Lokalisasi merupakan ‘sarang’ prostitusi sekaligus penyakit menular seksual. Apa yang akan terjadi bila ‘sarang’ tersebut dihancurkan oleh pemerintah?

ilustrasi

Keberadaan praktik prostitusi sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Indonesia. Meski secara resmi dilarang oleh undang-undang, tetap saja prostitusi bertebaran di berbagai tempat. Sejak zaman dahulu, banyak prostitusi yang memiliki daerah “pusat” yang disebut lokalisasi. Di sanalah para mucikari dan ribuan pekerja seks komersial (PSK) terpusat dan dapat dijumpai dengan sangat mudah. Daerah lokalisasi PSK biasanya diketahui oleh masyarakat awam dan praktik prostitusi di sana tidak berlangsung secara sembunyi-sembunyi.

Namun, yang namanya praktik seks bebas tidak akan terlepas dari berbagai risiko yang mengintai. Salah satu risiko yang paling nyata ialah penyakit menular seksual. Maka, selain menjadi pusat pelayanan hasrat seks para lelaki hidung belang, area lokalisasi dapat juga menjadi pusat penularan penyakit menular seksual. Contohnya adalah HIV/AIDS, penyakit yang dapat dikatakan berefek paling parah dibandingkan penyakit menular seksual lainnya.

Seseorang dapat tertular HIV melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi HIV, seperti darah, air mani, air susu ibu (ASI), dan cairan vagina. Seorang ibu yang mengidap HIV/AIDS dapat menularkan kepada bayinya melalui kehamilan, persalinan, dan menyusui; hal ini disebut dengan penularan vertikal. Sementara itu, penularan antar perorangan (disebut juga penularan horizontal) dapat melalui jarum suntik yang terkontaminasi dan hubungan seks. Berdasarkan data Kemenkes RI, pada tahun 2011—2016, hubungan seks, baik heteroseksual maupun LSL (lelaki seks dengan lelaki), menjadi penyumbang terbesar infeksi HIV. Angka tersebut bersumber dominan dari Pulau Jawa. Praktik seks bebas di berbagai tempat prostitusi pastinya menyumbang angka yang cukup besar bagi penyebaran HIV.

Pemerintah Gencar Menutup Lokalisasi

            Salah satu daerah lokalisasi yang sangat terkenal ialah kawasan Gang Dolly yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Sebelum ditutup empat tahun yang lalu, Gang Dolly merupakan salah satu lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara. Jumlah PSK di Gang Dolly sebelum ditutup pada 2014 yaitu 1.449 orang. Perjalanan Gang Dolly sebagai lokalisasi berakhir ketika Walikota Surabaya, Tri Rismaharini berjuang mati-matian untuk menutup kawasan tersebut setelah berpuluh-puluh tahun beroperasi.

Sementara itu, DKI Jakarta juga memiliki beberapa kawasan lokalisasi yang cukup besar. Salah satunya terletak di Kalijodo, Jakarta Utara. Sama seperti Gang Dolly, nasib lokalisasi Kalijodo sudah berakhir ketika Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta, menutup kawasan tersebut pada awal 2016. Daerah bekas lokalisasi tersebut disulap menjadi Taman Kalijodo yang diresmikan oleh PLT Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, pada Oktober 2017. Selain Kalijodo, hotel Alexis yang terletak di Ancol, Jakarta Utara, belum lama ini juga telah ditutup oleh Gubernur Anies Baswedan setelah ditemukan adanya praktik prostitusi serta perdagangan manusia.

Setelah menutup lokalisasi, pemerintah tidak serta merta meninggalkan para mucikari serta PSK yang hidupnya bergantung pada pekerjaan haram mereka. Banyak di antara mereka yang menjadi pengangguran setelah sumber mata pencaharian mereka ditutup. Sebagai solusinya, pemerintah mulai membuka lapangan kerja bagi mantan PSK dan memberikan berbagai pelatihan untuk membuka usaha baru yang halal.

Meskipun pemerintah telah berusaha membantu para eks mucikari dan PSK untuk mendapatkan penghasilan dengan cara yang halal, tidak semua dari mereka berhasil untuk sepenuhnya berpindah mata pencaharian. Sebagian kecil para bekas penjual jasa pemuas hasrat itu tetap melanjutkan pekerjaan lama mereka secara diam-diam. Ada dari mereka yang tetap beroperasi di kawasan bekas lokalisasi, ada pula yang mulai menyebar ke sudut-sudut kota lainnya.

Jumlah Penderita HIV Terus Meningkat

            HIV/AIDS pertama kali dilaporkan muncul di Indonesia pada tahun 1987 di Bali. Sejak itu, jumlah kasus infeksi HIV maupun AIDS terus meningkat. Berdasarkan data Kemenkes RI per September 2017, jumlah kasus kumulatif AIDS sejak 1987—2017 sejumlah 97.942 kasus. Dibandingkan dengan tahun 2014 saja, jumlah tersebut sudah meningkat sebanyak 20.830 kasus. Hal ini sangat memprihatinkan dan tentunya menambah beban negara.

Sejak Gang Dolly resmi tidak lagi beroperasi sebagai lokalisasi pada 2014 silam, kasus penderita baru terinfeksi HIV di Jawa Timur meningkat cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kemenkes RI, terdapat 3.391 kasus baru infeksi HIV di Jawa Timur tahun 2013, dan 4.508 kasus pada tahun 2014. Kemudian pada tahun 2015, terdapat 4.155 kasus baru, lalu 6.513 kasus pada 2016, dan 5.263 kasus baru per September 2017 di Jawa Timur. Data tersebut menunjukkan adanya tren peningkatan infeksi HIV pascapenutupan Gang Dolly.

Kembali ke Jakarta, lokalisasi Kalijodo baru resmi ditutup pada 12 Februari 2016 lalu. Menariknya, kasus baru infeksi HIV pada tahun tersebut langsung meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kemenkes RI, jumlah kasus baru infeksi HIV tahun 2015 sebanyak 4.695 kasus. Lalu, pada tahun 2016, jumlah kasus baru infeksi HIV tercatat sebanyak 6.091 kasus. Terakhir, terhitung 4.671 kasus baru infeksi HIV per September 2017. Sama seperti di Jawa Timur, ada tren peningkatan jumlah kasus baru infeksi HIV di Jakarta pascapenutupan lokalisasi.

Memang, peningkatan kasus baru infeksi HIV pada dua provinsi tersebut tidak serta merta dapat disalahkan sepenuhnya pada penutupan lokalisasi yang telah beroperasi begitu lama. Penghuni eks lokalisasi yang sebelumnya mencari nafkah di tempatnya, ada yang sudah dapat beralih ke usaha halal dan ada pula yang masih mencoba melanjutkan pekerjaan lamanya di berbagai tempat. Di sinilah peran pemerintah dan masyarakat dibutuhkan untuk memberdayakan mereka yang belum dapat beralih dari pekerjaan lamanya. Maksud baik pemerintah menutup lokalisasi harus diimbangi dengan menjamin kehidupan mereka yang dulu bertopang pada tempat tersebut.

 

Referensi:

  1. Kurniawan R, Hardhana B, Yudianto, editor. Data dan informasi profil kesehatan Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2018.
  2. Nugroho KB. Gang Dolly kini dan prostitusi yang tersembunyi [Internet]. 2016 Sep 27 [cited on 2018 Jul 5]. Available on: https://tirto.id/gang-dolly-kini-dan-prostitusi-yang-tersembunyi-bNqu
  3. Tempo. Pelacuran marak lagi di Kalijodo, Sandi: mereka tak boleh kembali [Internet]. 2017 Jun 5 [cited on 2018 Jul 5]. Available on: https://metro.tempo.co/read/881453/pelacuran-marak-lagi-di-kalijodo-sandi-mereka-tak-boleh-kembali
  4. Budijanto D, Yudianto, Hardhana B, Soenardi TA, editor. Profil kesehatan Indonesia tahun 2015. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2016.
  5. Yudianto, Budijanto D, Hardhana B, Soenardi TA, editor. Profil kesehatan Indonesia tahun 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2015.

 

 

Mahasiswa FKUI
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr