Tanpa disadari, kebisingan yang ada di lingkungan sekitar (termasuk tempat kerja) berpotensi mengancam fungsi telinga kita hingga menyebabkan ketulian. Baca artikel berikut untuk mengetahui batas aman kebisingan dan cara menghindari dampaknya!


Cegah ketulian di tempat kerja karena kebisingan!

Kebisingan merupakan bahaya (hazard) yang sering kita temukan. Bahaya ini dapat menyebabkan ketulian (noise-induced hearing lossyang berkembang semakin parah seiring waktu. Hilangnya kemampuan mendengar ini umumnya dimulai dari kemampuan mendengar nada tinggi, yang kemudian menyebar ke nada rendah. Selain itu, kita juga dapat mengalami tinnitus (telinga berdenging) dan gangguan lain akibat stres.

Keparahan dari dampak kebisingan ditentukan oleh dua hal: besarnya kebisingan dan lama paparannya. Contohnya, kebisingan yang mendadak dan singkat namun sangat besar (mencapai 140 desibel atau lebih) dapat langsung menimbulkan kerusakan pada telinga yang menyebabkan hilangnya pendengaran serta tinnitus. Sebaliknya, kebisingan yang lebih ringan mungkin baru akan dirasakan dampaknya setelah dialami  bertahun-tahun.

Kebisingan ringan namun dalam jangka panjanglah yang mungkin lebih sering kita rasakan, terutama bagi pekerja yang berurusan dengan mesin. Bagaimana cara menghindari dampak buruknya?

Nilai Ambang Batas Kebisingan

Bahaya-bahaya yang ada di lingkungan kerja dapat mengganggu kesehatan pekerja. Pengusaha dan perusahaan memiliki kewajiban dalam pengendalian bahaya-bahaya ini agar keberadaannya di bawah nilai ambang batas (NAB). NAB ini sendiri merupakan batasan besarnya bahaya yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan, selama tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

NAB diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.13/MEN/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Sesuai pasal 5, kebisingan memiliki NAB sebesar 85 dB.

Upaya Pencegahan Ketulian di Tempat Kerja

Pengelola tempat kerja harus berusaha menjaga tingkat kebisingan agar di bawah NAB. Namun, tentunya hal ini tidak selalu dapat dipenuhi. Oleh karena itu, jika lingkungan kerja memiliki kebisingan lebih dari 85 dB, waktu pemaparan harus dibatasi sesuai tabel berikut.

Nilai Ambang Batas Kebisingan

Selain itu, ada beberapa upaya lain yang dapat dilakukan. Zona proteksi pendengaran perlu dibentuk pada lokasi dengan kebisingan di atas ambang batas, sehingga pekerja yang memasuki zona ini diharuskan menggunakan pelindung telinga. Pemantauan kesehatan dengan audiometri juga idealnya dilakukan secara rutin untuk pekerja yang terpapar kebisingan, agar dapat dilakukan tindakan dini.

 

 


Sebagai penutup, kita harus ingat bahwa ketulian akibat kebisingan dapat dicegah. Oleh karena itu, tentu perlu dilakukan upaya-upaya untuk mencegahnya. Jika tempat kerja Anda tidak layak dalam mengelola kebisingan, mari diingatkan (atau bila perlu: laporkan)!

 

 

 

Referensi:

  1. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang nilai ambang batas faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja. Jakarta: Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI; 2011.
  2. World Health Organizaion. Hearing loss due to recreational exposure to loud sounds: a review. Geneva: WHO; 2015.
  3. McCaig R. Physical agent. In: Snashall D, Patel D, editors. ABC of occupational dan environmental medicine. 3rd ed. Chichester: Wiley; 2012. p 94-106.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr