Sumber gambar: https://www.netmeds.com/health-library/post/asthma-oral-v-s-inhaled-corticosteroids-for-treatment/

Sumber gambar: https://www.netmeds.com/health-library/post/asthma-oral-v-s-inhaled-corticosteroids-for-treatment/

Kortikosteroid yang terkenal memiliki efek samping yang berbahaya, apakah penting penderita asma?

Kortikosteroid merupakan salah satu obat yang berperan penting dalam mengatur berbagai inflamasi dan kondisi imunologis seseorang. Obat ini sering disebut dengan obat dewa karena khasiatnya yang mampu meredakan berbagai gejala. Meskipun dapat meredakan berbagai gejala, obat ini ternyata seperti pisau bermata dua karena memiliki efek samping yang tidak dapat diremehkan, seperti osteoporosis, supresi adrenal, hiperglikemia, dyslipidemia, penyakit kardiovaskular, Cushing’s syndrome, dan penurunan daya tahan tubuh.1

Meskipun begitu, kortikosteroid ternyata memiliki peran penting dalam dunia kesehatan, terutama pada penderita asma. Asma merupakan sebuah kondisi jalur napas yang mengalami penyempitan dan disertai dengan produksi mukus yang berlebihan. Kondisi ini dipicu oleh allergen, kelelahan, udara yang dingin, stress, obat-obatan (seperti -blocker), dan zat iritan sehingga menimbulkan beberapa gejala, seperti batuk, sesak dada, bunyi mengi, serta sesak napas.2

Asma tidak dapat disembuhkan, sehingga pengobatan asma hanya bersifat simptomatik. Dalam pengobatan asma, terdapat dua cara pengobatan, yaitu pengobatan jangka panjang (long-term) dan jangka pendek (quick-relief). Obat asma jangka panjang bekerja untuk mencegah gejala timbul, yaitu dengan cara meredakan inflamasi saluran napas. Akan tetapi, ketika seseorang terkena serangan asma, maka obat yang digunakan adalah obat jangka pendek yang berperan dalam meredakan penyakit asma yang sedang kambuh.2

Salah satu pengobatan asma jangka panjang adalah menggunakan kortikosteroid inhalasi. obat ini sangat efektif untuk asma karena mengurangi inflamasi saluran napas sehingga sekresi mukus yang menghambat saluran napas menjadi berkurang. Obat inhalasi ini direkomendasikan sebagai terapi profilaksis asma pada pasien yang memiliki gejala asma yang mengganggu tidur lebih dari 1 kali dalam seminggu.3

Penggunaan obat inhalasi ini secara teratur dapat menurunkan risiko eksaserbasi asma. Akan tetapi, apabila pasien mengalami serangan asma akut yang memberat terus meskipun diberikan oksigenasi >90% atau inhalasi agonis beta-2, maka pasien tersebut memerlukan terapi kortikosteroid sistemik (jangka pendek), seperti sediaan oral untuk meredakan asmanya tersebut. Hal ini harus segera dilakukan karena asma merupakan salah satu kondisi gawat yang dapat mengancam kehidupan seseorang.3

Pasien yang asmanya memburuk dengan cepat, biasanya memberikan respon yang cukup cepat dengan pemberian kortikosteroid oral ini. Dosis yang biasanya diberikan biasanya 40-50mg/hari selama beberapa hari, tetapi penghentian obat ini harus diturunkan secara bertahap pada asma yang sulit dikendalikan untuk mengurangi relaps yang serius. Selain itu, penghentian obat ini dapat dihentikan secara tiba-tiba pada asma eksaserbasi ringan.3

Konsumsi kortikosteroid oral biasanya diberikan dengan dosis tunggal pada pagi hari untuk mengontrol kadar obat dalam tubuh agar tetap pada rentang terapeutik. Terapi dengan prednisolone oral ini dirasa kurang bermanfaat dan dapat menimbulkan berbagai efek samping apabila digunakan jangka panjang sehingga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi kortikosteroid oral jangka panjang.3

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan kortikosteroid inhalasi sangat penting bagi penderita asma karena kortikosteroid inhalasi sangat berperan dalam menurunkan risiko terjadinya eksaserbasi asma. Selain itu, kortikosteroid oral sangat berperan penting dalam mengatasi asma eksaserbasi akut yang terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu, penderita asma disarankan untuk siap sedia kortikosteroid oral kapanpun dan dimanapun ia berada karena serangan asma dapat menyerang kapan saja dan dimana saja, serta dapat mengancam nyawa seseorang.3 –Andi Gunawan Karamoy

 

Daftar Pustaka

  1. Liu D, Ahmet A, Ward L, Krishnamoorthy P, Mandelcorn ED, Leigh R, et al. A practical guide to the monitoring and management of the complications of systemic corticosteroid therapy. Allergy Asthma Clin Immunol. 2013; 9(1): 30. doi:1186/1710-1492-9-30.
  2. National Heart, Lung, and Blood Institute. Asthma [Internet]. Bethesda: NIH; 2018 [cited 2018 May 25]. Available from: https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/asthma.
  3. Pusat Informasi Obat Nasional. Kortikosteroid [Internet]. Jakarta: Badan POM RI; 2015 [cited 2018 May 25]. Available from: http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-3-sistem-saluran-napas-0/32-kortikosteroid.

 

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr