Hanya cairan tubuh tertentu, antara lain darah, semen, cairan rectum, cairan vagina, dan ASI, dari pasien HIV yang dapat menularkan HIV. Cairan ini harus berkontak dengan mukosa atau jaringan yang rusak atau diinjeksikan secara langsung ke dalam pembuluh darah. Lapisan mukosa ditemukan dalam rektum, vagina, penis, dan mulut. Setelah lebih dari dua dekade sejak dimulainya penelitian terhadap metode transmisi HIV, hanya tiga metode yang diyakini sebagai metode primer dalam transmisi HIV, antara lain kontak seksual, paparan terhadap darah, terutama melalui penyalahgunaan jarum suntik dan transfusi, dan penularan perinatal dari ibu yang terinfeksi ke anak.

 

JALUR TRANSMISI HIV

  1. Kontak seksual

Kemungkinan seseorang terinfeksi HIV melalui satu kali kontak seksual berhubungan dengan beberapa faktor, antara lain derajat infeksi dari pasangan yang terinfeksi, kerentanan individu yang terpapar, jumlah pasangan, dan prevalensi HIV dalam populasi tersebut, dengan viral load HIV sebagai prediktor yang paling kuat. Faktor perilaku dan biologis juga mempengaruhi kemungkinan transmisi HIV. Sebagai contoh, perilaku anal sex lebih berisiko menularkan HIV daripada vaginal sex, yang lebih berisiko dibandingkan oral sex.

 

  1. Penularan melalui jarum suntik

HIV ditransmisikan melalui jarum yang terkontaminasi dan alat suntik lainnya. Faktor risiko yang berperan dalam transmisi HIV melalui jarum suntik, antara lain durasi penyalahgunaan jarum suntik, frekuensi berbagi jarum suntik, jumlah pasangan yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama, jumlah suntikan, dan prevalensi HIV pada populasi tersebut.

Transmisi HIV melalui jarum suntik tidak harus secara intravena; suntikan subkutan dan intramuskular juga dapat menularkan HIV, walaupun transmisi melalui kedua jalur suntik ini dianggap berisiko rendah.

 

  1. Penularan melalui transfusi darah

Kasus AIDS yang ditularkan melalui transfusi pertama kali dilaporkan pada tahun 1982. Diperkirakan lebih dari 90% individu yang terpapar dengan darah yang terkontaminasi HIV terinfeksi HIV. Walaupun skrining HIV sebelum transfusi telah digalakkan di seluruh dunia, bahkan di negara berkembang, pada kenyataannya transmisi HIV melalui transfusi darah terus terjadi karena skrining yang tidak adekuat. Transfusi whole blood, sel darah merah, platelet, leukosit, dan plasma dapat mentransmisikan HIV. Sebaliknya, gamma globulin hiperimun, immunoglobulin hepatitis B, dan immunoglobulin Rho tidak berhubungan dengan transmisi HIV.

 

  1. Penularan dari ibu ke janin

Transmisi HIV secara vertikal dapat terjadi pada saat kehamilan, kelahiran, atau menyusui. Namun, transmisi HIV dari ibu ke janin paling sering terjadi saat masa perinatal. Dua studi yang dilakukan di Rwanda dan Kongo mengindikasikan bahwa dari ketiga cara transmisi tersebut, proporsinya antara lain 23-30% sebelum kelahiran, 50-65% saat kelahiran, dan 12-20% melalui ASI. Seperti jalur transmisi lain yang telah dijelaskan sebelumnya, risiko transmisi HIV dari ibu ke janin dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya tingkat viremia ibu. Kemungkinan untuk terjadi transmisi vertikal sangat kecil apabila kadar viremia dalam plasma sang ibu kurang dari 1000 kopi RNA HIV/ml darah dan hampir tidak mungkin apabila kadar viremianya tidak dapat terdeteksi (< 50 kopi/ml). Tingkat kemiripan human leukocyte antigen (HLA) ibu dengan janin juga dihubungkan dengan peningkatan risiko transmisi.

Dewasa ini, laju transmisi HIV secara vertikal telah menurun hingga 1% atau kurang pada wanita hamil yang menerima terapi antiretrovirus kombinasi untuk menangani infeksi HIV. Pemberian terapi antiretrovirus dengan persalinan cesar menjadikan transmisi HIV dari ibu ke janin suatu hal yang jarang terjadi di Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

 

Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)

Menurut Kementerian Kesehatan, pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dilakukan melalui empat pilar, antara lain:

  1. pencegahan penularan HIV pada wanita usia reproduksi (15-49 tahun),
  2. pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita dengan HIV positif,
  3. pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya, dan
  4. dukungan psikologis, sosial, juga perawatan kesehatan lanjutan pada ibu yang terinfeksi HIV dan bayinya serta keluarganya.

 

  1. Pencegahan penularan HIV pada wanita usia reproduksi

Langkah ini merupakan pencegahan primer sekaligus langkah yang paling efektif untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Upaya ini menggunakan strategi “ABCD”, yaitu:

  • A (abstinence), yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah,
  • B (be faithful), yaitu tidak berganti-ganti pasangan seksual (setia kepada satu pasangan seksual),
  • C (condom), yaitu menggunakan kondom untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seks, dan
  • D (drug no), yaitu tidak menggunakan narkoba.

 

  1. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita dengan HIV positif

Wanita dengan HIV positif berpotensi menularkan virus ke janin yang dikandungnya apabila hamil. Oleh karena itu, wanita dengan HIV/AIDS disarankan untuk mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan yang menyediakan informasi dan sarana kontrasepsi yang efektif dan aman untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Namun, infeksi HIV bukan indikasi aborsi. Upaya pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita dengan HIV positif dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Wanita dengan HIV yang tidak ingin hamil bisa menggunakan kontrasepsi dengan disertai penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV juga infeksi menular seksual (IMS)
  • Wanita dengan HIV yang tidak ingin memiliki anak lagi dapat disarankan untuk menggunakan kontrasepsi mantap dan juga tetap menggunakan kondom.

Apabila wanita dengan HIV ingin memiliki anak, tenaga kesehatan perlu memberikan informasi yang lengkap mengenai kemungkinan yang dapat terjadi (terjadinya penularan dan peluang anak untuk tidak terinfeksi HIV). Tenaga kesehatan juga perlu memberikan informasi bahwa wanita dengan HIV tanpa indikasi pemberian terapi antiretrovirus yang ingin hamil akan menerima terapi antiretrovirus seumur hidupnya.

 

  1. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya

Pilar ketiga ini merupakan inti dari program PPIA. Upaya untuk mencegah penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandung, antara lain:

  1. pelayanan antenatal terpadu termasuk penawaran dan tes HIV
  2. diagnosis HIV, baik secara virologis dan serologis,
  3. pemberian terapi antiretrovirus, dengan kombinasi antiretrovirus, disesuaikan dengan kondisi klinis ibu dan mengikuti alur sebagai berikut.

Gambar 1. Alur pemberian terapi ARV pada ibu hamil. (sumber: Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak, Kementerian Kesehatan RI).

Regimen antiretrovirus kombinasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

  • AZT (zidovudine) + 3TC (lamivudine) + NVP (nevirapine), atau
  • TDF (tenofovir) + 3TC (atau FTC/emtricitabine) + NVP, atau
  • AZT + 3TC + EFV (efavirenz, kontraindikasi pada kehamilan trimester 1), atau
  • TDF + 3TC (atau FTC) + EFV.

Untuk ibu hamil dengan HIV/AIDS yang menderita tuberkulosis aktif, OAT (obat anti tuberkulosis) tetap diberikan. Apabila pemberian ARV dimulai pada trimester 2 dan 3, berikan regimen AZT (TDF) + 3TC + EFV.

  1. persalinan yang aman, cara persalinan ditentukan oleh ibu setelah mendapatkan informasi tentang pilihan persalinan, risiko penularan, juga berdasarkan penilaian dari tenaga kesehatan. Syarat untuk melakukan persalinan pervaginam pada ibu hamil dengan HIV adalah telah menerima pemberian ARV yang sekurangnya dimulai pada minggu ke-14 kehamilan atau viral load yang kurang dari 1.000 kopi/μL, sedangkan syarat untuk melakukan persalinan per abdominam (seksio sesarea) adalah adanya indikasi obstetrik dan viral load lebih dari 1.000 kopi/μL atau pemberian ARV dimulai pada minggu ke-36 kehamilan atau lebih.
  2. tatalaksana pemberian makanan bagi bayi dan anak. Bagi ibu dengan HIV yang telah dalam terapi ARV, WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan untuk bayinya. Adapun risiko penularan HIV dari ibu ke bayi pada pemberian ASI ekslusif, susu formula, dan mixed feeding (campuran antara ASI dan susu formula) berturut-turut adalah 5-15%, 0%, dan 24,1%. Walaupun susu formula memiliki risiko yang paling kecil untuk menularkan HIV dari ibu ke bayi, pemberian susu formula membutuhkan biaya lebih, akses ketersediaan air bersih dan botol susu yang higienis, yang mana sulit untuk dijalankan pada negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, ibu dengan HIV yang telah dalam terapi ARV juga memiliki kadar HIV yang sangat rendah sehingga relatif aman untuk menyusui bayinya.
  3. menunda dan mengatur kehamilan,
  4. pemberian profilaksis antiretrovirus dan kotrimoksazol pada anak, dimulai pada hari pertama setelah kelahiran selama 6 minggu. Terapi antiretrovirus yang diberikan adalah zidovudine (AZT/ZDV) dengan dosis 4 mg/kgBB dan diberikan sebanyak 2 kali sehari. Setelah 6 minggu, anak dapat diberikan kotrimoksazol dengan dosis 4-6 mg/kgBB, sebanyak 1 kali sehari, setiap hari hingga usia 1 tahun atau hingga diagnosis HIV ditegakkan.
  5. pemeriksaan diagnostik HIV pada anak.

 

  1. Dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan lanjutan pada ibu yang terinfeksi HIV dan bayinya serta keluarganya

Program PPIA tidak berhenti setelah ibu melahirkan karena HIV akan terus hidup di tubuh sang ibu. Sang ibu membutuhkan dukungan psikologis, sosial, dan perawatan sepanjang waktu. Hal ini perlu dilakukan karena sang ibu akan menghadapi masalah stigma dan diskriminasi oleh masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal yang terutama sangat penting untuk dijaga adalah kerahasiaan status HIV ibu. Dukungan juga diberikan pada anak dan keluarga. Beberapa hal yang mungkin diperlukan ibu dengan HIV pasca melahirkan, antara lain:

  • pemberian terapi ARV jangka panjang,
  • pengobatan gejala penyakitnya,
  • pemeriksaan kondisi kesehatan dan pemantauan terapi ARV (termasuk CD4 dan viral load),
  • konseling dan dukungan kontrasepsi & pengaturan kehamilan,
  • edukasi dan pemberian informasi tentang pemberian makanan untuk bayi,
  • pencegahan dan penatalaksanaan infeksi oportunistik untuk ibu dan bayi,
  • penyuluhan kepada anggota keluarga tentang penularan HIV dan pencegahannya,
  • layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat,
  • kunjungan ke rumah,
  • dukungan dari teman-teman sesama HIV positif, terutama sesama ibu dengan HIV,
  • adanya pendamping saat dirawat,
  • dukungan dari pasangan,
  • dukungan kegiatan peningkatan ekonomi keluarga, dan
  • dukungan perawatan dan pendidikan bagi sang anak.

Dengan upaya-upaya tersebut, sang ibu diharapkan dapat memiliki sifat optimis dan semangat dalam menjalani hidupnya, sehingga ia dapat selalu menjaga kesehatan dirinya juga anaknya dan berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV ke lingkungan sekitarnya. 

Jalur transmisi HIV yang paling utama adalah melalui hubungan seksual, jarum suntik, transfusi darah, dan secara vertikal dari ibu ke janin. Transmisi HIV secara vertikal dapat terjadi sebelum persalinan, saat persalinan, dan melalui ASI. Oleh karena itu, terapi antiretrovirus kombinasi perlu diberikan untuk menurunkan viral load ibu, yang merupakan faktor penting dalam penularan HIV dari ibu ke anak.

 

  1. Daftar Pustaka
  2. Bennett J, Dolin R, Blaser M. Mandell, Douglas, and Bennett’s Principles and Practice of Infectious Diseases. 8th Philadelphia: Elsevier Saunders; 2015. p. 1483-1502.
  3. Kasper D, Hauser S, Jameson J, Fauci A, Longo D, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 19th New York: McGraw-Hill; 2015. p. 1220-1223.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). 2nd Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2012. p. 15-30.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2014.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr