PENDAHULUAN

Beberapa tahun belakangan ini kita menjadi lebih familiar dengan metode pemberian makan bayi baby led weaning atau yang lebih sering dikenal sebagai metode BLW. Terlebih ketika beberapa public figure mengadopsi metode ini untuk digunakan sebagai metode pemberian makan bagi anak mereka. Metode ini berprinsip menjadikan anak sebagai pemegang kendali terhadap apa yang mereka makan dan seberapa banyak mereka ingin makan. Namun apakah metode BLW baik untuk diterapkan bagi anak, utamanya bagi anak-anak Indonesia, masih banyak orang tua yang masih belum mengetahui secara lengkap keuntungan dan kerugian dari metode ini. Apalagi orang tua-orang tua yang masih berprinsip untuk berkiblat pada metode yang sedang hype saja, atau pada metode yang diterapkan public figure.

Padahal menurut Riskesdas pada tahun 2013, angka malnutrisi dan stunting masih menjadi masalah utama nutrisi anak Indonesia. Adanya metode pemberian makan BLW yang tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi anak diperkirakan dapat menjadi hambatan pemberantasan stunting atau malah memperburuknya, karena metode ini pun awalnya diperkenalkan di Amerika dan Eropa karena angka obesitas yang tinggi dan anemia defisiensi besi serta angka stunting tidak lagi tinggi. Maka apakah tepat untuk mengadopsi metode ini di negara kita, kelebihan dan kekurangan penerapan metode BLW akan dipaparkan lebih mendalam di pembahasan selanjutnya.

Baby covered in spaghetti

Baby covered in spaghetti

PEMBAHASAN

Baby led weaning merupakan suatu metode baru dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), dimana bayi dapat memegang dan memiliki kontrol penuh atas makanannya sendiri. Melalui metode ini bayi diharapkan memiliki kontrol berat badan dan mencapai tingkat kemandirian yang lebih baik. Beberapa prinsip penerapan metode ini antara lain :

  • Bayi telah berusia 6 bulan dan dapat duduk dengan tegak
  • Mendapatkan pengawasan dari orang dewasa, tidak meninggalkan bayi sendiri bersama makanannya
  • Tidak mendapatkan suapan dari pengawas/orang tua, bayi harus makan dengan kecepatan dan kontrolnya sendiri
  • Tes makanan sebelum diberikan kepada bayi, makanan harus dapat dilumatkan oleh lidah dan langit-langit mulut bayi, terutama di awal-awal waktu makan

Sedangkan untuk jenis makanan, bayi diharapkan langsung dapat memakan makanan ‘keluarga’, meskipun makanan-makanan berikut tidak diperbolehkan diberikan sebelum bayi dapat mengembangkan kemampuan makanannya dengan sempurna yaitu makanan yang tidak dapat dilumatkan oleh lidah dan langit-langit mulut, makanan yang berukuran sangat kecil (kacang, anggur, permen dan buah-buah dengan biji), sayur mentah, apel mentah, buah yang keras/belum matang, buah golongan jeruk yang belum dikuliti seratnya satu persatu, kacang utuh, popcorn, sosis, wortel dan makanan lainnya yang dipotong berbentuk koin.

Selain aspek kemandirian dan kontrol yang menjadi dampak positif metode BLW, para dokter anak dan praktisi kesehatan berfokus pada risiko gagal tumbuh, defisiensi besi dan risiko tersedak, karena bervariasinya jenis makanan serta total asupan kalori yang tidak dapat dihitung secara pasti. Brown dan Lee, dalam jurnal mereka melaporkan sekitar lebih dari setengah subjek penelitian mereka yang terdiri dari ibu-ibu pengadopsi metode BLW menyatakan bahwa dokter spesialis anak mereka memiliki kekhawatiran akan metode tersebut sedangkan yang lainnya menyatakan tidak tahu karena tidak berkonsultasi dengan praktisi kesehatan mengenai penggunaan metode MP-ASI tersebut.

Metode ini diadopsi secara luas di Inggris dan New Zealand, dengan persentase obesitas-overweight pada anak di Inggris sebesar 22.1% dan 31 % di New Zealand. Adanya metode ini diharapkan anak memiliki self-control dan dapat lebih mengendalikan kecepatan serta asupan makanan mereka. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki persentase sebesar 11-12% namun disertai angka gizi kurang dan stunting yang tinggi, yaitu sebesar 19.6% dan 37.2% menurut RISKESDAS tahun 2013.

Selain risiko tersedak, kurangnya total asupan kalori dan kandungan gizi baik mikronutrien maupun makronutrien menjadi fokus utama para praktisi kesehatan tidak menyarankan digunakannya metode ini secara total. Dari sebuah systematical review terbaru yang mengulas berbagai penelitian mengenai BLW di Inggris, Amerika, New Zealand dan Kanada, ditemukan bahwa terdapat perbedaan rerata berat badan yang signifikan antara kelompok metode konvensional dan BLW. Rerata BB kelompok metode konvensional pada usia 18-24 bulan adalah 12.86 (SD 3.73), dibandingkan dengan 11.79 (SD 3.53) pada kelompok BLW. Serupa dengan berat badan, terdapat perbedaan persentase underweight  yang signifikan pula antara kedua kelompok, yaitu 5.4% (kelompok metode BLW), dibandingkan dengan 2.5% (kelompok metode konvensional).

Perbedaan rerata berat badan yang signifikan juga tetap ditemukan saat anak-anak telah memasuki usia prasekolah, BB anak-anak pada kelompok metode konvensional secara signifikan lebih besar dibanding anak-anak pada kelompok BLW. Temuan ini tidak mengherankan karena di awal-awal masa pengenalan makan, anak-anak pada kelompok BLW hanya dapat mengkonsumsi makanan dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas, dibandingkan dengan metode konvensional yang dapat mengolah berbagai jenis makanan dengan kandungan makro dan mikronutrien lengkap menjadi bentuk yang lebih cair/lunak dan dapat dikonsumsi bayi dengan mudah.

Keadaan kurangnya asupan gizi kronik menyebabkan timbulnya kondisi yang disebut stunting/pendek. Tinggi badan menurut umur (TB/U) adalah indikator untuk mengetahui seorang anak stunting atau normal. Anak yang mengalami stunting sering terlihat memiliki badan normal yang proporsional, namun sebenarnya tinggi badannya lebih pendek dari tinggi badan normal yang dimiliki anak seusianya. Kategori dan ambang batas indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) menurut nilai standar Z-score menggunakan baku antropometri WHO 2005 adalah :

  • Sangat pendek : Z-score < -3,0
  • Pendek : Z-score ≥ -3,0 s/d Z-score < -2,0
  • Normal : Z-score ≥ -2,0

Stunting merupakan proses kumulatif dan disebabkan oleh asupan zat-zat gizi yang tidak cukup atau penyakit infeksi yang berulang, atau kedua-duanya. Penelitian Kusumaningsih (2012) dalam Andriani & Kartika (2011), menunjukkan bahwa ada hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi pada bayi usia 6–12 bulan. Sebagian besar bayi yang diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) sesuai dengan umur, jenis, dan jumlah pemberiannya maka bayi tersebut berstatus gizi baik.

Dari data di atas dapat terlihat bahwa terdapat hubungan antara fase MPASI dengan status gizi anak, pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat atau kurang kandungan gizi makro dan mikronutrien dalam jangka waktu lama/kronis dapat menyebabkan timbulnya stunting. Stunting yang terjadi pada anak merupakan faktor risiko meningkatnya kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan motorik yang rendah serta fungsifungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen & Gillespie, 2001).

 

KESIMPULAN

Aspek kemandirian dan self-control pada metode BLW adalah dampak positif yang tentu diharapkan oleh setiap orang tua, namun kita tidak boleh mengabaikan berbagai risiko seperti risiko kurang gizi (yang dalam waktu lama menyebabkan stunting), kekurangan mikronutrien (seperti Fe) maupun tersedak. Mungkin akan lebih bijak jika metode BLW ini diterapkan saat pemberian makanan selingan (snack) saja, dibanding diterapkan secara total saat pemberian makanan utama, mengingat kurang gizi dan stunting masih menjadi salah satu masalah utama gizi anak Indonesia.

 

 

REFERENSI

Brown, Amy, et al. Baby Led Weaning: The Evidence to Date. Current Nutrient Report.

2017; 6(2): 148–156

Cameron, Sonya L, et al. How Feasible Is Baby-Led Weaning as an Approach to Infant

Feeding? A Review of the Evidence. MDPI Nutrients. 2012; 4(11): 1575–1609

Balitbang Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. 2013; 1(A): iv

https://www.theguardian.com/society/2016/nov/03/child-obesity-rising-again-nhs-report-reveals

http://www.health.govt.nz/nz-health-statistics/health-statistics-and-data-sets/obesity-statistics

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/57498/Chapter%20II.pdf;jsessionid=4034B70C946EEE398A803AAE642A28FF?sequence=4

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr