jaga pendengaran dari kebisingan

jaga pendengaran dari kebisingan

Suara bising telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan, mulai dari hiruk pikuk suara bus kota sampai ramai tawa orang-orang di kantin. Terkadang untuk menghindarkan diri dari kebisingan, kita menggunakan earphone dan memutar lagu kesukaan kita – yang pada akhirnya tetap saja merupakan suara bising. Namun sadarkah Anda, bahwa suara-suara bising yang tersebut dapat berakibat buruk terhadap pendengaran Anda?

Mengenal Noise Induced Hearing Loss

Noise induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah kerusakan permanen pendengaran akibat paparan terhadap kebisingan dalam jangka waktu yang panjang. Pada tahun 2015, WHO menyebutkan bahwa terdapat 1,1 juta penduduk dunia usia remaja dan dewasa muda yang berisiko terkena gangguan pendengaran ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya paparan mereka terhadap kebisingan yang berasal dari kebiasaan mendengarkan musik menggunakan alat elektronik pribadi maupun dari pusat-pusat keramaian.

Suara seperti apakah yang dikategorikan sebagai kebisingan? Kebisingan yang dapat menurunkan fungsi pendengaran adalah suara dengan intensitas >85 desibel, atau setara dengan suara keramaian di kantin. Apabila terjadi paparan yang lama dan sering terhadap kebisingan tersebut, maka kerusakan permanen terhadap pendengaran dapat terjadi. Sebagai pembanding, suara berbincang-bincang normal memiliki intensitas sebesar 60 desibel. Berikut adalah tabel yang menunjukan intensitas kebisingan yang sering ditemukan sehari-hari:

Intensitas

Kegiatan
105 desibel Pemutar musik pribadi dengan volume tinggi
110 desibel Konser musik rock
120 desibel Sirine ambulans
140-165 desibel Kembang api

Ciri-Ciri Gangguan Pendengaran akibat Kebisingan

Berikut ini merupakan beberapa ciri-ciri orang yang mengalami penurunan pendengaran akibat kebisingan:

  • Pendengaran yang terdistorsi, atau suara terdengar seperti diredam,
  • Kesulitan mendengar suara seperti suara jam alarm, telepon, cicit burung, atau ketukan pintu,
  • Suara berdenging setelah terpapar kebisingan, dan
  • Kesulitan memahami pembicaraan melalui telepon atau dalam obrolan kelompok.

 

Mencegah Gangguan Pendengaran akibat Kebisingan

Untuk mencegah gangguan pendengaran ini, WHO merekomendasikan agar paparan terhadap kebisingan maksimal 85 desibel tiap hari dan tidak lebih dari 8 jam. Setiap penambahan dalam intensitas suara, durasi paparan yang aman juga semakin rendah. Contohnya, kebisingan yang mencapai 100 desibel hanya aman didengar dalam durasi tidak lebih dari 15 menit. Secara umum, berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Tidak mendengarkan musik menggunakan earphone/headphone selama lebih dari 1 jam,
  • Tidak mendengarkan musik dengan volume maksimal,
  • Membatasi lama paparan dengan sumber kebisingan, atau mengistirahatkan diri sejenak dari kebisingan setiap beberapa jam, dan
  • Menggunakan penutup telinga apabila tidak bisa menghindari sumber kebisingan.

Perlu diperhatikan bahwa kerusakan pendengaran yang diakibatkan kebisingan ini bersifat permanen, sehingga pencegahan merupakan cara terbaik. Ingatlah bahwa pendengaran merupakan panca indera yang tidak tergantikan. Mari rawat pendengaran kita!

Referensi:

  1. Noise Induced Hearing Loss – American Hearing Research Foundation
  2. About Hearing Loss – Centers for Disease Control and Prevention
  3. 1.1 million people at risk of hearing loss – WHO

 

Aisyah Aminy Maulidina
Anggota Direksi
Media Aesculapius 2018
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr