Fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF) adalah salah satu jenis gangguan irama jantung yang sangat penting untuk dipahami oleh tenaga kesehatan. AF tergolong dalam kategori aritmia supraventrikel, artinya sumber aritmia bukan berasal dari ventrikel jantung. Pada AF, terjadi kekacauan irama di atrium dengan laju atrium sangat cepat (300-600 kali/menit) diikuti dengan laju ventrikel yang tidak teratur (irregularly irregular). Saking cepat dan kacaunya laju atrium, gelombang P normal tidak lagi tampak dengan jelas dalam EKG 12-lead.

Capture

Gambaran EKG fibrilasi atrium. Tampak gambaran ORS normal dengan interval R-R’ yang tidak teratur. Tidak tampak gambaran gelombang P normal. Sumber: Braundwald’s Heart Disease edisi 10

Sumber laju atrium secepat itu adalah fokus reentry multipel yang bisa terdapat pada otot atrium jantung hingga kadang mencapai vena pulmonalis. Ukuran atrium yang semakin besar meningkatkan kemungkinan terjadinya hal ini, sehingga AF sering ditemukan pada orang dengan hipertensi lama, kelainan katup jantung, dan gagal jantung. Selain itu, AF juga sering terjadi pada orang dengan penyakit jantung koroner, gangguan tiroid (tirotoksikosis), hingga konsumsi alkohol berlebihan (holiday heart).

Gejala AF

AF sering ditemukan secara kebetulan karena memang sering tidak bergejala sama sekali. Gejala yang mungkin timbul antara lain rasa berdebar-debar, lemas, sesak napas, dan tidak mampu beraktivitas berat. Pasien dengan AF bisa datang dengan keluhan pingsan bila mengalami gangguan hemodinamik cukup berat.

Pada pemeriksaan fisis, temuan khas pada AF adalah pulse deficit disertai irama nadi yang tidak teratur. Pulse deficit adalah suatu keadaan berupa laju nadi yang lebih sedikit (melalui perabaan arteri) dibandingkan laju denyut jantung yang didengar (melalui stetoskop). Diagnosis pasti dilakukan dengan EKG 12-lead.

Dampak AF

Mengapa pemahaman mengenai AF penting? Secara epidemiologis, AF merupakan gangguan irama yang paling sering ditemukan dalam praktik sehari hari, baik dalam rawat jalan maupun rawat inap. Selain kasus yang sering, penderita AF juga memiliki risiko terkena stroke 5x lebih tinggi dibanding populasi normal.

Denyut atrium jantung yang kacau dan tidak teratur pada AF memudahkan terjadinya pembentukan bekuan darah. Bekuan darah ini dapat menyumbat pembuluh darah manapun, namun yang paling dikhawatirkan adalah sumbatan pada otak (stroke iskemik).

Pilar Tata Laksana AF

Secara garis besar, tatalaksana AF berfokus pada 3 hal, yaitu pencegahan thromboemboli (terutama stroke), kontrol laju (rate control) dan kontrol irama/kardioversi.

1. Pencegahan Thromboemboli

Penelitian sudah menunjukkan bahwa antikoagulan oral lebih superior dibandingkan aspirin ataupun placebo dalam pencegahan stroke pada pasien AF. Namun, obat antikoagulan oral juga memiliki risiko dan efek samping, sehingga tidak diberikan pada semua pasien dengan AF. Oleh karena itu, direkomendasikan untuk melakukan skoring menggunakan skor CHA2DS2-VASc. Skor 0 tidak diindikasikan obat apapun, sementara skor 2 atau lebih dapat memulai pengobatan antikoagulan bila tidak ada kontraindikasi. Pada skor 1, pemberian antikoagulan dapat dipertimbangkan.

Obat yang dapat menjadi pilihan adalah golongan antagonis vitamin K, misalnya warfarin. Dosis awal warfarin umumnya adalah 2-5 mg/hari dan kemudian disesuaikan dengan kontrol nilai INR (International Normalized Ratio). Target nilai INR terapeutik umumnya adalah 2.0 hingga 3.0. INR di atas nilai tersebut berisiko mengalami perdarahan lebih besar. Pilihan obat lainnya adalah beberapa antikoagulan oral generasi baru, misalnya dabigatran, rivaroxaban, apixaban, dan edoxaban.

2. Rate Control

Kontrol laju bertujuan untuk memperbaiki gejala dan hemodinamik pasien AF, terutama pasien dengan laju ventrikel sangat cepat. Golongan obat yang saat ini paling sering dipakai untuk kontrol laju adalah beta-blocker­ dan calcium-channel blocker golongan nondihidropiridin (verapamil dan diltiazem). Verapamil dan diltiazem tidak direkomendasikan pada pasien AF yang gagal jantung karena memiliki efek inotropik negatif yang bermakna. Obat lain yang dapat menjadi pilihan adalah digoxin dan amiodarone.

3. Rhythm Control

Tujuan kontrol irama adalah mengembalikan irama sinus (kardioversi). Kardioversi bisa dicapai dengan bantuan obat-obatan (pharmacological cardioversion) atau dengan terapi listrik (electrical cardioversion). Obat yang dapat menjadi pilihan antara lain flecainide, sotalol, propafenone, atau amiodarone. Amiodarone dapat menjadi pilihan utama pada pasien AF dengan gagal jantung atau pembesaran ventrikel yang bermakna.

Electrical cardioversion diindikasikan pada AF onset baru dengan gangguan hemodinamik berat. Pilihan terapi kontrol irama lainnya adalah prosedur kateterisasi (ablasi dan isolasi vena pulmonalis) dan pembedahan (Cox maze procedure). Prosedur tersebut dapat dipertimbangkan bila metode kontrol irama konvensional tidak berhasil dan dapat dikerjakan pada fasilitas kesehatan dengan ketersediaan layanan subspesialistik.

Referensi
1. Douglas Mann, dkk. Braundwald’s Heart Disease: a Textbook of Cardiovascular Medicine. Edisi 10.
2. Paulus Kirchhof, dkk. 2016 ESC Guidelines for the management of atrial fibrillation developed in collaboration with EACTS.

Edwin Wijaya
Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr