Arfian Muzaki_tugas Ilustrasi

Kejahatan seksual tidak hanya terjadi pada orang dewasa tapi juga anak-anak. Hal ini membuat banyak orang, terutama orang tua, khawatir. Untuk mencegahnya, apakah cukup dengan tindakan preventif dari pihak luar?

Berbagai berita terkait seks akhir-akhir ini semakin banyak ditemui. Sebagai contoh, berita anak SD yang menghamili siswi SMP pada Mei 2018. Selain itu, ada juga berita tentang kakak yang tega menghamili adik kandungnya akibat video porno dan membunuh bayinya, serta pelecehan seksual oleh guru sekolah pada Juni 2018. Apakah ini terjadi akibat pemerintah tidak berhasil menyaring konten negatif, lalainya sekolah terhadap para guru, atau karena pendidikan seksual tidak dilakukan?

Pendidikan merupakan hal penting bagi tiap orang, tidak terkecuali dengan pendidikan seksual. Sayangnya, masyarakat Indonesia menganggap pendidikan seksual sebagai hal tabu dan lantas, banyak dihindari. Banyak yang berpikir bahwa pendidikan seksual menjurus kepada hubungan intim atau reproduksi saja. Padahal menurut WHO, pendidikan seksual berarti mempelajari aspek seksual dari segi fisik, kognitif, sosial, emosional, dan interaktif. Adanya pemikiran yang salah seperti ini membuat pendidikan seksual menjadi kurang tepat dan menimbulkan masalah.

Perilaku seksual pranikah, pelecehan seksual, dan pedofil merupakan kasus-kasus yang dapat terjadi akibat kegagalan pendidikan seksual. Kasus tersebut tidak hanya merugikan korban, tetapi juga banyak pihak lainnya termasuk keluarga sang pelaku. Sayangnya, banyak orang tua hanya mengandalkan pihak eksternal untuk menjaga sang anak. Pembicaraan dan diskusi tentang pendidikan seksual pun menjadi sedikit, baik melalui keluarga, maupun sekolah.

Kapan pendidikan seksual dilakukan?

Batas usia minimal pendidikan seksual tidak ditetapkan, namun dapat dilakukan sedini mungkin. Ketika anak-anak bertanya terkait dengan pendidikan seksual dan reproduksi, orang tua biasanya akan mengalihkan atau tidak menjawab pertanyaan jika anak dirasa masih terlalu kecil. Padahal, pengalihan yang dilakukan seperti ini hanya akan membuat anak-anak lebih penasaran. Anak-anak yang sudah mempertanyakan hal seperti ini sudah dapat diberikan pendidikan sesuai dengan umur mereka. Namun, tidak ada salahnya juga jika orang tua yang memulai.

Pengedukasian tentang hal ini dilakukan secara bertahap. Anak-anak dengan usia sekitar 4-5 tahun mungkin ada yang sudah pernah bertanya dari mana bayi berasal. Orang tua tidak perlu menghindar untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, orang tua dianjurkan untuk memberikan jawaban yang mudah dimengerti. Orang tua juga dapat bertanya kepada anaknya untuk mendapatkan informasi tentang motif sang anak menanyakan hal tersebut. Pada saat seperti itu, orang tua juga dapat memberikan edukasi yang mudah, seperti cara menjaga dan menghormati alat kelamin sendiri atau orang lain.

Berlanjut memasuki masa pubertas, hal yang dapat diajarkan tentang kesehatan seksual bisa lebih rumit. Contohnya adalah apa saja yang akan terjadi saat pubertas dan ketertarikan kepada lawan jenis, serta percintaan. Pada masa pubertas, hal yang diketahui dan ditanyakan semakin mendalam, bahkan dapat terpapar dengan perilaku menyimpang seperti homoseksual. Oleh karena itu, orang tua dianjurkan untuk memberikan informasi tentang hal tersebut.

Dimana pendidikan seksual dilakukan?

Pendidikan seksual dapat dilakukan oleh orang tua, terutama di rumah. Keluarga sebagai tempat utama pendidikan anak akan memengaruhi karakter anak saat dewasa. Sekolah juga dapat menjadi sarana untuk mendapatkan pendidikan seksual, baik itu oleh guru, ataupun perawat yang ada di sekolah. Pemerintah sendiri mengatakan bahwa pendidikan seksual sudah dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Sayangnya, tetap ada keterbatasan, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, ataupun kenyamanan dalam berbicara.

Bagaimana peran tenaga medis?

Tenaga medis juga dapat berperan dalam pemberian pendidikan seksual, namun tidak banyak orang yang mendapat informasi dari mereka. Dalam sebuah jurnal dikatakan bahwa tenaga medis menduduki peringkat terendah dalam sumber remaja mendapatkan pendidikan seksual. Hal tersebut disebabkan oleh jarangnya tenaga medis dalam bertemu dengan masyarakat umum. Dengan keahliannya, tenaga medis cenderung berorientasi kepada penyakit, seperti HIV dan kanker, atau pemilihan cara menjaga kesehatan seksual seperti penggunaan kondom.

Waktu ketika berkonsultasi atau berkunjung pada tenaga medis dapat menjadi momen tepat untuk melakukan edukasi. Biasanya, pertanyaan yang terkait dengan kesehatan seksual akan berbeda tergantung usia. Namun, bukan berarti akan mudah untuk menjawabnya. Beberapa faktor terkadang dapat menghambat jalannya diskusi, seperti pasien yang malu, khawatir, atau tidak nyaman untuk bertanya atau kurangnya pelatihan yang didapat oleh dokter terutama ketika berhadapan dengan pasien LGBT.

Walaupun demikian, tenaga medis, terutama dokter, tetap dapat memberikan edukasi sesuai dengan kompetensi masing-masing. Edukasi yang diberikan oleh dokter dapat mengenai perubahan fisik, kognitif, dan perkembangan psikologi, baik ke orang tua maupun anak-anak dan remaja. Orang-orang berpendapat bahwa tempat paling tepat untuk mendiskusikan masalah seksual adalah di tempat dokter. Mereka dapat bertanya ataupun memberitahu informasi pribadi terkait masalah seksual. Hal ini menguntungkan dokter, karena dengan begitu dokter dapat mengetahui pengobatan, perawatan, atau konseling yang tepat untuk pasien. Peran dokter lainnya adalah terkadang dapat mengambil peran orang tua dan menjadi mediator untuk membantu menanyakan informasi yang diinginkan dari sang anak, namun tetap menggunakan kesepakatan antarkedua pihak.

Tak dipungkiri juga bahwa orang tua tidak selalu dapat menjaga anak dari pengaruh buruk. Pendidikan yang tepat selama masa anak-anak hingga remaja sesuai norma dan hukum yang berlaku di masyarakat penting dilakukan untuk membangun karakter yang baik. Kerja sama berbagai pihak seperti orang tua, masyarakat, sekolah, dokter, dan lainnya sangat diperlukan untuk saling melengkapi. Pada akhirnya, perilaku menyimpang, penyakit, serta kejahatan pada masa depan dapat berkurang dan tercipta pula keadaan yang aman dan nyaman.

Referensi

  1. http://www.tribunnews.com/regional/2018/06/05/kecanduan-film-mesum-lelaki-ini-gauli-adik-kandung-hingga-hamil
  2. https://regional.kompas.com/read/2018/05/24/10344301/siswa-sd-hamili-siswi-smp-usia-kandungan-sudah-6-bulan
  3. https://www.kompas.tv/content/article/27102/video/berita-kompas-tv/oknum-guru-di-depok-akui-cabuli-13-siswanya
  4. World Health Organisation. Standards for sexuality education in Europe: a framework for policy makers, educational and health authorities and specialists. 2010;
  5. NHS Health Scotland. Talking with your child about relationships and sexual wellbeing. Scotland: 2010;
  6. Regional Municipality of Peel. Healthy sexuality. 2009; Available from: https://www.peelregion.ca/health/sexuality/whatis.htm
  7. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160521083036-20-132374/kemdikbud-pendidikan-seks-sudah-masuk-kurikulum
  8. Ford J V, Barnes R, Rompalo A, Hook EW, III. Sexual health training and education in the U.S. Public Health Rep [Internet]. 2013 [cited 2018 Jul 3];128 Suppl 1(Suppl 1):96–101. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23450890
  9. Breuner CC, Mattson G, COMMITTEE ON ADOLESCENCE CO, COMMITTEE ON PSYCHOSOCIAL ASPECTS OF CHILD AND FAMILY HEALTH COPAOCAF. Sexuality Education for Children and Adolescents. Pediatrics [Internet]. 2016 Aug 18 [cited 2018 Jul 3];138(2):e20161348. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27432844
FKUI 2017
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr