Image result for stunting

 

Tulisan ini dibuat karena sampai saat ini, masyarakat masih beranggapan orang bertubuh pendek merupakan faktor keturunan yang tanpa disadari bahwa bertubuh pendek merupakan suatu masalah gizi dan mempunyai dampak panjang terhadap kualitas hidup seseorang.  Stunting (pendek) sering tidak disadari oleh keluarga, terutama jika mereka tinggal pada lingkungan, dimana bertubuh pendek merupakan hal yang biasa dan tampak normal. Bahkan para petugas kesehatan, secara umum tidak memberikan perhatian yang sama terhadap stunting, bila dibandingkan dengan kejadian underweight (berat badan terhadap usia (BB/U) < -2SD) atau wasting (berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) < -2SD), terutama jika tinggi badan atau panjang badan tidak diukur secara rutin. Banyak keluarga, petugas kesehatan, dan pembuat kebijakan tidak sadar akan akibat dari stunting sehingga tidak dianggap sebagai sebuah masalah kesehatan yang serius dalam masyarakat.1

 

Stunting terjadi pada 1 dari 3 anak di bawah usia 5 tahun pada negara dengan pendapatan rendah dan menengah, dengan total 178 juta anak. Prevalens stunting tertinggi terjadi di Afrika (40%) dan jumlah terbesar anak stunted berada di  Asia (112 juta).2 Pada tahun 2012, diperkirakan terdapat 162 juta balita pendek secara global.  Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) diperoleh prevalens pendek (stunting) secara nasional pada tahun 2013 adalah 37,2% atau sekitar 9 juta anak di Indonesia mengalami stunting.3,4 Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan terjadi peningkatan prevalens dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Prevalens pendek sebesar 37,2% terdiri dari 18% sangat pendek dan 19,2% pendek. Jumlah kasus stunting tertinggi umumnya berada di Indonesia bagian timur, yaitu provinsi Nusa Tenggara Timur (51,7%), Sulawesi Barat (48,0%) dan Nusa Tenggara Barat (45,3%), sedangkan jumlah kasus terendah berada pada Kepulauan Riau (26,3%), DI Yogyakarta (27,2%) dan DKI Jakarta (27,5%).3

Berdasarkan UNSD tahun 2014, prevalens stunting di Indonesia tertinggi bila dibandingkan dengan Myanmar (35%), Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand3(16%) dan Singapura (4%) (UNSD, 2014). Global Nutrition Report tahun 2014 juga menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting dan overweight pada balita. Pada tahun 2015, berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG), sebesar 29% balita Indonesia termasuk kategori pendek. Menurut WHO, prevalens balita pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih. Oleh karena itu, persentase balita pendek di Indonesia masih tinggi dan merupakan masalah kesehatan yang harus ditanggulangi.3 Penurunan prevalens bayi/balita pendek (stunting) sudah termasuk dalam salah satu program prioritas pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah tahun 2015-2019. Target penurunan prevalens stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak bawah dua tahun adalah menjadi 28%.3

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U).3 Perbedaan panjang badan dan tinggi badan adalah berdasarkan usia anak pada saat pengukuran, bila anak berusia kurang dari 2 tahun maka yang diukur adalah panjang badan, sedangkan bila anak berusia 2 tahun atau lebih maka yang diukur adalah tinggi badan. Berdasarkan modul penilaian antropometri WHO, jika anak berusia kurang dari 2 tahun, tetapi dilakukan pengukuran tinggi badan, maka hasil harus dikonversi menjadi panjang badan dengan menambahkan 0,7 cm. Sebaliknya, jika anak berusia 2 tahun atau lebih, tetapi diukur panjang badan, maka hasil pengukuran dikurangi 0,7 cm untuk dikonversi menjadi tinggi badan.5

Balita pendek (stunting) dapat diketahui apabila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di bawah normal. Balita pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umurnya (length for age (LAZ) / height for age (HAZ)) bila dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, nilai z-score kurang dari -2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-score kurang dari -3SD.3

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan zat gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya.4 Kekurangan gizi kronis pada anak dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan nutrisi ibu/calon ibu yang buruk, asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dari bayi dan balita, serta seringnya infeksi selama masa awal kehidupan.1,3,6

Status kesehatan dan nutrisi ibu sebelum, selama, dan setelah hamil mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, dimulai sejak di dalam kandungan.7 Penghambatan pertumbuhan janin di dalam kandungan karena kekurangan gizi pada ibu menyebabkan kejadian anak stunting sebesar 20%.8 Kondisi lain pada ibu yang turut berkontribusi pada kejadian stunting adalah perawakan pendek, jarak kelahiran pendek, kehamilan pada usia remaja (gangguan ketersediaan nutrisi bagi fetus, berkompetisi dengan kebutuhan pertumbuhan pada ibu).1

Asupan nutrisi yang tidak adekuat pada bayi atau balita yang berkontribusi pada stunting mencakup pemberian ASI tidak optimal (ASI non eksklusif) dan pemberian makanan tambahan yang terbatas pada kuantitas, kualitas dan keragaman.1

Penyakit infeksi berat yang menyebabkan wasting, mempunyai efek jangka panjang pada pertumbuhan linear, bergantung pada keparahan, durasi, dan rekurensi, terutama jika asupan makanan tidak cukup untuk mendukung penyembuhan.1 Infeksi subklinik, berasal dari paparan lingkungan dengan kondisi kebersihan yang buruk, mengakibatkan malabsorpsi zat gizi dan berkurangnya kemampuan fungsi usus sebagai barrier melawan organisme penyebab penyakit.9 Selain itu, stunting juga terjadi karena kemiskinan, pengabaian oleh pengasuh, dan ketidakamanan pangan.1

Stunting bukan hanya masalah perawakan pendek, namun stunting juga mempunyai efek jangka panjang pada individu maupun komunitas, yaitu anak stunting lebih rentan terhadap penyakit, cenderung bermasalah di sekolah dan sebagai orang dewasa, peluang untuk mendapatkan pekerjaan lebih rendah dibandingkan orang dewasa dengan perawakan normal.1 The Maternal and Child Undernutrition Study Group melakukan review  penelitian kohort pada 5 negara dengan pendapatan rendah dan menengah: Brazil, Guatemala, India, Filipina, dan Afrika Selatan. Penelitian ini meliputi pemantauan jangka panjang sejak masa anak hingga remaja dan dewasa. Kelompok penelitian tersebut menyimpulkan bahwa berat lahir rendah dan stunting pada masa anak berhubungan dengan dewasa perawakan pendek, pengurangan masa otot tubuh, kurang pendidikan, berkurangnya fungsi intelektual, dan berat lahir rendah pada bayi yang dilahirkan dari wanita yang pernah mengalami stunted pada masa kecilnya.10 Bukti terbaru menyebutkan anak yang lahir dari wanita yang stunted memiliki risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu dengan tinggi badan normal.7

Anak stunting yang mengalami peningkatan berat badan yang cepat setelah usia 2 tahun memiliki peningkatan risiko menjadi overweight atau obese di masa mendatang. Peningkatan berat badan tersebut juga berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi dan diabetes tipe 2.1

Proses menjadi stunted yang disebabkan oleh restriksi asupan zat gizi dan atau seringnya infeksi, mungkin penyebab umum perawakan pendek dan kerusakan struktural dan fungsi dari otak, berakibat perkembangan fungsi kognitif yang terlambat serta gangguan kognitif yang permanen.11 The Maternal and Child Undernutrition Study menggunakan data kohort yang sama menemukan bahwa stunted yang terjadi pada usia 24 bulan berhubungan dengan tidak bersekolah sebesar 0,9%, usia masuk sekolah yang lebih tua, dan 16% peningkatan risiko tidak naik kelas, setelah dilakukan kontrol pada confounding variabel seperti jenis kelamin dan status sosioekonomi12

Penelitian pada orang dewasa di Guatemala juga memperoleh subjek yang mengalami stunted pada masa kanak-kanak mempunyai riwayat kurang berpendidikan, performa tes yang rendah, pengeluaran rumah tangga per kapita yang rendah, dan kecenderungan besar untuk tinggal dalam kemiskinan.1

Perawakan pendek juga dihubungkan dengan produktivitas ekonomi yang rendah. Pada penelitian cross sectional di Brazil, peningkatan tinggi badan sebesar 1% berhubungan dengan peningkatan upah sebesar 2,4%.13 Laki-laki dan wanita yang lebih tinggi menghasilkan pendapatan yang lebih banyak, walaupun setelah dilakukan kontrol terhadap pendidikan dan indikator kesehatan lainnya, seperti BMI.14 Berdasarkan perkiraan World Bank, 1% kehilangan tinggi badan pada dewasa karena stunting pada masa anak berhubungan dengan berkurangnya produktivitas ekonomi sebesar 1,4%, diperkirakan bahwa anak dengan stunted akan mempunyai pendapatan lebih kecil 20% sebagai dewasa, dibandingkan individu yang tidak stunted.1 Pakar ekonomi memperkirakan bahwa stunting dapat mengurangi produk domestik bruto suatu negara sampai dengan 3%, oleh karena itu pembuat kebijakan sebaiknya mempertimbangkan aksi selanjutnya untuk mencapai pengurangan jumlah anak balita dengan stunting sebesar 40% pada tahun 2025.1

Pencegahan terhadap stunting harus menjadi prioritas dikarenakan dampak negatif stunting tidak hanya pada kualitas hidup individu tetapi juga terhadap komunitas. Sasaran intervensi harus ditujukan pada “window of opportunity” dari periode pre konsepsi hingga 2 tahun pertama kehidupan dan meliputi intervensi yang mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan linear.1,3 Langkah – langkah pencegahan stunting yang direkomendasikan oleh WHO  :1

  1. Meningkatkan identifikasi, pengukuran, dan pengertian stunting serta meningkatkan cakupan aktivitas pencegahan stunting.
  2. Menetapkan kebijakan dan atau memperkuat intervensi untuk memperbaiki nutrisi dan kesehatan ibu, yang dimulai dengan remaja putri.
  3. Melaksanakan intervensi untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan praktek pemberian makanan tambahan.
  4. Memperkuat intervensi berbasis komunitas, mencakup ketersediaan air bersih, perbaikan sanitasi dan hygiene (WASH), untuk melindungi anak dari diare, malaria, cacing usus, dan kondisi lingkungan yang menyebabkan infeksi subklinis.

Intervensi terhadap balita stunting yang telah diterapkan di Indonesia, meliputi  upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung (intervensi gizi spesifik) dan upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung (intervensi gizi sensitif). Intervensi gizi spesifik dilakukan di sektor kesehatan, hanya berkontribusi 30%, sedangkan sisanya berupa intervensi gizi sensitif, yang melibatkan berbagai sektor seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan dan sosial.3

Intervensi gizi spesifik untuk balita stunting difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan anak 0-23 bulan, karena penanggulangan balita stunting yang paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. Periode 1.000 HPK meliputi 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan seseorang.3

Upaya intervensi terhadap stunting, meliputi:3

  1. Pada ibu hamil

Perbaikan asupan gizi dan kesehatan ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah (Fe), minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit

  1. Pada saat bayi lahir

Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan setelah bayi lahir, dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif). Konsumsi ASI juga meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga menurunkan risiko penyakit infeksi.

  1. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun

Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak juga memperoleh kapsul vitamin A dan imunisasi dasar lengkap.

  1. Memantau pertumbuhan Balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk

mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan. Pemantuan pertumbuhan tidak hanya dengan pengukuran berat badan saja, tetapi juga pengukuran panjang badan atau tinggi badan, serta dilakukan pencatatan hasil pengukuran anak dalam bentuk grafik tumbuh kembang.

Walaupun remaja putri secara eksplisit tidak disebutkan dalam 1.000 HPK , namun status gizi remaja putri atau pra nikah memiliki kontribusi besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan dan kelahiran, terutama apabila remaja putri menjadi ibu. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan.3

Kesimpulan

Angka kejadian stunting masih cukup tinggi di Indonesia dan stunting mempunyai dampak buruk bagi kualitas kehidupan seorang individu maupun kehidupan bermasyarakat. Namun peran kita sebagai praktisi kesehatan dalam pencegahan terhadap kejadian stunting cukup mudah, yaitu melalui pengukuran  panjang badan atau tinggi badan secara rutin, tidak selalu hanya mengukur berat badan, serta melalui promosi kesehatan kepada ibu hamil dan ibu menyusui mengenai pentingnya asupan nutrisi yang cukup selama masa kehamilan dan menyusui serta pentingnya pemberian ASI eksklusif.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. WHA global nutrition targets 2025: Stunting policy brief. [Internet]. [16 Oktober 2017]. http://www.who.int/nutrition/topics/globaltargets_stunting_policybrief.pdf
  2. Black RE, Allen LH, Bhutta ZA, Caulfield LE, de Onis M, Ezzati M, et.al. Maternal and child undernutrition: global and regional exposures and health consequences. Lancet. 2008;371:243-60
  3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Situasi balita pendek. Jakarta: Kemenkes RI; 2016
  4. Susanto E.,ed. Menteri Kesehatan jelaskan soal 9 juta anak Indonesia stunting. [Internet]. [1 Oktober 2017]. https://nasional.tempo.co/read/891017/menteri-kesehatan-jelaskan-soal-9-juta-anak-indonesia-stunting
  5. World Health Organization. Training course on child growth assessment. Geneva: WHO; 2008
  6. Frongillo EA. Symposium: causes and etiology of stunting. The Journal of Nutrition. 1999;129:529-30
  7. Ozaltin E, Hill K, Subramanian SV. Association of maternal stature with offspring mortality, underweight, and stunting in low-to middle-income countries. JAMA. 2010;303(15):1507-16
  8. Black RE, Victoria CG, Walker SP, Bhutta ZA, Christian P, de Onis M, et.al. Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. Lancet. 2013;382(9890):427-51
  9. Prendergast AJ, Rukobo S, Chasekwa B, Mutasa K, Ntozini R, Mbuya MNN, et.al. Stunting is characterized by chronic inflammation in Zimbabwean infants. PloS One. 2014;9(2):e86928
  10. Victoria CG, Adair L, Fall C, Hallal PC, Martorell R, Ricther L, et.al. Maternal and child undernutrition: consequences for adult health and human capital. Lancet. 2008;371:340-357
  11. Kar B, Rao S, Chandaramouli B. Cognitive development in children with chronic protein energy malnutrition. Behavioral and Brain Functions. 2008;4:31
  12. Martorell R, Horta BL, Adair LS, Stein AD, Richter L, Fall CH, et.al. Weight gain in the first two years of life is an important predictor of schooling outcomes in pooled analyses from five births cohorts from low- and middle-income countries. The Journal of Nutrition. 2010;140:348-54
  13. Thomas D, Strauss J. Health and wages: evidence on men and women in urban Brazil. Journal of Econometrics. 1997;77:159-85
  14. Dewey KG, Begum K. Long-term consequences of stunting in early life. Maternal and Child Nutrition. 2011;7:5-18

 

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr