihat pada anak kelak. RAD berdampak pada perkembangan yang terlambat pada beberapa aspek dalam diri anak. Untuk memulihkan kelekatan, baik ibu maupun anak harus terlibat dalam intervensinya.

 

Daftar Pustaka

  1. Puryanti I. Hubungan kelekatan anak pada ibu dengan kemandirian di sekolah [Internet]. Semarang: Universitas Negeri Semarang; 2013 [cited 2015 Sep 5]. Available from: http://lib.unnes.ac.id/18687/1/1601408012.pdf
  2. Ervika E. Kelekatan (attachment) pada anak [Internet]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2005 [cited 2015 Sep 5]. Available from: http://library.usu.ac.id/download/fk/psikologi-eka%20ervika.pdf
  3. Robinson L, Saisan J, Smith M, Segal J. How to build a secure attachment bond with your baby: parenting tips for creating a strong attachment relationship [Internet]. [Place unknown]: Helpguide.org; [date unknown] [updated 2015 Aug; cited 2015 Sep 5]. Available from: http://www.helpguide.org/articles/secure-attachment/how-to-build-a-secure-attachment-bond-with-your-baby.htm
  4. Burkholder M. When bonding is broken: understanding reactive attachment disorder [Internet]. Ontario: NYM Ministries; 2003 [cited 2015 Sep 6]. Available from: https://www.nymministries.org/free/When-Bonding-is-Broken.pdf
  5. Reactive attachment disorder: treatment and drugs [Internet]. [Place unknown]: Mayo Clinic; [date unknown] [cited 2015 Sep 6]. Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/reactive-attachment-disorder/basics/treatment/con-20032126
  6. Smith M, Saisan J, Segal J. Attachment issues and reactive attachment disorder: symptoms, treatment, and hope for children with insecure attachment [Internet]. [Place unknown]: Helpguide.org; [date unknown] [updated 2015 Aug; cited 2015 Sep 6]. Available from: http://www.helpguide.org/articles/secure-attachment/attachment-issues-and-reactive-attachment-disorders.htm
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2014.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr