Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016

Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016

Selasa besok menandakan dimulainya pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016, sebuah usaha Kementerian Kesehatan untuk mempertahankan status “Bebas Polio” di Indonesia. Imunisasi penyakit penyebab paralisis ini akan dilakukan serentak pada tanggal 8 – 15 Maret 2016 secara gratis kepada anak-anak usia 0-59 bulan tanpa terkecuali. Pekan lalu, muncul kekhawatiran di media sosial mengenai penggunaan babi pada vaksin yang akan digunakan dalam PIN Polio 2016. Klarifikasi dari Kementerian Kesehatan RI mengatakan bahwa vaksin yang menggunakan zat dari babi dalam pembuatannya merupakan vaksin suntik, dan PIN Polio 2016 akan menggunakan vaksin tetes. Sebenarnya, apa perbedaan dari kedua macam vaksin polio tersebut dan apa signifikansinya?

Vaksin polio tetes, atau oral poliomyelitis vaccine (OPV), merupakan jenis vaksin yang dibuat dari virus polio yang dilemahkan. Dengan melemahkan virus polio, virus tidak akan menyebabkan paralisis – kelumpuhan seluruh tubuh, dan akan memicu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus tersebut. Vaksin ini murah dan ampuh untuk menghapuskan penyebaran polio, sehingga cocok untuk digunakan pada imunisasi orang banyak. Namun, vaksin polio tetes ini pada 1 dari 2,4 juta orang dapat menyebabkan paralisis, suatu efek yang terjadi ketika virus yang dilemahkan masih dapat menyebabkan penyakit.

Alternatif dari vaksin polio tetes adalah vaksin polio suntik, atau inactivated poliomyelitis vaccine (IPV). Berbeda dengan vaksin polio tetes, vaksin suntik ini dibuat dari virus polio yang inaktif. Oleh karena itu, vaksin jenis ini lebih aman dari vaksin polio tetes yang memiliki kemungkinan menyebabkan paralisis – walaupun kejadiannya sedikit. Kekurangan dari vaksin ini adalah harganya yang lebih mahal dan penggunaannya yang lebih sulit, yaitu menggunakan jalur suntik.

Lalu, vaksin mana yang lebih baik? World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa penggunaan minimal salah satu dari vaksin tetes, vaksin suntik, atau keduanya diperlukan dalam mengusahakan eradikasi polio secara global. Pemilihan vaksin ini perlu didasarkan dari kemungkinan masuknya virus polio dari negara lain. Pada negara yang tinggi risikonya mendapatkan virus polio dari luar negara lain, penggunaan vaksin tetes lebih cocok karena dapat mudah diberikan dalam jumlah besar. Sedangkan pada negara dengan risiko yang lebih rendah, penggunaan vaksin suntik dapat mencegah kemungkinan adanya efek paralisis, yang mungkin disebabkan vaksin tetes. Namun WHO merekomendasikan pada negara yang menggunakan vaksin tetes untuk juga menggunakan vaksin suntik.

Eradikasi polio merupakan hal yang sangat memungkinkan, dan vaksinasi merupakan kunci keberhasilan eradikasi global penyakit ini. Indonesia telah dinyatakan bebas polio sejak tahun 2014, dan gelar dari WHO ini perlu terus dipertahankan serta. Setelah pelaksanaan PIN Polio 2016, strategi selanjutnya dari Kementerian Kesehatan RI adalah penyediaan vaksin suntik untuk penggunaan di seluruh Indonesia. Saat ini, vaksin polio suntik baru digunakan di Yogyakarta. Dengan tersedianya vaksin polio suntik, kemungkinan terjadinya paralisis akibat vaksin polio tetes dapat dihindari dan Indonesia dapat melangkah menuju eradikasi polio global.

Referensi:

  1. Inactivated Polio Vaccine
  2. Rekomendasi WHO untuk Imunisasi Polio

 

Aisyah Aminy Maulidina
Anggota Direksi
Media Aesculapius 2018
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr