Masalah picky eater atau disebut juga sebagai pemilih makanan merupakan salah satu keluhan yang sering dirasakan oleh orangtua. Memiliki anak pemilih makanan memberikan rasa khawatir yang berlebihan pada orangtua, banyak diantara mereka mengaikatkan picky eater dengan tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi si Kecil, penurunan berat badan hingga gagal tumbuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dubois dan Wright pada tahun 2007 dan 2008, picky eater terjadi pada usia 2,5 sampai 4,5 tahun dan beresiko dua kali lebih besar untuk mempunyai berat badan rendah pada usia 4,5 tahun dibandingkan anak yang bukan picky eater. Selain itu anak yang picky eater dalam waktu yang lama akan mengalami gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan berat badan dan tinggi badan kurang atau kesulitan untuk meningkatkan berat badan. Selain itu picky eater yang ditandai asupan variasi makanan terbatas juga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan yang lambat.
picky eater
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mascola menunjukkan bahwa 50% dari anak berusia 18-23 bulan diidentifikasi sebagai picky eater. Didapatkan anak dengan kesulitan makan sebesar 33,6% pada anak usia toddler (1 – 3 tahun). Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan dan berlangsung lama sehingga sering dianggap biasa dan akibatnya dapat timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang pada anak.

Picky eater merupakan masalah yang serius. Angka kejadian picky eater pada anak dilaporkan bervariasi antara 5,6 sampai dengan lebih dari 50%. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa prevalensi sulit makan pada anak prasekolah terkait  picky eater antara lain kurangnya variasi pangan (58,1%), penolakan pada sayur, buah, daging, dan ikan (55,8%), dan kesukaan pada metode pemasakan tertentu sebesar 51,2%. Berdasarkan usia, angka kejadiannya juga secara konsisten meningkat sejalan dengan peningkatan usia dari 4-24 bulan, yaitu berkisar antara 17-47% pada laki-laki dan 23-54% pada perempuan. Hasil penelitian di Belanda menunjukkan bahwa angka kejadian picky eater tertinggi pada usia 3 tahun (27,6%) apabila dibandingkan dengan usia 1,5 maupun 6 tahun. Sementara di Indonesia, hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian balita yang mengalami sulit makan sebesar 23,9% yang 45,5% diantaranya adalah  picky eater. Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai apakah picky eater dapat menyebabkan anak menjadi gagal tumbuh. Mari kita bahas pertumbuhan normal terlebih dahulu.

Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan normal ?

Perhatian utama orang tua tentang picky eater adalah efek yang ditimbulkan dari anak picky eater adalah memiliki gangguan perkembangan fisik dan mental anak. Penjelasan mendasar tentang pertumbuhan normal akan membantu memberikannya penjelasan. Pada tahun pertama kehidupan, rata-rata bayi bertumbuh tiga kali lipat dari berat badan lahirnya. Pada tahun kedua kehidupan, pertumbuhan yang diharapkan adalah kenaikan rata-rata tinggi badan dan berat 12 cm dan 2-3 kg. Dari usia dua tahun sampai lonjakan pertumbuhan di pubertas, pertumbuhan rata-rata anak berlanjut pada tingkat tertentu kira-kira 6-8 cm per tahun, dan 2 kg per tahun.

Semua anak di Indonesia yang lahir pasti diberi buku KMS (Kartu Menuju Sehat) yang berfungsi mengetahui status gizi anak. Orangtua sering salah menafsirkan persentil ke-50 di grafik perkembangan buku kesehatan seperti perkiraan normal berat untuk setiap anak Orangtua harus mengetahui cara yang paling efektif untuk menggunakan grafik pertumbuhan adalah dengan melalui pengukuran pertumbuhan secara serial. Grafik yang dibentuk dengan menggabungkan titik yang diukur secara berkala dapat menunjukkan status gizi anak, sehingga hal ini dapat membuat orangtua dirumah memantau tumbuh kembang anak.

Seorang anak picky eater yang memiliki kurva pertumbuhan dibawah garis persentil ke-3, tetapi orang tuanya bertubuh pendek, mungkin belum tentu menderita pertumbuhan yang buruk dalam kasus seperti itu, tinggi rata-rata orangtua disesuaikan dengan jenis kelamin anak akan membantu menentukannya apakah anak itu berkembang dengan tepat, sesuai dengan potensi genetiknya. Untuk mengetahui tinggi potensi genetik, orangtua dapat berkonsultasi dengan tenaga medis di fasilitas kesehatan terdekat.

Apa itu picky eater ?

Pilih-pilih makanan (picky eater) adalah perilaku anak tidak mau makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan. Picky eater dipengaruhi oleh pola asuh, perilaku makan orang tua, interaksi ibu dan anak, pemberian ASI eksklusif, MPASI, dan psikologis serta kondisi fisik anak. Picky eater dapat menyebabkan anak kekurangan mikro dan makronutrien yang akhirnya mengganggu pertumbuhan fisik dan psikologis.

Apa saja yang mempengaruhi anak menjadi picky eater ?

Kejadian picky eater  dapat berawal dari pola makan ibu yang kurang baik. Selain itu berikut beberapa faktor yang memperngaruhi picky eater pada anak, antara lain :

  1. Ibu yang memiliki variasi makanan yang baik, maka anak akan semakin mudah menerima berbagai macam makanan. Sebaliknya, ibu dengan variasi makanan yang buruk juga akan mendapati  anaknya lebih suka mengkonsumsi makanan serupa.
  2. Pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sampai 6 bulan, dapat mengurangi kemungkinan anak menjadi picky eater.
  3. Cara ibu dalam memberikan makan juga memiliki pengaruh pada perilaku makan anak. Tekanan yang diberikan ibu atau pengasuh dalam memberikan makan dapat menyebabkan anak menjadi picky eater. Pola pemberian makan pada awal kehidupan juga sangat berpengaruh pada perilaku makan anak selanjutnya.
  4. Makanan pendamping ASI (MP-ASI) hendaknya diberikan tidak terlalu dini ataupun terlambat. Pemberian MP-ASI sebelum 6 bulan, akan meningkatkan risiko anak menjadi picky eater  sebesar 2,5 kali. Idealnya variasi makanan padat hendaknya dikenalkan pada rentang usia 6-9 bulan karena anak akan menjadi lebih pemilih apabila makanan dikenalkan saat usianya lebih dari 9 bulan.

Masalah makan pada anak dapat berakibat jangka panjang pada pertumbuhan dan perkembangan. Anak picky eater  akan mendapatkan zat gizi dari makanan yang terbatas dalam hal variasinya sehingga berpotensi mengalami kekurangan gizi dan risiko lebih besar pada usia kurang dari 3 tahun. Penelitian yang dilakukan di Kanada juga menemukan bahwa picky eater  memiki risiko 2 kali lebih besar untuk menjadi underweight  pada usia 4,5 tahun dibandingkan anak yang tidak pernah menjadi picky eater. Underweight  akan mengganggu perkembangan kecerdasan, proses belajar, lebih rentan terhadap infeksi, meningkatkan keparahan penyakit, hingga meningkatkan mortalitas.

Istilah ‘picky eater’ tidak memiliki definisi klinis yang jelas. Namun, telah digambarkan sebagai konsumsi yang tidak memadai berbagai makanan. Revisi ke 10 dari Internasional Klasifikasi Penyakit menggambarkan ‘gangguan pemberian makanan pada bayi dan masa kanak-kanak ‘, yang meliputi’ kesulitan dalam memberi makan ‘ seperti umumnya melibatkan penolakan makanan, dan ketidakjelasan yang ekstrem di adanya persediaan makanan yang cukup dan cukup pengasuh yang kompeten, dan dengan tidak adanya penyakit organik. Karakteristik umum dari picky eater adalah terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi, menolak makanan (terutama buah dan sayuran), karena tidak mau mencoba makanan baru, hanya menerima beberapa jenis makanan, lebih memilih minuman daripada makanan, dan memiliki preferensi makanan yang kuat.

Apa saja yang harus diwaspadai oleh orangtua pada anak picky eater ?

Untuk mengetahui apakah penolakan makan anak adalah akibat penurunan nafsu makan yang normal atau dipengaruhi oleh hal lain, contohnya penyakit. Perlu diingat, sangat penting bahwa riwayat medis dan asupan nutrisi yang terperinci dan pemeriksaan oleh tenaga medis dengan cermat penting dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah ada tanda-tanda penyakit yang mendasari atau tidak. Berikut beberapa tanda bahaya pada anak picky eater, yaitu :

  1. Nyeri telan.
  2. Kesulitan menelan
  3. Makan terganggu dengan menangis, dan adanya rasa sakit
  4. Muntah dan / atau diare
  5. Adanya infeksi di kulit, seperti eksim
  6. Gagal untuk berkembang
  7. Perkembangan anomali, termasuk prematuritas, kongenital kelainan dan autisme. Gejala lain mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut atau rujukan ke yang dokter spesialis yang sesuai dengan keluhan. Dengan tidak adanya tanda bahaya dan jika dilakukan pemeriksaan fisik, pengelolaan picky eater harus diketahui faktor perilaku atau lingkungan, dan melibatkan terapi yang sesuai. Dalam kasus dengan tanda bahaya, anak dapat dirujuk ke Rumah Sakit dengan fasilitasyang lebih tinggi.

 

Bagaimana menghadapi anak picky eater ?

Penyebab utama penolakan makanan pada anak picky eater harus diobati sedini mungkin. Bila penolakan makan itu karena orang tua yang tidak realistis harapan, saran berikut mungkin bisa membantu:

  1. Yakinkan orang tua bahwa penurunan nafsu makan pada anak yang berusia dua sampai lima tahun memiliki penurunan dan makanan mereka konsumsi sesuai dengan tingkat pertumbuhan yang lebih lambat.
  2. Jelaskan bahwa orangtua bertanggung jawab menawarkan makanan apa yang anak gemari untuk makan, hal ini bertujuan agar anak memiliki nafsu makan yang baik dan memilikirasa tanggung jawab atas makanan yang mereka pilih. Disamping itu, orang tua harus memilih nakanan bernutrisi dengan tekstur dan rasa yang sesuai usia anak, dan menyediakan makanan terstruktur dan makanan ringan, tapi biarkan anak untuk memutuskan berapa banyak dan apa yang harus dimakan. Orangtua dibutuhkan agar menu makan menjadi fleksibel dan memungkinkan memiliki banyak variasi makanan. Tujuannya adalah mempertahankan pertumbuhan anak yang optimal. Walaupun asupan makanan berfluktuasi, diharapkan mereka mampu mempertahankan pertumbuhan stabil.
  3. Tekankan bahwa itu adalah ide yang bagus untuk memberi, memulai, berikan porsi kecil setiap makan. Jika anak menyelesaikan semua yang ada di piring, orangtua bisa memberikan porsi tambahan kepada anak.
  4. Memberikan penjelasan kepada anak bahwa makanan ringan hanya boleh dikonsumsi di antara waktu makan dan sebaiknya tidak ditawarkan. Jumlah makanan ringan yang diberikan akan mengganggu nafsu makan anak untuk jadwal makan berikutnya. Makanan ringan yang padat nutrisi harus dipilih. Jus tidak boleh ditawarkan sebagai makanan ringan. Anak-anak TIDAK boleh diizinkan untuk mengemil sepanjang hari atau minum susu atau jus dalam jumlah berlebihan; hal ini menyebabkan makan lebih sedikit pada waktu makan.
  5. Ingatkan orang tua bahwa makan harus menjadi aktivitas yang menyenangkan. Anak-anak jangan dipaksakan atau bahkan dibujuk untuk makan. Paksaan, ancaman atau hukuman tidak akan memberikan dampak baik pada anak, justru kebalikannya.
  6. Sarankan agar waktu balita di meja dibatasi sekitar 20 menit . Saat jam makan selesai, semua makanan harus dibersihkan dari meja dan hanya ditawarkan lagi pada jadwal makan selanjutnya atau direncanakan makanan kudapan. Hal ini dapat membuat jadwal makan selanjutnya menjadi dapat diterima oleh anak dengan mudah.
  7. Rangsang nafsu makan anak dengan mengajak anak bermain dan berolahraga. Namun, mereka cenderung tidak makan dengan baik saat mereka lelah atau terlalu bersemangat. Ajarkan mereka untuk bersiap diri sebelum waktu makan tiba, 10 menit sampai 15 menit sebelumnya.
  8. Orangtua dilarang memberikan mainan, buku ataupun televisi selama waktu makan. Hal ini akan membuat perhatian anak teralihkan dan membuat nafsu makan menurun.
  9. Orangtua harus memberikan contoh sopan santun meja sesuai dengan usia dan tahap anak. Suasana makan harus dibuat menyenangkan. Seorang anak yang menangis atau kesal tidak mungkin makan dengan baik.
  10. Makan bersama keluarga memberi anak pengalaman sosial yang menyenangkan dan kesempatan belajar dengan meniru apa yang dilakukan oleh orangtua. Anak memperhatikan dan menirukan semua perilaku anggota keluarga dan bergantung pada tindakan yang orangtua lakukan saat makan. Keluarga harus makan bersama bila memungkinkan.
  11. Penambah nafsu makan atau stimulan umumnya tidak dianjurkan diberikan untuk picky eater yang terisolasi dan tidak boleh dilakukan dianggap semata-mata untuk mengurangi kecemasan orang tua. Vitamin atau Suplemen mineral bisa digunakan jika kualitas makanannya dipertanyakan. Bila seorang anak tumbuh dengan baik tidak ada peran untuk suplemen gizi seperti formula khusus untuk balita dan anak-anak. Formula balita khusus tidak menjadi pengganti makan makanan sehat.

 

Kesimpulan untuk orangtua dengan anak picky eater

Dalam menyikapi picky eater pada anak, berikut hal-hal yang perlu orangtua perhatikan :

  1. Perilaku makan picky eater sangat umum terjadi pada anak kecil dan menyebabkan kecemasan orang tua.
  2. Kebanyakan anak yang diberi label ‘picky eaters’ sudah sesuai pertumbuhan.
  3. Penting untuk mengidentifikasi tanda bahaya yang harus dipantau secara serius, dan untuk menawarkan pengobatan yang tepat atau rujukan ke spesialis
  4. Saran menu makanan sehat sederhana dengan penekanan pada menu makanan utama, sehingga dapat membantu orang tua merencanakan bergizi makanan.
  5. Buat suana makan menjadi suasana yang menyenangkan.
  6. Pemberian makan secara paksa atau gertakan tidak akan membuat anak menjadi nafsu makan, namun sebaliknya.
  7. Tips berkenaan dengan prinsip pemberian makanan dasar bisa membantu orang tua belajar bagaimana memberi makan anak picky eater secara efektif.
  8. Anak merupakan peniru yang handal, berikanlah contoh yang seharusnya dilakukan pada anak sesuai dengan usianya.

 

Rujukan :

Dubois L. 2007. ‘Longitudinal Study in Quebec’. International Jornal of Behavioraal Nutrition And Physical Activity, 1:7-9, 10-12,13-14

Leung, A. K., Marchand, V., Sauve, R. S., & Canadian Paediatric Society, Nutrition and Gastroenterology Committee. 2012. The “picky eater”: The toddler or preschooler who does not eat. Paediatrics & Child Health, 17(8), 455–457.

Mascola, AJ, Bryson, SW, & Agras, WS. 2010, Picky eating during childhood: longitudinal study study to age 11 years, Eating Behaviours, Vol. 11, Issue 4

Ong C, Phuah KY, Salazar E, How CH. 2014. Managing the “picky eater” dilemma. Singapore Medical Journal. 55(4):184-190. doi:10.11622/smedj.2014049.a

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr