Hasil gambar untuk child malnutrition

Malnutrisi pada anak merupakan salah satu indikator dari krisis ekonomi dan merupakan masalah multi-dimensi. World Food Programme mendefinisikan malnutrisi sebagai suatu keadaan dimana fungsi fisik individu terganggu dimana dia tidak dapat lagi menjaga performa tubuh seperti pertumbuhan, kehamilan, laktasi, kerja fisik, dan sembuh dari penyakit. Malnutrisi bukan hanya permasalahan suatu negara, tetapi juga suatu kota, rumah, dan individu dalam berbagai tahap pertumbuhan mereka.1-3

Estimasi global menyatakan bahwa 1 dari 3 anak mengalami malnutrisi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada survei nasional tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang pada anak berusia 5 tahun adalah 19,6%, wasting sebanyak 37,2%, dan beban ganda (obesitas dan gizi buruk) sebesar 11,9%. Selama satu dekade terakhir, prevalensi gizi kurang dan wasting menurun drastis. Di sisi lain, angka kejadian gizi berlebih dan obesitas meningkat secara signifikan.1-5

Anak perempuan dengan berat badan lahir rendah, anak yang berhenti diberikan ASI saat anak berusia lebih dari 6 bulan, tetapi diberikan makanan tambahan sebelum usia 6 bulan merupakan populasi yang berisiko terhadap malnutrisi.1 Penyebab malnutrisi tidak hanya disebabkan oleh faktor anak, tetapi juga oleh faktor ayah dan ibu. Mayoritas orang tua berusia di atas 30 tahun, baru menikah, dan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) normal.1 Selain itu, dari segi sosial ekonomi dan pendidikan, sebagian besar dari mereka dengan ekonomi menengah ke bawah dan tamat SMP atau lebih tinggi.1-3

Oleh karena malnutrisi berkontribusi terhadap sepertiga dari kematian anak, perlu dilakukan langkah-langkah strategis dan implementatif. Beberapa diantaranya yaitu meningkatkan kualitas program vaksin dan edukasi massal, pemberian vitamin pada anak-anak sekolah serta melatih dan menggerakkan kader Posyandu agar dapat memberikan edukasi pada ibu mengenai pentingnya pemberian ASI, kebersihan, dan pola makan sehat bagi anak. Program diversifikasi pangan melalui penanaman sayur dan buah di rumah serta berternak dapat menjadi salah satu solusi. Selain itu, penggunaan teknik bercocok tanam modern untuk meningkatkan produksi pangan serta perbaikan infrastruktur untuk mempermudah akses penduduk terhadap layanan kesehatan dan makanan perlu direalisasikan.1,4,5

Malnutrisi bukan hanya masalah saya atau kamu, tetapi masalah kita bersama. Oleh karena itu, marilah kita semua bergandengan tangan untuk memerangi malnutrisi dan meningkatkan derajat kesehatan anak Indonesia. Kita pasti bisa!

“Investing in early childhood nutrition is a surefire strategy. The returns are incredibly high”- Anne M. Mulcahy

REFERENSI

  1. Rachmi CN, Agho KE, Li M, Baur LA. Stunting, underweight, and overweight in children aged 2.0–4.9 years in Indonesia: prevalence trends and associated risk factors. PLOS One. 2016;11(5):1-17.
  2. Waters H, Saadah F, Surbakti S, Heywood P. Weight-for-age malnutrition in Indonesian children, 1992–1999. Int J Epidemiol. 2004;33:589-95.
  3. Wong HJ, Moy FM, Nair S. Risk factors of malnutrition among preschool children in Terengganu, Malaysia: a case control study. BMC Public Health. 2014;14:785.
  4. Muller O, Krawinkel M. Malnutrition and health in developing countries. CMAJ. 2005;173(3):279-86.
  5. Bain LE, Awah PK, Geraldine N, Kindong NP, Sigal Y, Bernard N, Tanjeko AT. Malnutrition in Sub – Saharan Africa: burden, causes and prospects. Pan Afr Med J. 2013;15:120.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr