Pada tanggal 28 April 2017, American College of Cardiology (ACC) bersama American Heart Association (AHA) dan Heart Failure Society of America (HFSA) mengeluarkan perubahan terhadap guideline gagal jantung ACC/AHA 2013 dengan fokus utama pada diagnosis dan tatalaksana gagal jantung. Apa saja yang diperbarui pada guideline ini?

Biomarker Jantung

Seiring dengan berjalannya waktu, berbagai penelitian tentang biomarker gagal jantung semakin berkembang. Beberapa tahun terakhir, peptide natriuretik diteliti secara mendalam baik dalam pencegahan, diagnosis, serta penentuan prognosis pasien gagal jantung. Beberapa hal baru pada guideline gagal jantung ACC/AHA/HFSA berkaitan dengan peptida natriuretik adalah:

  • Peptida natriuretik (BNP atau NT-proBNP) tidak hanya digunakan untuk diagnosis gagal jantung, namun juga untuk eksklusi karena sensitivitasnya lebih tinggi.
  • Pada pasien berisiko, peptida natriuretik bermanfaat untuk pencegahan dan deteksi dini disfungsi ventrikel kiri dan gagal jantung awitan baru.
  • Pada gagal jantung dekompensata akut (ADHF), nilai peptida natriuretik pada saat masuk rumah sakit bermanfaat untuk menentukan prognosis pasien.
  • Pada pasien yang dirawat, nilai peptida natriuretik sebelum pulang rawat bermanfaat untuk mengetahui prognosis pascarawat inap.

Angiotensin Receptor-Neprilysin Inhibitor

Perubahan pada guideline ini juga membahas salah satu obat baru pada gagal jantung, angiotensin receptor-neprilysin inhibitor (ARNI), yang sudah mulai banyak digunakan. Rekomendasi yang muncul adalah:

  • ARNI dapat digunakan pada gagal jantung kronik dengan fraksi ejeksi rendah (HFrEF) untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas.
  • Pada pasien HFrEF simptomatik NYHA kelas II dan III, ARNI dapat menggantikan ACE-I dan ARB untuk lebih jauh menurunkan mortalitas dan morbiditas.
  • ARNI tidak boleh diberikan bersamaan dengan ACE-I atau minimal 36 jam setelah pemberian ACE-I terakhir.
  • ARNI tidak dianjurkan pada pasien dengan riwayat angioedema.

 

Beberapa hal yang juga dibahas pada guideline terbaru ini adalah penggunaan Ivabradine, sebuah penghambat kanal If di nodus sinoatrial, penatalaksanaan hipertensi pada gagal jantung, anemia (fokus pada terapi besi intravena dan eritropoietin), dan sleep apnea. Beberapa rekomendasi lainnya adalah bahwa penggunaan nitrat maupun PDE-5 inhibitor pada pengobatan harian gagal jantung dengan fraksi ejeksi baik (HFpEF) untuk memperbaiki kualitas hidup pasien terbukti tidak efektif. Perubahan guideline ini semakin melengkapi panduan dalam penatalaksanaan gagal jantung setelah sebelumnya pada tahun 2016, Eurpoean Society of Cardiology (ESC) mengeluarkan guideline terbarunya.

Meskipun beberapa pemeriksaaan dan obat-obatan yang disebutkan di atas belum sepenuhnya tersedia di Indonesia, tidak ada salahnya kita terus memperbarui ilmu kita bukan? Selamat membaca dan semoga bermanfaat!

Guideline terbaru dari ACC/AHA/HFSA tersebut dapat diunduh di: http://www.onlinejacc.org/content/early/2017/04/20/j.jacc.2017.04.025?_ga=2.22567039.5515358.1493479896-1926396747.1492095932

Pemimpin Umum Media Aesculapius 2016
Direksi Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr