Dunia telah memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2018. Di tengah sengitnya pro-kontra kampanye antirokok pada hari tersebut, dunia seakan lupa pada produk tembakau tanpa asap. Apa bahaya produk ini bagi kesehatan dan apa rencana WHO memeranginya?

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day/WNTD) 2018 yang bertema “Tobacco Breaks Hearts” dirayakan tanggal 31 Mei lalu. Pada hari tersebut, WHO (World Health Organization) melalui Tobacco Free Initiative sebagai penyelenggara peringatan kesehatan ini, mengajak masyarakat dunia untuk pantang mengonsumsi tembakau selama 24 jam sambil mengampanyekan bahaya tembakau bagi kesehatan, terutama jantung sebagai fokus utama tahun ini.

Sebagian masyarakat turut berperan dalam mendukung kampanye ini, terutama dengan memberikan kajian bahaya merokok. Di lain pihak, beberapa komunitas, seperti Komunitas Kretek Indonesia justru mengecam kampanye antitembakau dunia, bahkan menyebutnya sebagai “agenda rezim kesehatan” dan intimidasi terhadap perokok. Namun, perdebatan ini umumnya hanya mempersoalkan perihal perokok dan ruang khusus rokok. Padahal, terdapat produk tembakau lain dengan bahaya dan sifat adiktif yang sama, yaitu produk tembakau tanpa asap (smokeless tobacco).

 

Kampanye Tobacco Breaks Hearts 2018

Sumber Gambar : http://www.who.int/campaigns/no-tobacco-day/2018/wntd-2018-infographic-development-en.jpg

Produk tembakau tanpa asap dimaksudkan sebagai semua produk tembakau yang dapat digunakan tanpa perlu dibakar terlebih dahulu. Cara penggunaan tembakau ini umumnya dengan memakan tembakau secara langsung. Contohnya adalah tembakau sugi, yaitu lembaran tembakau yang diselipkan di mulut. Ada pula gutka, makanan India berupa bubuk tembakau dicampur rempah-rempah. Bentuk uap dari tembakau, seperti shisha dan hookah, juga termasuk dalam kategori produk ini.

Tembakau yang tidak dibakar terlebih dahulu memang tidak menjadikan orang sekitar sebagai perokok pasif (second-hand smokers). Bahkan, penggunaan tembakau dalam bentuk permen atau nicotine patch dengan dosis yang diatur dapat membantu transisi perokok yang ingin berhenti dari kebiasaannya. Sayangnya, kelebihan ini kerap disalahartikan oleh masyarakat sebagai amannya konsumsi rokok tanpa asap. Padahal, produk-produk ini tetap jauh dari kata sehat.

Konsumsi tembakau tanpa asap menimbulkan bahaya kanker mulut, kerongkongan, dan pankreas akibat zat kimia yang ada, yaitu nitrosamin. Penanaman tembakau di beberapa tempat juga menggunakan elemen radioaktif polonium-210. Risiko masalah kesehatan dari nikotin, seperti keguguran, penyakit jantung, keracunan nikotin, dan stroke juga tetap ada pada produk tanpa asap ini. Ditambah sifat adiktif nikotin, yaitu kemampuan untuk membuat penggunanya ketagihan, menjadikan konsumsi produk ini tetap membawa masalah ekonomi dan sosial.

Masalah konsumsi tembakau ini umumnya menjangkiti negara-negara di Asia, sebagian dari Afrika, dan Timur Tengah. Pemasaran produk ini dengan embel-embel keamanan dan kesehatan, ditambah iklan yang menargetkan kaum muda menjadi masalah besar yang tidak luput dari perhatian WHO dalam memeringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. WHO menargetkan terwujudnya dunia tanpa tembakau pada tahun 2040 sehingga dicanangkan kampanye yang mengecam produksi dan konsumsi semua bentuk tembakau, termasuk produk yang tidak dibakar pada tahun 2025 mendatang.

Terdapat beberapa tantangan dalam mewujudkan target ini, yaitu tidak efektifnya solusi khusus rokok, seperti ruang khusus rokok, rokok elektrik, dan masker dalam menangani risiko produk tembakau tanpa asap. Konsumsi tembakau dengan cara dimakan juga sulit diidentifikasi karena pihak otoritas ataupun orang sekitar tidak mampu membedakan produk apa yang sedang dikunyah oleh pengguna tembakau. Produk-produk ini menjadi pembunuh tersembunyi yang dapat mengancam nyawa.

Solusi yang sudah terbukti dapat mengurangi pemakaian produk ini adalah meningkatkan pajak secara progresif, sama seperti rokok. Namun, kurangnya kesadaran terhadap bahaya produk ini membuat pemerintah negara berkembang, seperti Nepal, India, Indonesia, dan Bangladesh yang merupakan pengguna tembakau terbesar, dinilai kurang mampu dalam memberikan tindak lanjut terhadap peringatan WHO.

Siap ataupun tidak, dunia kesehatan akan terus maju dan berkembang diikuti dengan tumbuhnya kesadaran mengenai bahaya produk ini. Kurang dari tujuh tahun setelah artikel ini ditulis, WHO bersama dunia akan mulai mengampanyekan penghentian semua produk tembakau. Masyarakat Indonesia perlu menghadapi kampanye yang akan datang dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai.

 

 

Referensi :

WHO International Agency for Research on Cancer. IARC monographs on the evaluation of carcinogenic risks to humans: volume 89. smokeless tobacco and some tobacco-specific N-nitrosamines. Lyon, France: WHO International Agency for Research on Cancer. 2007.

Beaglehole R, Bonita R, Yach D, Mackay J, Reddy KS. A tobacco-free world: a call to action to phase out the sale of tobacco products by 2040. The Lancet;2015;385(9972). p.1011-8.

Kania Indriani
FKUI 2016
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr