Malaria sebagai salah satu penyakit endemis di Indonesia yang mematikan tentu membuat masyarakat takut dan khawatir tertular penyakit ini. Pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk mencapai Indonesia bebas malaria. Namun, pernahkah Anda mendengar tentang vaksin malaria? Apakah vaksin malaria ini dapat menjadi jawaban untuk ketakutan masyarakat dan upaya terbaik untuk Indonesia bebas malaria?

 

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang marak ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Penyakit yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina ini kerap kali menyerang kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil, balita, dan bayi. Jika tidak diberikan tata laksana yang baik, pasien malaria dapat mengalami anemia, keguguran, bayi lahir kurang bulan (prematur), bayi dengan berat badan lahir rendah, hingga kematian. Oleh sebab itu, upaya pencegahan malaria terus digalakkan untuk dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria.

Salah satu upaya pencegahan malaria yang sedang dikembangkan adalah vaksin malaria. Dalam perkembangannya, vaksin malaria cukup sulit dibuat karena siklus hidup parasit yang kompleks, antigen yang bervariasi, dan kurangnya pemahaman tentang sistem imun manusia ketika terdapat infeksi Plasmodium falciparum, salah satu parasit penyebab malaria. Namun, saat ini terdapat RTS, S/AS01, kandidat pertama vaksin malaria akibat infeksi Plasmodium falciparum.

 

lifecycle

Vaksin RTS, S/AS01 mengandung antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) yang mana 25% bagiannya akan bersatu dengan circumsporozoite protein (CSP).  Vaksin ini bekerja pada stadium preeritrosit, yaitu fase sebelum parasit tersebut menyerang sel darah merah dan menimbulkan gejala klinis. Mekanisme kerja RTS, S/AS01 adalah mengurangi jumlah merozoit (fase yang dapat menyerang sel darah merah) masuk ke hati karena terdapat ekspresi CSP yang berfungsi menutupi permukaan parasit. Tujuannya adalah mengurangi jumlah merozoit yang akan masuk ke darah karena merozoit akan dilepaskan ke aliran darah setelah satu minggu berada di hati.

Vaksin ini telah diuji coba sebanyak tiga fase kepada bayi dan anak-anak di tujuh negara di Afrika. Fase pertama adalah fase melihat keamanan, rentang dosis, dan efek samping dari vaksin tersebut di sebuah kelompok kecil untuk pertama kalinya. Fase kedua adalah intervensi pemberian vaksin kepada kelompok yang lebih besar. Fase ketiga adalah fase untuk mengonfirmasi kemanjuran vaksin, melihat efek samping, dan melihat secara keseluruhan apakah vaksin ini dapat digunakan.

Ketiga fase tersebut memperlihatkan bahwa vaksin ini ditoleransi dengan baik oleh tubuh. Namun, terdapat risiko kejang demam dalam tujuh hari setelah pemberian vaksin. Berdasarkan Strategic Advisory Group of Experts on Immunization and the Malaria Policiy Advisory Committee (SAGE/MPAC) pada tahun 2015, vaksin ini akan diuji menggunakan pilot implementation programme melalui pemberian empat dosis RTS, S/AS01 kepada 750.000 anak di Ghana, Kenya, dan Malawi. Keputusan untuk dapat digunakan atau tidak dengan skala besar dapat ditentukan tiga hingga lima tahun setelah program tersebut. Oleh sebab itu, status vaksin RTS, S/AS01 pada tahun 2017 adalah fase empat yaitu fase untuk melihat efektivitas dan efek samping dari vaksin tersebut jika digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Di samping itu, masih banyak jenis vaksin malaria lain yang terus dikembangkan seperti ICC-1123, PfSPZ, dan lain-lain. Diharapkan perkembangan vaksin malaria ini dapat terus berjalan dengan baik sehingga dapat diimplementasikan ke seluruh wilayah tropis dan subtropis yang berisiko tinggi terkena malaria. Upaya pencegahan yang dapat terus dilakukan saat ini adalah mencegah gigitan nyamuk, mengendalikan vektor, dan memberikan terapi profilaksis.

 

 

Referensi:

  1. Subdit Malaria Direktorat P2PTVz Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku saku tatalaksan kasus malaria. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2017. p.3-5
  2. Coelho CH, Doritchamou JYA, Zaidi I, Duffy PE. Advances in malaria vaccine development: report from the 2017 malaria vaccine symposium. NPJ Vaccines. 2017;2:34.
  3. World Health Organization. Malaria vaccine development [internet]. World Health Organization: 2017 [cited 2018 April 11]. Available from: http://www.who.int/malaria/areas/vaccine/en/
  4. Crompton PD, Pierce SK, Miller LH. Advances and challenges in malaria vaccine development. J Clin Invest. 2010;120(12):4168-78.
  5. Centers for Disease Control and Prevention. Malaria [internet]. Centers for Disease Control and Prevention: 2017 [cited 2018 April 26]. Available from: https://www.cdc.gov/dpdx/malaria/index.html
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr