Pesepeda Lansia di Inggris. Sumber: University of Birmingham

Pesepeda Lansia di Inggris. Sumber: University of Birmingham

Dalam dunia kesehatan, manfaat aktivitas fisik rutin bagi tubuh sudah tidak dapat dipungkiri. Mulai dari menurunkan risiko terjadinya penyakit degeneratif seperti hipertensi, hingga pengaruh positifnya terhadap mood kita, olahraga memiliki segudang kebaikan. Dari sebab itu, aktivitas fisik telah menjadi bagian integral dalam gaya hidup sehat yang selalu digembar-gemborkan para promotor kesehatan. Bahkan, tidak jarang dokter ‘meresepkannya’ sebagai tata laksana suatu penyakit. Namun, tahukah Anda bahwa menurut sebuah studi yang baru-baru ini dipublikasikan para peneliti dari University of Birmingham dan King’s College London di Inggris, olahraga ternyata memiliki peranan dalam memperlambat proses penuaan sistem daya tahan tubuh (sistem imun) kita?

Kita Semua Akan Menua

Seperti yang kita ketahui, proses penuaan merupakan sebuah fenomena alami yang akan dilalui semua manusia. Dari sudut pandang kronologis, tahun demi tahun akan berjalan dengan laju yang sama pada setiap orang. Akan tetapi, respon tubuh kita terhadap perubahan kronologis inilah yang tidak dapat disamaratakan. Meskipun ada orang yang dapat hidup hingga satu abad, tidak sedikit juga yang hanya dapat menginjak umur 50 tahun. Pertanyaan inilah yang hendak dijawab oleh para peneliti di Inggris tadi. Mungkin, pemahaman kita selama ini terhadap penuaan fisik masih belum utuh. Di tengah teka-teki ini, fakta demi fakta akhirnya mulai terungkap. Penuaan sistem imun yang berperan dalam proses inflamasi dan pertahanan melawan infeksi, ternyata dipengaruhi oleh olahraga.

Layaknya Sistem Imun Anak Muda

Dalam studi yang dirilis di jurnal Aging Cell belum lama ini, para peneliti membandingkan performa sistem imun para pesepeda lansia dengan mereka yang tidak berolahraga. Kelompok pesepeda ini terdiri atas 125 orang lansia (umur 55-79 tahun) yang telah mempertahankan tingkat aktivitas fisik yang tinggi semasa hidup mereka. Sebagai kelompok pembanding, sebanyak 75 orang lansia berumur sama dan 55 orang dewasa muda (umur 20-36 tahun) yang tidak melakukan aktivitas fisik rutin juga diikutsertakan.

Hasil yang didapatkan sangatlah mengejutkan. Pada populasi lansia yang rutin bersepeda, didapatkan bahwa timus mereka, sebuah organ dalam tubuh yang memproduksi sel imun yang dinamakan sel T, masih memiliki laju produksi sel T yang sama dengan timus orang muda berumur 20-36 tahun. Padahal, pada kondisi normal, mulai usia 20 tahun, organ timus ini akan semakin mengecil (mengalami atrofi) dan laju produksi sel T nya pun akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Sebagai ‘barisan tentara’ pertahanan tubuh kita, sel T terlibat aktif dalam imunitas adaptif; sebuah mekanisme penting pertahanan tubuh dalam melawan infeksi virus atau bakteri. Pada proses vaksinasi, mekanisme daya tahan tubuh inilah yang hendak ‘dibangkitkan’, memungkinkan kita untuk mendapat proteksi seumur hidup terhadap suatu penyakit infeksi.

Selain efeknya terhadap peningkatan produksi sel T, para lansia aktif ini ternyata juga memiliki kadar IL-7 yang lebih tinggi dalam darah mereka. Senyawa IL-7 ini berperan dalam mencegah terjadinya atrofi timus. Di lain sisi, senyawa IL-6 yang merupakan promotor terjadinya atrofi timus ditemukan dalam kadar yang rendah pada para pesepeda ini. Tidak berhenti sampai situ, para lansia ini juga memiliki sel-sel imun lain yang berperan mencegah penyakit autoimun dalam jumlah yang lebih banyak.

Dilansir dari BBC, Profesor Janet Lord, salah satu peneliti dari University of Birmingham yang ikut ambil bagian dalama studi ini mengatakan,

“Sistem imun akan mengalami penurunan performa sebesar 2-3% setiap tahunnya sejak usia 20 tahun. Inilah mengapa para lansia lebih rentan terhadap infeksi, penyakit seperti rheumatoid arthritis, dan kemungkinan besar kanker. Karena para pesepeda dalam penelitian ini memiliki sistem imun layaknya seseorang yang berumur 20 tahun, mereka memiliki proteksi tambahan terhadap risiko-risiko tadi.”

Penelitian ini telah membuktikan bahwa dengan melakukan aktivitas fisik teratur, kita dapat mencegah sistem imun kita menjadi ‘tua’. Olahraga membantu sistem daya tahan tubuh kita tetap prima di saat kita, yang setiap tahunnya menua, semakin rentan terhadap berbagai penyakit.

Jadi, di saat Anda merasa malas untuk beranjak dari tempat tidur dan berolahraga, setidaknya pertimbangkanlah ini: Menjadi tua merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari. Namun, sesehat apakah kita ketika ‘tua’ nanti datang, itulah yang dapat kita tentukan mulai detik ini.


 

Referensi:

  1. Duggal NA, Pollock RD, Lazarus NR, Harridge S, Lord JM. Major features of immunesenescence, including reduced thymic output, are ameliorated by high levels of physical activity in adulthood. Aging cell. 2018 Apr 1;17(2).
  2. University of Birmingham. A lifetime of regular exercise slows down aging, study finds [Internet]. ScienceDaily. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: https://www.sciencedaily.com/releases/2018/03/180308143123.htm.
  3. Reynolds G. How exercise can keep aging muscles and immune systems ‘young’ [Internet]. Nytimes.com. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: https://www.nytimes.com/2018/03/14/well/move/how-exercise-can-keep-aging-muscles-and-immune-systems-young.html.
  4. Walsh F. How exercise in old age prevents the immune system from declining [Internet]. BBC News. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: http://www.bbc.com/news/health-43308729.
Nathaniel Aditya
A medical student who enjoys running and bike riding.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr