Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau stress dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Namun di sisi lain, efek positif stress juga besar, baik untuk kelangsungan hidup maupun produktivitas seseorang. Bagaimana cara menyikapi stress agar kita mendapatkan dampak positifnya dan terhindar dari dampak negatifnya?

What-Are-The-Symptoms-And-Signs-Of-Out-Of-Control-Stress

 

Apa itu stress?

Stress merupakan suatu kondisi mental yang dicetuskan dari berbagai situasi yang membutuhkan penyesuaian sikap; mulai dari masalah kecil yang terjadi sehari-hari, hingga masalah besar seperti kematian seseorang yang dicintai atau perceraian. Pada kondisi stress, terjadi perubahan kerja organ tubuh, antara lain peningkatan tekanan darah, peningkatan kecepatan nadi, dan peningkatan kecepatan napas. Perubahan ini dimaksudkan agar tubuh menjadi “siaga” dan siap untuk menghadapi bahaya atau tantangan tertentu.

Secara garis besar, stress dapat dibagi menjadi stress akut dan stress kronik. Stress akut terjadi dalam jangka pendek, contohnya yang dialami oleh seorang siswa yang sedang menunggu giliran untuk mempresentasikan tugasnya di depan kelas. Sementara itu, stress kronik terjadi dalam jangka panjang. Penyebabnya beragam, contohnya karena kondisi ekonomi yang buruk atau memiliki pekerjaan yang tidak disenangi.

acutevschronicstress350i

 

Efek negatif stress

Stress yang terjadi dalam jangka panjang (stress kronik) dapat memberikan efek negatif yang besar, baik secara fisik maupun mental. Beberapa efek negatifnya antara lain:

  • Kadar hormon stress (kortisol) di dalam tubuh akan meningkat, kemudian hormon ini akan berikatan dengan reseptornya di area hipokampus, bagian otak yang mengatur memori. Efeknya adalah turunnya pembentukan sel saraf baru di area tersebut. Hal ini menyebabkan terganggunya pembentukan memori.
  • Peningkatan kadar gula darah. Hal ini disebabkan karena hormon kortisol yang diproduksi saat stress mengganggu konsumsi gula darah oleh sel tubuh dan memicu pembentukan gula darah oleh liver.
  • Peningkatan tekanan darah secara sementara karena hormon adrenalin yang diproduksi saat stress dapat menyempitkan pembuluh darah. Efek stress terhadap peningkatan tekanan darah dalam jangka panjang masih diteliti, namun diperkirakan disebabkan oleh ketidakseimbangan sistem imun pada kondisi stress.
  • Peningkatan risiko serangan jantung sebanyak 2,1 kali lebih besar.
  • Peningkatan kadar kolesterol. Berdasarkan penelitian, kadar kolesterol dapat naik 5% akibat stress.
  • Pada pasien stress, ditemukan panjang telomer didalam sel yang lebih pendek (telomer merupakan indikator usia sel; semakin tua suatu sel, semakin pendek telomernya). Hal ini menunjukkan bahwa stress mempercepat terjadinya penuaan.
  • Karena tubuh terus-menerus dalam kondisi siaga, lama-kelamaan tubuh akan mengalami kelelahan.

 

Efek positif stress

Dibalik daftar panjang dampak negatif yang dapat ditimbulkannya, ternyata stress dalam jumlah yang tepat dapat juga memberikan efek yang sangat menguntungkan. Berbagai sisi positif yang terutama dapat ditemukan pada kondisi stress akut, antara lain:

  • Stress pada dasarnya merupakan bentuk “persiapan” tubuh untuk menghadapi ancaman, sehingga dalam kadar yang cukup, stress dapat membantu seseorang menghasilkan performa yang optimal. Performa ini dapat dalam bentuk performa kognitif maupun sikap. Namun, efek positif ini hanya ditemukan hingga kadar stress tertentu; lebih dari itu, stress akan menurunkan performa.
  • Berlawanan dengan stress kronik yang dapat mengganggu memori, stress akut dalam kadar sedang (moderate) akan memicu pembelahan sel-sel otak baru di hipokampus, yang dapat meningkatkan memori.
  • Stress meningkatkan imunitas tubuh; stress ringan menyebabkan mobilisasi sel-sel pertahanan tubuh kedalam peredaran darah.
  • Stress harian dalam jumlah sedang meningkatkan ketahanan sel-sel tubuh terhadap kerusakan akibat radikal bebas.

 

Minimalisasi efek negatif stress

Berita buruknya, stress tidak dapat sepenuhnya Anda hindari, apalagi dengan tuntutan yang semakin tinggi di era globalisasi ini. Namun berita baiknya, Anda dapat meminimalisasi efek negatif tersebut dan mengoptimalkan efek positifnya. Berikut beberapa tipsnya:

  • Berolahraga teratur dipercaya dapat “menyalurkan” respon stress yang dihasilkan oleh tubuh sehingga tidak menimbulkan efek yang membahayakan. Olahraga juga akan memicu pelepasan hormon endorfin oleh tubuh, yang dapat melawan kerja hormon stress kortisol.
  • Melakukan relaksasi secara berkala, misalnya dalam bentuk meditasi, berdoa dan melakukan ritual keagamaan lainnya. Sekalipun sedang sibuk, sempatkan paling tidak 15-20 menit dalam sehari untuk relaksasi.
  • Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang menyayangi dan men-support Anda. Berkontak dengan orang lain akan menyebabkan dilepaskannya hormon oksitosin. Hormon ini dapat melindungi jantung dari efek negatif stress. Jadi, jangan ragu untuk mendekatkan diri atau menceritakan masalah yang membuat Anda stress ke orang-orang terdekat Anda.
  • Bantu orang lain di sekitar Anda. Studi membuktikan bahwa untuk setiap satu kondisi stress besar, seperti krisis keuangan, risiko kematian meningkat 30%. Namun efek ini tidak ditemukan pada subjek yang menggunakan banyak waktunya untuk menolong orang lain. Dengan kata lain, kepedulian terhadap orang lain meningkatkan ketahanan seseorang terhadap stress.
  • Penelitian menunjukkan bahwa stress dalam jumlah besar meningkatkan risiko seseorang mengalami kematian sebanyak 43%. Namun, peningkatan risiko ini hanya berlaku pada individu yang percaya bahwa stress adalah hal yang berbahaya bagi mereka. Individu yang mengalami stress dalam jumlah besar namun percaya bahwa stress tidak memiliki efek buruk bagi mereka memiliki risiko kematian yang kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan individu yang mengalami stress dalam jumlah kecil. Oleh karena itu, setelah ini jika Anda akan maju presentasi dan merasakan jantung Anda berdegup kencang dan napas Anda menjadi lebih cepat, katakan pada diri Anda, “jantungku bekerja lebih kuat untuk memompa darah ke otak, napasku menjadi lebih cepat agar pasokan oksigen ke otakku bertambah,”. Cara pandang yang positif terhadap stress seperti ini dapat menurunkan efek negatif stress dan mengoptimalkan efek positif dari stress.
  • Studi menunjukkan bahwa seseorang yang merasa tidak memiliki “kontrol” akan hidupnya, mengalami stress yang lebih tinggi dibandingkan seseorang yang merasa memiliki kontrol akan hidupnya. Oleh karena itu, mulailah untuk memikirkan masalah-masalah yang dapat Anda kontrol dan buat rencana konkrit untuk menyelesaikannya. Selain itu, cobalah untuk menerima hal-hal yang memang tidak dapat Anda kontrol. Anda memang tidak bisa mengontrol semua hal di hidup Anda, namun Anda dapat menentukan bagaimana Anda menyikapinya secara emosi dan psikis.

 

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa stress dalam kadar yang cukup dapat menguntungkan. Jadi, jangan takut untuk memilih pekerjaan atau jalan hidup yang menantang namun berarti bagi Anda; stress-stress akut yang Anda rasakan memiliki efek yang baik, selama stress tersebut bersifat ringan-sedang dan tidak berubah menjadi stress kronik.

Tidak ada kadar stress yang dianggap “cukup” yang berlaku untuk semua orang; masing-masing orang memiliki kadar stress optimal yang berbeda satu dengan yang lain. Jika Anda merasa bahwa tingkat stress Anda sudah terlalu tinggi hingga menyebabkan Anda bekerja tidak maksimal dan memberikan efek buruk terhadap diri Anda, cara-cara yang diuraikan diatas patut dicoba. Stress mungkin tidak dapat dihindari, namun Anda selalu bisa memilih cara menyikapi stress tersebut dan menentukan apa yang akan Anda lakukan saat sedang stress; hal tersebut akan membuat banyak perbedaan.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Jamieson JP, Nock MK, Mendes WB. Mind over Matter: Reappraising Arousal Improves Cardiovascular and Cognitive Responses to Stress. Journal of experimental psychology General. 2012;141(3):417-422. doi:10.1037/a0025719.
  2. Yan YX, Xiao HB, Dong J. Investigation of the relationship between chronic stress and insulin resistance in a chinese population. J Epidemiol. 2016;26(7):355-360. Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4919480/
  3. Dimsdale JE. Psychological Stress and Cardiovascular Disease. Journal of the American College of Cardiology. 2008;51(13). doi: 10.1016/j.jacc.2007.12.024
  4. Paoulin MJ, SL Brown, Dillard AJ, Smith DM. Giving to others and the association between stress and mortality. Am J Public Health. 2013;103(9):1649-55. doi: 10.2105/AJPH.2012.300876.
  5. Jamieson JP, Mendes WB, Nock MK. Improving acute stress responses: the power of reappraisal. Association for psychological science. 2012. doi: 10.1177/0963721412461500.
  6. Kirby ED, Muroy SE, Sun WG, Covarrubias D, Leong MJ, Barchas LA, et al. Acute stress enhances adult rat hippocampal neurogenesis and activation of newborn neurons via secreted astrocytic FGF2. eLife. 2013. doi: 10.7554/eLife.00362.
  7. Benson H, Allen RL. How much stress is too much? [Internet]. Diperbarui September 1980. Diunduh dari: https://hbr.org/1980/09/how-much-stress-is-too-much
  8. Sanders R. Researchers find out why some stress is good for you. [Internet]. Diperbarui April 2013. Diunduh dari: http://news.berkeley.edu/2013/04/16/researchers-find-out-why-some-stress-is-good-for-you/
  9. Singer T. The perfect amount of stress. [Internet]. Diperbarui Juni 2016. Diunduh dari: https://www.psychologytoday.com/us/articles/201203/the-perfect-amount-stress
  10. Miller HL, Smith AD. Stress: the different kind of stress. [Internet]. Diunduh dari: http://www.apa.org/helpcenter/stress-kinds.aspx
  11. McGonigal K. How to make stress your friend. TEDGlobal 2013; 2013.
  12. American heart association. Managing stress to control high blood pressure [Internet]. Diperbarui Jan 2018. Diunduh dari: http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HighBloodPressure/MakeChangesThatMatter/Managing-Stress-to-Control-High-Blood-Pressure_UCM_301883_Article.jsp#.WyDlboozbIV
Hiradipta Ardining
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Angkatan 2013.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr