Rendang sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat dunia setelah sukses menjadi kontroversi pada sebuah kontes memasak di Britania Raya. Bagaimana tidak, rendang sudah dikenal sebagai makanan masyarakat kelas bawah hingga bangsawan. Dibalik segala kontroversi, makanan ini ternyata menyimpan segudang nutrisi.

Sumber: Google Images

Sumber: Google Images

Rendang adalah hasil olahan daging dengan rempah-rempah yang pertama kali dibuat oleh etnis Minangkabau yang berasal dari Sumatera Barat, Indonesia. Mengingat ketiadaan listrik pada zaman dahulu, makanan inipada mulanya merupakan cara leluhur untuk menciptakan daging yang tidak mudah rusak, umumnya daging sapi. Asal nama makanan tercipta dari nama proses pembuatan makanan itu sendiri yaitu ‘merendang’, sebuah proses memasak daging dengan santan dan rempah hingga campuran mengental, mengering, dan diresapi oleh bumbu.

Makanan ini memiliki berbagai macam manfaat, salah satunya dari kandungan fosfor yang merupakan mineral penting bagi tubuh. Penelitian menunjukan bahwa 100 gram rendang mengandung 272 miligram fosfor atau 27,2% angka kecukupan gizi per hari, lebih banyak 32% dibandingkan daging biasa. Fosfor penting dalam pembentukan tulang dan gigi, perkembangan kognitif, memperlancar pencernaan, meningkatkan penyerapan di usus, hingga detoksifikasi pada ginjal. Selain fosfor, makanan ini mengandung kadar karbohidrat (14%) sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan daging biasa (11%) sehingga dapat memberikan energi lebih untuk beraktivitas sehari-hari.

Meskipun memiliki kadar protein yang kurang lebih sama dengan daging biasa, protein pada rendang lebih mudah diserap oleh tubuh. Studi membuktikan bahwa protein rendang (30%) sekitar dua kali lebih mudah diserap dibandingkan protein daging biasa (16%). Protein merupakan substansi penting di dalam tubuh yang berperan dalam memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak. Selain itu, protein juga merupakan sumber energi dan materi bagi pembuatan hormon, enzim, dan antibody yang juga merupakan komponen penting untuk mempertahankan kesehatan jasmani.

Selain dari daging, rempah-rempah yang terkandung juga mengandung antioksidan dan antitoksin. Bawang yang merupakan komposisi dari bumbu rendang mengandung quercetin, sejenis flavonoid yang dapat mencegah stress oksidatif dan menangkal radikal bebas. Selain itu, santan yang terdapat pada rendang juga dapat meningkatkan produksi sel imun sehingga dapat membantu menetralisir racun yang ada di dalam tubuh.

Akan tetapi, konsumsi rendang juga perlu diperhatikan agar tidak berlebihan. Makanan ini memiliki kadar lemak (21%) tujuh kali lebih banyak dibandingkan daging biasa (3%), di mana 90% tersusun atas lemak jenuh. Lemak jenuh merupakan suatu jenis lemak tidak baik bagi tubuh yang dapat meningkatkan low density lipoprotein (LDL) di dalam tubuh. Peningkatan LDL akan meningkatkan risiko penggumpalan di dalam pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit-penyakit seperti stroke dan jantung.

Tidaklah mengherankan apabila rendangmasih menjadi primadona mancanegara. Meskipun dibuat secara tradisional, rasa makanan ini mampu mengguncang lidah dan membuat penikmatnya ketagihan. Selain gurih dan meningkatkan selera makan, makanan ini juga memiliki berbagai manfaat bagi tubuh. Akan tetapi, konsumsinya tetap harus bijaksana, yaitu secukupnya agar terhindar dari efek samping yang berbahaya di kemudian hari.

 

 

 

Referensi:

  1. Nurmufida M, Wangrimen GH, Reinalta R, Leonardi K. Rendang: The treasure of Minangkabau. 2017; 4(4): 232-5.
  2. Rini, Azima F, Sayuti K, Novelina. The evaluation of nutritional value of Rendang Minangkabau. 2015; 9(2): 335-41.
  3. Fajri PY, Astawan M, Wresdiyati T. Evaluasi nilai biologis protein rendang dan kalio khas Sumatera Barat. 2013; 36(2): 2338-58.
  4. Azja F, Novelina, Rini. Chemical characteristic and fatty acid profile in Rendang Minangkabau. 2016; 6(4): 465-8.
  5. Organic Facts. 10 Amazing benefits of phosphorus [Internet]. Updated 2018 February 26 [Cited 2018 April 9]. Available from: https://www.organicfacts.net/health-benefits/minerals/health-benefits-of-phosphorus.html
  6. Wu G. Dietary protein intake and human health. 2016; 7(3): 1251-65.
Jeremy Rafael Tandaju
Faculty of Medicine Universitas Indonesia
Cipto Mangunkusumo National General Hospital
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr