child-drinking-juice

Berbagai produk olahan dari buah, salah satunya jus buah, diyakini orang tua sebagai sumber vitamin C alami dan baik untuk anak. Tak jarang, jus buah dimasukkan sebagai bagian dari diet harian dengan tujuan menambah asupan vitamin dan mineral pada makanan anak. Rasanya yang enak dan bentuknya sebagai minuman membuat jus buah mudah diterima oleh anak-anak dibandingkan buah aslinya. Namun, ternyata rekomendasi terbaru dari American Academy of Pediatric tidak menganjurkan jus buah untuk “buru-buru” dikenalkan pada anak, terlebih untuk anak di bawah 12 bulan. Mengapa?

Idealnya, sebuah produk jus buah harus mengandung 100% jus buah. Namun, kebanyakan produk yang beredar di pasaran tidak mengandung 100% jus buah sehingga lebih dikenali sebagai “sari buah” atau “minuman jus”.  Produk tersebut juga biasanya diberikan tambahan seperti pemanis, perasa, hingga tambahan vitamin dan mineral. Kandungan karbohidrat pada minuman jus ini pun bervariasi, mulai 11 g% (0.44 kcal/mL) hingga 16 g% (0.64 kcal/ml), lebih tinggi dibandingkan kandungan karbohidrat pada ASI maupun susu formula bayi standar (7g%).1

Pada minuman jus setidaknya terkandung 4 jenis gula yakni sukrosa, glukosa, fruktosa, dan sorbitol. Penelitian menunjukkan fruktosa secara optimal dapat diabsorpsi oleh tubuh bersama dengan adanya glukosa. Apabila konsentrasi fruktosa lebih tinggi dari glukosa pada suatu minuman jus, misalnya pada jus apel dan pir, maka terdapat sebagian fruktosa yang tidak terabsorpsi sehingga menyebabkan tarikan cairan masuk ke saluran pencernaan dan dapat menyebabkan diare pada balita (toddlers’ diarrhea). Kondisi ini tidak berbahaya dan dapat segera sembuh dengan mengurangi pemberian jus pada menu anak. Namun, perlu diperhatikan apabila minuman jus dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan, kondisi ini dapat berkembang menjadi diare kronik, perut kembung, dan nyeri perut. 1,2

Rekomendasi terbaru American Academy of Pediatrician menyatakan buah menjadi bagian dari menu anak sehari-hari, dengan jumlahnya mengikuti kebutuhan kalori anak. Pada anak dengan kebutuhan kalori 1000 kkal/hari, yakni usia 1 hingga 4 tahun disarankan untuk makan buah sekitar 1 cangkir.  Dengan mempertimbangkan jumlah serat, buah asli tetap lebih baik dibandingkan dengan jus buah, namun bukan minuman buah. Jus buah, dan bukan minuman jus, dapat dijadikan sebagai alternatif sajian buah untuk mengganti maksimal setengah dari kebutuhan serat dari buah.1

Selain itu, orang tua perlu memperhatikan proses pengolahan dari minuman jus yang dikonsumsi oleh anak. Minuman jus yang tidak dipasteurisasi dapat mengandung bermacam spesies mikroba seperti E. coli, Salmonella, hingga Criptsoporidium yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit berbahaya pada anak seperti sindrom hemolitik-uremik. Minuman jus yang dipasteurisasi bebas dari mikroba patogen sehingga aman dikonsumsi oleh anak hingga dewasa.1,2

Waktu kapan anak boleh untuk mulai mengenal jus buah juga perlu diperhatikan. Pada bayi di bawah 6 bulan, tidak direkomendasikan untuk mendapatkan sumber nutrisi selain ASI (atau susu formula apabila ASI tidak dapat memungkinkan), termasuk jus buah. Hal ini agar anak mendapatkan sumber protein, lemak, vitamin dan mineral seperti zat besi, kalsium dan zink yang optimal dari susu. Kelebihan konsumsi jus yang diberikan pada usia tersebut diasosiasikan dengan malnutrisi dan perawakan pendek pada saat dewasa. Optimalnya, jus buah baru mulai dikenalkan pada anak di atas usia 12 bulan untuk mencegah karies gigi. Jus buah pun harus diberikan dalam bentuk gelas, bukan botol, dan anak tidak boleh minum jus sambil tidur untuk mencegah konsumsi jus yang berlebihan.1,3

Pemberian jus buah untuk menggantikan larutan rehidrasi oral pada diare juga tidak dianjurkan karena tingginya kadar karbohidrat pada jus dapat menyebabkan malabsorpsi karbohidrat dan memperparah keadaan diare. Rendahnya kadar natrium pada jus (1-3 mEq/L) tidak dapat menggantikan kehilangan natrium dari feses (20-40 mEq/L) sehingga pemberian jus buah saja tanpa pemberian larutan rehidrasi oral dapat menyebabkan hiponatremia.1,4

Pada anak di atas 7 tahun, konsumsi minuman jus tetap harus dibatasi. Sebuah penelitian menunjukkan konsumsi minuman jus lebih dari 12 ons (kurang lebih 354 ml) per hari berhubungan dengan obesitas. 1,3,5

Kesimpulan

Bagi orang tua, jus buah, terlebih produk “minuman jus”, kini perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam menu makanan anak sehari-hari. Bagi anak di bawah usia 6 bulan, ASI tetap menjadi sumber nutrisi satu-satunya. Bagi anak di atas 12 bulan, jus buah boleh mulai diperkenalkan sebagai alternatif tambahan vitamin dan mineral yang praktis namun tetap tidak dapat menggantikan serat dari buah utuh dan tidak dikonsumsi secara berlebihan.

Referensi:

  1. Heyman M, Abrams S. Fruit Juice in Infants, Children, and Adolescents: Current Recommendations. Pediatrics. 2017;139(6):e20170967.
  2. The Use and Misuse of Fruit Juice in Pediatrics. PEDIATRICS. 2001;107(5):1210-1213.
  3. Wojcicki J, Heyman M. Reducing Childhood Obesity by Eliminating 100% Fruit Juice. American Journal of Public Health. 2012;102(9):1630-1633.
  4. Freedman S, Willan A, Boutis K, Schuh S. Effect of Dilute Apple Juice and Preferred Fluids vs Electrolyte Maintenance Solution on Treatment Failure Among Children With Mild Gastroenteritis. JAMA. 2016;315(18):1966.
  5. Zolot J. Daily Consumption of Fruit Juice is Associated with Slight Weight Gain in Young Children. AJN, American Journal of Nursing. 2017;117(8):56.
rifka fadhilah
Reporter Junior Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr