Mudah untuk menegakkan diagnosis hernia inguinalis yang tampak menonjol jelas. Namun, bagaimana dengan hernia kecil yang tidak terlihat oleh mata telanjang?

hernia

Hernia adalah suatu keadaan ketika organ atau jaringan menonjol keluar akibat adanya defek pada dinding tubuh di sekitarnya. Hernia sering terjadi di daerah dinding abdomen, terutama di daerah pangkal paha. Ada dua jenis hernia yang dapat terjadi pada daerah pangkal paha, yaitu hernia inguinalis dan hernia femoralis. Hernia inguinalis sendiri lebih umum terjadi dibandingkan hernia femoralis. Keluhan yang umum disampaikan oleh pasien ialah rasa nyeri pada regio yang mengalami hernia yang biasanya terdapat tonjolan. Hernia inguinalis 8—10 kali lebih sering menyerang laki-laki dibandingkan perempuan. Faktor risiko lainnya yang cukup signifikan antara lain usia, prostatektomi, dan keluarga. Hernia cukup umum terjadi, pasien hernia mencapai 20 juta orang per tahunnya di seluruh dunia.

Terdapat banyak klasifikasi hernia inguinalis. Namun, umumnya para ahli bedah mengklasifikasikan hernia inguinalis berdasarkan tipe, lokasi, dan ukuran kantung saja. Klasifikasi lainnya belum lengkap dan masih sering diperdebatkan sehingga jarang digunakan. Klasifikasi hernia inguinalis yang paling umum yaitu hernia langsung dan hernia tidak langsung. Tetapi, perbedaan keduanya tidak begitu signifikan untuk proses pembedahan karena prosedurnya serupa.

Menentukan diagnosis hernia inguinalis pada umumnya hanya membutuhkan pemeriksaan fisik pada daerah selangkangan, dengan sensitivitas 74,5%–92% dan spesifisitas 93%. Tonjolan keluar yang dapat mengecil di daerah selangkangan disertai rasanya nyeri hampir bisa dipastikan sebagai hernia. Ketidakpastian diagnosis hernia melalui pemeriksaan fisik dapat terjadi bila pembengkakan kurang teraba dengan jelas, kurang terlokalisasi, dan hilang-timbul yang tidak teraba dengan palpasi. Ketidakpastian ini dapat pula terjadi bila pasien mengeluh nyeri pada pangkal paha, namun tidak tampak pembengkakan. Jika hal tersebut terjadi, dapat digunakan beberapa modalitas untuk menegakkan diagnosis. Modalitas yang dapat dipilih ialah USG, MRI, dan herniografi. CT scan dapat digunakan juga untuk diagnosis hernia inguinalis, namun jarang dipakai.

USG memiliki sensitivitas 33—100% untuk menegakkan diagnosis hernia inguinalis. Namun, rentang tersebut terlalu besar untuk dapat diandalkan sebagai penentu utama diagnosis. Meski begitu, USG bermanfaat untuk menentukan lokasi hernia inguinalis okulta dengan spesifisitas 81—100%.

Penggunaan MRI cukup direkomendasikan karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih dari 94%. Selain menegakkan diagnosis hernia, MRI juga dapat digunakan untuk melihat adanya kemungkinan patologi lainnya sehingga berguna untuk diagnosis diferensial; contohnya, tendinitis aduktor, osteitis pubis, artrosis pinggul, bursitis iliopektinea, dan endometriosis.

Modalitas terakhir, yaitu herniografi, digunakan untuk mendeteksi hernia inguinalis okulta. Herniografi memiliki sensitivitas 100% dan spesifisitas 98—100% untuk mendiagnosis hernia inguinalis okulta. Namun, herniografi juga memiliki risiko komplikasi 0—4,3%, meliputi alergi terhadap kontras, tusukan pada usus, hematoma dinding perut, serta nyeri sesaat. Selain itu, penggunaannya terbatas untuk diagnosis hernia saja.

Berbagai pemeriksaan lanjutan daerah inguinal yang telah disebutkan di atas dianjurkan apabila pasien mengalami nyeri tidak jelas dan/atau pembengkakan. Setelah pemeriksaan fisik, dianjurkan untuk melakukan USG terlebih dahulu oleh dokter yang berpengalaman. Jika hasil USG negatif, pasien dapat diperiksa menggunakan MRI dinamis. Pada MRI dinamis, pasien diminta untuk melakukan manuver Valsava ketika pemeriksaan dilakukan. Hal ini dilakukan agar hernia okulta dapat lebih terlihat keberadaannya. Jika hasil MRI juga negatif, dapat dipertimbangkan untuk melakukan herniografi pada pasien.

Tidak semua hernia mudah untuk didiagnosis, sehingga dibutuhkan perhatian yang lebih untuk diagnosisnya. Penting bagi seorang dokter agar mampu melakukan diagnosis diferensial pada pasien yang menunjukkan gejala hernia yang tidak jelas.

 

Referensi:

  1. Simons MP, Aufenacker T, Bay-Nielsen M, Boulliot JL, Campanelli G, Conze J, et al. European Hernia Society guidelines on the treatment of inguinal hernia in adult patients. Hernia. 2009; 13: 343-403.
  2. The HerniaSurge Group. International guidelines for groin hernia management. Hernia. 2009.
  3. Townsend, Jr. CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, editor. Sabiston textbook of surgery : the biological basis of modern surgical practice. Philadelphia: Elseviers, Inc.; 2017.
Mahasiswa FKUI
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr