Seseorang dinyatakan meninggal apabila tidak menunjukkan respons setelah dilakukan resusitasi sesuai protokol ACLS yang berlaku. Benarkah demikian?

sindrom lazarus, fenomena lazarus

(Smbr : https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/600×315/81/84/a6/8184a659c26eaf6e618ebf76522f1dfe.jpg)

Ketika seseorang mengalami henti jantung, maka resusitasi yang sesuai dengan protokol harus dilakukan sebagai upaya pertolongan bagi orang tersebut. Jika tidak ada respons dari upaya resusitasi yang sudah dilakukan, maka pada kebanyakan kasus seseorang dapat dinyatakan meninggal. Namun ternyata pada beberapa kasus, bukanlah suatu hal yang mustahil orang tersebut “bangkit” dari kematiannya ketika ia sudah dinyatakan meninggal. Di dunia medis, fenomena ini disebut sebagai sindrom Lazarus.

Apa itu sindrom Lazarus?

Sindrom Lazarus, yang merupakan nama lain dari autoresusitasi, merupakan sebuah fenomena kembalinya sirkulasi darah secara spontan setelah mengalami henti jantung. Istilah sindrom Lazarus pertama kali diperkenalkan oleh Bray pada tahun 1983 karena kemiripannya dengan kisah Lazarus, tokoh dari kitab Nasrani. Menariknya, fenomena ini terjadi ketika resusitasi telah dihentikan dan pasien dinyatakan meninggal. Sindrom lazarus sangat jarang terjadi, dan hanya tercatat 38 kasus di seluruh dunia. Walaupun jarang terjadi, diperkirakan pula sedikitnya jumlah kasus yang pernah dilaporkan disebabkan karena bersinggungan dengan aspek medikolegal. Hal ini dikarenakan tenaga medis harus memvonis seseorang meninggal ketika ternyata orang tersebut kemudian masih hidup.

Bagaimana sindrom Lazarus terjadi?

Mekanisme pasti dari sindrom Lazarus masih belum jelas. Namun terdapat beberapa mekanisme yang telah diajukan, yang diantaranya paling diyakini adalah hiperinflasi pulmoner. Pada saat dilakukan resusitasi, jalan pernapasan pasien umumnya dibantu dengan menjaga tekanan positif pada proses pernafasan. Jika ventilasi bertekanan positif ini terus dilakukan tanpa memberikan waktu ekshalasi yang cukup, maka udara akan terperangkap di dalam paru-paru. Hal ini akan menyebabkan naiknya tekanan di dalam rongga dada (tekanan intratoraks) yang menekan pembuluh darah, sehingga jumlah darah yang dapat masuk kembali ke jantung berkurang. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah dan terjadilah henti jantung. Jika tekanan intratoraks diturunkan kembali, maka darah akan dapat masuk kembali ke jantung sehingga jantung dapat berfungsi kembali. Sehingga, seseorang yang dikatakan sudah meninggal dapat “bangkit” kembali ketika resusitasi dihentikan.

Hiperkalemia menjadi mekanisme lain yang diajukan. Kalium merupakan kation intraseluler terbanyak, dan peningkatan kalium dapat menyebabkan sel otot jantung berada dalam kondisi istirahat lebih lama. Penggunaan natrium bikarbonat untuk resusitasi ternyata memiliki efek sementara terhadap konsentrasi kalium. Oleh karena itu, hal ini dihipotesiskan sebagai salah satu penyebab sindrom Lazarus.

Reperfusi miokard juga diajukan sebagai mekanisme lainnya. Pada pasien dengan gangguan jantung koroner, meningkatnya tekanan intratoraks karena resusitasi dapat menyebabkan lepasnya emboli yang menyumbat pembuluh darah. Hal ini menyebabkan reperfusi dari otot jantung karena kembalinya sirkulasi darah sehingga jantung dapat bekerja kembali.

Masih banyak mekanisme lainnya yang diajukan, meliputi terlambatnya efek obat (delayed action of  drug), hipotermia, alkalosis, sindrom Q-T, sindrom emboli lemak dan asistol transien. Namun, sampai sekarang belum dicapai suatu konsensus mengenai mekanisme pasti dari sindrom Lazarus.

Bagaimana prognosis pasien setelah “bangkit”?

Pemulihan neurologis yang dimiliki pasien dengan sindrom Lazarus terbilang cukup baik, yang mencapai 45% dari jumlah kasus dan 35% diantaranya dapat dipulangkan tanpa kelainan neurologis berat. Bahkan, pada sebuah kasus pasien mengalami pemulihan neurologis sebesar 100%. Namun, pemulihan fungsi jantung paru sangat mengecewakan. Hanya ada satu kasus dimana pasien dapat bertahan hidup lebih dari 180 hari setelah fungsi jantung parunya kembali.

Apa yang harus dilakukan?

Pada kebanyakan kasus ditemukan bahwa fungsi sirkulasi kembali muncul dalam 10 menit setelah resusitasi dihentikan Untuk mencegah vonis kematian yang terlalu cepat, maka direkomendasikan untuk melakukan pengawasan ketat dengan dibantu pengamatan elektrokardiogram pada pasien selama 10-15 menit setelah resusitasi dihentikan. Resusitasi dapat dihentikan jika dalam 30 menit secara kumulatif ketika selama ACLS dilakukan tidak ada tanda-tanda kembalinya sirkulasi. regan

 

 

 

Sumber:

1. Sahni V. The Lazarus phenomenon. JRSM Open. 2016;7(8):205427041665352.

2. Thong SY, Ng SY. Case report – lazarus syndrome after prolonged resuscitation. J Anesthesiol Clin Res. 2013 Feb 16;2(1):14.

3. Huang Y, Kim S, Dharia A, Shalshin A, Dauer J. Delayed recovery of spontaneous circulation following cessation of cardiopulmonary resuscitation in an older patient: a case report. J Med Case Reports. 2013 Mar 12;7:65.

Mahasiswa FKUI 2015
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr