Tanggal 24 Maret dijadikan sebagai hari peringatan tuberkulosis sedunia, yakni tepat hari ini. Tuberkulosis kini menjadi penyakit yang umum ditemui di masyarakat Indonesia hingga tidak mengagetkan lagi bila anggota keluarga kita tiba-tiba pulang membawa kabar bahwa dirinya mengidap penyakit ini. Tuberkulosis memang mudah menyebar di Indonesia, selain karena penduduknya amat banyak, iklim negara ini sungguh mendukung kehidupan kuman-kuman renik seperti kuman tuberkulosis.

tb

 

Sebenarnya sebanyak apa kasus tuberkulosis di Indonesia?

Tidak main-main, Indonesia menjadi negara nomor dua di dunia dengan penderita tuberkulosis terbanyak setelah ‘naik peringkat’ dari urutan keempat beberapa tahun lalu. Selama tahun 2013, terdeteksi setidaknya sebanyak 183 dari 100.000 orang baru menderita tuberkulosis. Setahun kemudian, tercatat kasus baru yang jauh lebih banyak, yakni menjadi 399 dari 100.000 orang. Dengan adanya kasus baru yang makin banyak ini, hingga 2014 telah ditemukan 647 orang berstatus pasien tuberkulosis. Catatan kematian akibat tuberkulosis juga terlihat meningkat, yaitu dari 25 per 100.000 orang di tahun 2013 menjadi 41 per 100.000 orang pada 2014.

Penderita terbanyak penyakit ini berusia 25-34 tahun, yaitu sebanyak 18,65%, diikuti dengan kelompok usia 45-54 tahun dan 35-44 tahun sebanyak lebih dari 17%. Penderita berjenis kelamin laki-laki terdata lebih banyak daripada perempuan. Penyebaran penyakit terutama sangat mudah pada keluarga dengan banyak anggota dan pemukiman padat penduduk.

Pertambahan jumlah ini bukan semata-mata karena persebaran kuman makin meluas. Dampak dari kemajuan teknologi untuk mendeteksi penyakit dan kemauan masyarakat untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan membantu pendataan pasien-pasien tuberkulosis yang tak tercatat sebelumnya. Apakah hal ini baik? Ya, tentu saja dengan kemudahan mengenali pasien tuberkulosis, penanganan terhadap penyakit lebih luas dan tepat sasaran, walaupun harus diakui bahwa jumlah tersebut merepresentasikan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

Haruskah semakin meluas?

Melihat persebaran penyakit yang lebih mudah pada lingkungan padat orang, langkah preventif tentunya harus dilakukan tidak hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi juga masing-masing pribadi. Jika salah satu anggota keluarga menderita tuberkulosis, anggota keluarga lainnya perlu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memastikan ada tidaknya penularan. Selain itu, tindakan mencegah penularan secara langsung dari pasien harus diperhatikan dengan mencegah kontak, misalnya melalui pemakaian masker secara benar, dan patuh mengonsumsi obat antituberkulosis. Dengan keluarga sehat, perhatian untuk menunjang kesembuhan pasien pun terjamin.

Penyakit tuberkulosis bisa disembuhkan, namun perlu kesadaran dan kerja sama banyak orang agar rantai penularan penyakit terputus. Dengan demikian, hari peringatan tuberkulosis adalah peringatan akan banyaknya pekerjaan guna membebaskan diri dari penyakit ini. Perlukah dirayakan?

 

 

Referensi:

Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2016, p. 160-2.

WHO. Tuberculosis [Internet]. [udated 2017 Mar, cited 2017 Mar 24]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/

Veronika Renny Kurniawati
Redaktur Headline Media Aesculapius FKUI
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr