USG sudah digunakan sejak lama untuk mendeteksi kecacatan pada janin

Kelahiran bayi-bayi yang memiliki kecacatan secara tak terduga tentunya merupakan mimpi buruk dari setiap orang tua. Pastinya, setiap orang tua tentu mendambakan bayi mereka terlahir dengan tubuh yang sehat. Namun, bagaimana jika ternyata dalam perkembangannya di janin ibu sang bayi ternyata tak terjadi sesuai dengan yang diharapkannya? Bagaimana orang tua dapat mengetahui apakah perkembangan anak mereka baik-baik saja di balik perut sang ibu? Pertanyaan tersebut dapat terjawab berkat keberadaan ultrasonografi, sebuah teknik penggambaran untuk mengetahui kondisi janin di dalam rahim.

“Dengan menggunakan teknik ini, orang tua dapat mengetahui apakah bayi mereka nanti akan terlahir dengan normal atau memiliki gangguan kesehatan tertentu” ujar Dr. dr. Yuditiya Purwosunu, SpOG(K) selaku salah satu presentan di simposium The 5th Fast Learning Obstetrics and Gynecology 2016 (FLOWS 2016) yang diselenggarakan oleh panitia Pelantikan Kelulusan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Lt. 8 Gedung A RSUPN Cipto Mangunkusumo. Simposium FLOWS 2016 tersebut diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 23 dan 24 Juli 2016 yang terbagi kedalam 3 sesi yang secara berurutan memiliki tema manajemen kehamilan normal, komplikasi umum kehamilan dan manajemennya, serta komplikasi umum persalinan dan manajemennya. Saat membawakan presentasi keduanya tersebut yang berjudul “Ultrasonographies in Pregnancies” pada sesi kedua simposium tersebut, beliau berkali-kali mengingatkan pentingnya melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk mengetahui kondisi kesehatan janin dalam kehamilan.

Apa itu ultrasonografi?

Ultrasonografi, atau biasa disingkat USG, merupakan salah satu teknologi penggambaran medis yang dilakukan dengan menggunakan ultrasound. Ultrasoun adalah gelombang suara dengan frekuensi tinggi yang tak dapat di dengar oleh telinga manusia. Gelombang ultrasound tersebut dipancarkan melalui sebuah transduser, yang kemudian pantulannya akan ditangkap oleh mesin untuk diproses. Di masa kini, USG merupakan  metode yang paling umum digunakan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk menegakkan diagnosis prenatal kehamilan. Hal in dilakukan dengan mengamati gambar yang muncul pada layar. “Dengan menegakkan diagnosis prenatal kehamilan menggunakan USG, kita bisa memperkirakan apakah kedepannya nanti kehamilan sang ibu memiliki resiko” ujar Yuditiya. USG sendiri bukanlah merupakan teknologi yang baru. Berkat dekrit yang dimunculkan pada tahun 1929, penggunaan USG dimaksimalkan sebagai salah satu metode pemeriksaan kesehatan kehamilan. Penggunaan USG sendiri umumnya dilakukan pada minggu 11-13 kehamilan.

Walaupun begitu, penggunaan USG juga tidak terlepas dari kekurangan. Dikatakan oleh Yuditiya bahwa hanya 31% jenis kecacatan yang akan selalu terdeteksi menggunakan teknologi USG, contohnya adalah acrania. Ada kecacatan seperti spina bifida yang tak selalu dapat terdeteksi dengan baik oleh USG. Bahkan, ada pula kecacatan seperti agenesis korpus kalosum tak dapat terdeteksi sama sekali menggunakan teknologi USG. “Untuk itu, sekarang ini sedang dikembangkan teknik baru untuk mendeteksi kecacatan pada janin dengan menggunakan kromosom janin yang beredar di dalam darah ibu. Dengan menganalisis kromosom janin, kita dapat mengetahui lebih jelas kecacatan yang mungkin luput dengan menggunakan USG” tutup Yuditiya. regen

Mahasiswa FKUI 2015
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr