Mengabdi di daerah yang jauh dari asal bukanlah perkara mudah. Banyak rintangan dan kendala yang harus dihadapi ketika menjalaninya.

dr. Lutherdr. Luther Holan Parasian Napitupulu

Dokter PTT di kota Sorong, Papua

Bekerja di daerah yang jauh dari tempat asal memberikan kesan dan pengalaman tersendiri. Kabupaten Sorong menjadi pilihan saya untuk mendapatkan keduanya. Sorong, tempat yang terdengar tak asing namun belum banyak yang mengetahui letaknya, menjadi tempat pilihan saya untuk internsip. Lokasi Kabupaten Sorong terletak di Provinsi Papua Barat dan merupakan “pintu masuk” Pulau Papua dari daerah Indonesia bagian barat dan tengah.

Banyak pertimbangan dan ancaman ketika memilih untuk internsip di tempat yang jauh dan baru. Ancaman yang paling banyak ditanyakan orang kepada saya adalah adaptasi kultural dan penyakit endemik malaria. Adaptasi kultural tidaklah terlalu sulit bagi saya yang didukung oleh lingkungan saya. Ditemani oleh sejawat dan pendatang peserta urbanisasi membuat saya dan para pendatang lebih mudah beradaptasi. Bahasa menjadi masalah yang cukup menantang. Walaupun penggunaan kosa kata tidak jauh berbeda dengan logat khas Papua, ada sebagian orang tua yang berasal dari pelosok Kabupaten Sorong yang belum bisa berbahasa Indonesia. Namun, hal inilah yang membuat kami banyak belajar mengenai kultur dan bahasa di Sorong. Kekhawatiran yang kedua ialah masalah penyakit endemik di papua, malaria. Bermodalkan profilaksis mekanik, kami menyelesaikan tugas satu tahun dengan terbebas dari penyakit malaria.

Kasus unik yang terjadi contohnya adalah tinea imbrikata. Penyakit yang dulu saya pelajari sebagai bahan kuliah ini merupakan penyakit kulit akibat infeksi jamur yang memberikan gambaran khas seperti tato dan umum ditemukan di Papua. Kasus trauma yang umum terjadi biasanya disebabkan oleh berbagai macam, mulai dari kecelakaan lalu lintas akibat mabuk hingga seunik tertancap mata kail pancing. Disamping kasus-kasus tersebut, minimnya fasilitas kesehatan juga menjadi pengalaman tersendiri; ketika terbiasa mendiagnosis stroke dengan CT Scan, kini kami mengandalkan anamnesis dan skoring untuk mendiagnosis kasus tersebut karena kendala fasilitas.

Ketika berada di Sorong, kasus umum yang spesial di Papua adalah malaria. Mulai dari yang ringan hingga yang menyebabkan penurunan kesadaran atau disebut malaria serebral. Pemahaman mendalam mengenai malaria adalah bekal yang saya dapat dari Papua. Selain itu, HIV menjadi perhatian kami, para dokter internsip, sehingga kami membuat proyek berupa penyuluhan ke siswa sekolah, guru, dan pegawai perusahaan mengenai HIV. Hasil dari proyek tersebut dipresentasikan oleh perwakilan kelompok kami di salah satu konferensi internasional di Jakarta pada tahun 2017 dan dibuat buku panduan pengajaran HIV untuk guru.

Untuk hiburan, kami tidak jalan-jalan ke mall atau menonton di bioskop. Alasannya bukan karena untuk hidup irit, tetapi karena belum tersedianya fasilitas tersebut. Hiburan kami adalah jelajah alam dan kumpul barbeque ikan laut bersama teman-teman. Destinasi wisata alam utama tentunya adalah Raja Ampat yang letaknya sangat dekat dengan Sorong. Beberapa kali kami berkesempatan menikmati indahnya alam Raja Ampat yang terkenal hingga mancanegara.

Kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang menarik memang lebih mudah didapat kalau kita berada di tempat yang baru dan asing. Momen internsip bisa menjadi kesempatan tersebut. Meskipun pasti ada berbagai ancaman, namun pengalaman unik dan kenangan menyempurnakan pembelajaran kami. Worth a try.

FKUI 2017
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr