Baik herbal atau modern adalah pengobatan, namun mengapa keduanya tidak dapat dipadukan?

Obat adalah zat yang diformulasi agar memberikan pengaruh kepada pengguna yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan baik secara jasmani atau mental. Pengunaan obat saat sakit menjadi contoh, dimana kesembuhan adalah sebuah kenyamanan dan kebahagiaan bagi pasien dan kepada masyarakat di sekitarnya.

Obat tidak terbatas pada obat keras yang harus disertai resep dokter. Obat bebas adalah obat yang dapat diperoleh masyarakat tanpa mengunakan resep dokter sehingga mudah diperoleh dari apotek bahkan warung terdekat. Obat herbal adalah salah satu contoh lain obat yang digunakan oleh masyarakat dengan bahan alami, seperti jamu.

Obat-obatan yang dapat memberikan hasil baik mungkin baik jika dipadukan untuk memberikan efek yang lebih baik. Akan tetapi, hal tersebut terkadang tidak demikian. Efek pengobatan secara bersamaan terkadang memberikan efek yang saling menghilangkan, bahkan memberikan efek yang negatif. Hal ini disebabkan oleh interaksi obat.

Interaksi Obat: Sumber masalah konflik yang berkepanjangan

Dalam konteks ini, interaksi adalah perubahan yang dialami oleh zat-zat yang dikonsumsi akibat reaksi antar zat atau dengan tubuh. Ini bisa menyebabkan pengaruh terapeutik dari setiap zat yang diserap semakin meningkat, hilang, atau menjadi beracun. Kesempatan zat berinteraksi terjadi setiap saat karena tubuh selalu terpapar dengan zat apapun seperti makanan, minuman, dan bahan-bahan pada kulit. Namun, zat yang berinteraksi ini sering tidak menimbulkan suatu gejala yang membahayakan sehingga aman bagi tubuh seperti nasi dengan lauk.

Hal ini berbeda dalam obat. Beberapa obat memiliki  fungsi kerja yang lebih spesifik untuk mencegah interaksi. Namun, beberapa obat tetap harus melalui tahapan metabolisme yang memungkinkan interaksi yang memberikan efek samping atau mengurangi efek positif. Obat Antasid atau obat maag dapat berinteraksi dengan berbagai macam obat lainnya dengan menurunkan asam lambung sehingga beberapa sulit diserap ke dalam tubuh. Sebagian obat antikoagulan seperti warfarin dapat berinteraksi dengan pengobatan lain yang menurunkan efek anti-koagulasi, meningkatkan resiko hiperkoagulasi (pembekuan darah) yang dapat mengakibatkan stroke atau infark miokard.

Alasan utama dari larangan yang diberikan dokter terhadap beberapa jenis makanan, minuman, obat-obatan dalam sesi pengobatan berpusat pada interaksi obat. Larangan tersebut umumnya telah didasari penelitian dengan metode yang terstandar, atau pengamatan yang berulang. Hasil ini menjadi fondasi utama dalam keputusan dokter dalam pemberian obat dan menentukan batas-batas yang diharapkan para pasien menaatinya.

Obat Herbal dan Kontroversi Dewasa Ini

Obat herbal menjadi sebuah penemuan “baru” dalam era pengobatan modern karena obat-obatan ini memiliki bukti membuahkan efek positif yang terbukti secara aplikatif. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam menjadi salah satu negara dengan obat herbal yang tidak sedikit jumlahnya. Sebagian dari obat-obatan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan telah lama digunakan sebagai solusi alternatif pengobatan masyakarat dengan kekhasan berbagai daerah.

Akan tetapi, pengobatan ini sering kekurangan dukungan penelitian kuat untuk dipercaya pihak medis. Sebagian besar pengobatan herbal tidak dibuktikan efektif ketimbang obat resep dan obat herbal tidak terstandar kerap mudah dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Beberapa hal ini menjadi alasan kesulitan para dokter untuk memberikan obat yang tepat dan baik bagi pasien. Di sisi lain, pasien yang mengalami pengalaman buruk akibat interaksi obat resep dan obat herbal akan kehilangan kepercayaan kepada dokter dan beralih ke pengobatan yang belum terbukti dan berpotensi memperburuk kondisi pasien.

Pemerintah Indonesia telah memberikan sebuah solusi sementara masalah tersebut, dengan mendata dan membentuk klasifikasi obat herbal. “Jamu” meliputi obat herbal dengan kandungan tidak tetap yang belum diteliti dengan kaidah standar. “Obat herbal tersandar” adalah obat yang telah ditera secara standar atau dengan komponen bahan alami yang terukur namun belum diteliti sesuai kaidah standar. “Fitofarmaka” adalah obat herbal yang memiliki dosis dan telah didukung oleh penelitian terstandar. Dari seluruh klasifikasi ini, hanya obat herbal fitofarmaka yang dapat diresep oleh dokter kepada pasien, sedangkan obat-obat herbal lain belum diperbolehkan untuk mengantikan pengobatan modern.

Penelitian mengenai obat herbal dapat membantu dokter memutusan pengobatan yang tepat untuk para pasien. Untuk itu, masyarakat dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter mengenai pengobatan herbal yang sedang dijalani, dan berkontribusi kepada penelitian obat-obatan herbal yang sedang dijalankan.

Apa yang sebaiknya dilakukan saat ini?

Obat herbal, baik yang belum terdata, berlabel “Jamu” atau “Obat herbal terstandar” belum mendapatkan kesetujuan dalam pengobatan modern. Ini tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian obat tersebut dapat mengakibatkan interaksi yang tidak diinginkan. Sangat disarankan kepada semua orang untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai obat herbal yang hendak dikonsumsi atau menghindari konsumsi obat herbal tersebut masa pengobatan.

Referensi

  1. http://www.searo.who.int/entity/medicines/topics/traditional_medicines_in_republic_of_indonesia.pdf
  2. http://pipot.ubaya.ac.id/artikel/sejarah-obat-tradisional-indonesia
  3. http://sireka.pom.go.id/requirement/PMK-7-2012-Registrasi-Obat-Tradisional.pdf
  4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 381/Menkes/SK/III/2007. Tanggal 27 Maret 2007. Diambil dari: http://binfar.depkes.go.id/dat/lama/1206328790_Buku%20Kebijakan%20Obat%20Tradisional%20Nasional%20Tahun%202007.pdf
  5. Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic & Clinical Pharmacology. 12th NY: McGraw-Hill Companies, Inc., 2012;
  6. http://pionas.pom.go.id/ioni/lampiran-1-interaksi-obat-0
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr