Ilustrasi orangtua

“Karena dalam hidup tidak ada mantan orang tua”

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keluarga adalah tempat pertama individu berkembang sesuai dengan ajaran orang tua. Namun, pernahkah kita menggali hubungan sebaliknya – bagaimana perkembangan kesehatan mereka di masa tua dipengaruhi oleh anaknya?

Studi yang dilakukan pada tahun 2017[i] membuktikan bahwa orang tua yang ditinggalkan oleh anak laki-laki berasosiasi dengan penyakit digestif ketika tua. Salah satu penjelasan yang dimasukkan dalam studi tersebut adalah stres kronis dan kesendirian berkontribusi pada perilaku kesehatan yang memburuk. Kesendirian dan perasaan isolasi juga menyebabkan rasa cemas, ketakutan, pesimisme, dan depresi pada pasien geriatri, menyebabkan penurunan kesehatan.

Mengapa bisa terjadi kecemasan dan ketakutan pada orang tua? Studi lain[ii] menjelaskan bahwa pasien geriatri di Asia, seperti India, Tiongkok, dan Pakistan memiliki perbedaan persepsi terhadap anak yang mana laki-laki dianggap menjadi sumber rasa aman pada hari tua, sedangkan anak perempuan yang menikah dan pergi dengan keluarga pria dianggap sebagai sumber dukungan untuk mertua.

Hal ini juga dijelaskan dalam salah satu studi[iii] yang menemukan bahwa terdapat perbedaan hubungan dan komunikasi antara anak laki-laki dan perempuan pada populasi Asia, yaitu anak perempuan lebih dipandang perlu untuk memberikan dukungan emosional, sedangkan anak lelaki lebih dipandang penting untuk bertemu dengan keluarga, menjelaskan bahwa dalam etnis Tionghoa sendiri anak perempuan dipandang sebagai sumber utama dukungan moral pada keluarga.

Maka dari itu, dapat disimpulkan perlunya komunikasi yang baik dengan orang tua mengenai kecemasan dan harapan pada anak serta usia tua. Komunikasi yang baik dapat mengidentifikasi segera kesendirian dan perasaan isolasi, sebelum terjadinya perburukan gejala lebih lanjut.

Terakhir, studi-studi juga membuktikan [iv] bahwa kesendirian yang dialami orang tua sebagai akibat dari migrasi anak bukanlah hal yang jarang dan hal ini masih menjadi hal yang sulit untuk diidentifikasi serta diatasi oleh sarana kesehatan formal. Tidak bisa dipungkiri migrasi adalah suatu hal yang pasti terjadi sebagai konsekuensi dari kehidupan dunia yang semakin dinamis akibat era globalisasi. Namun, hal ini bukan serta merta menjadi legitimasi untuk mengabaikan orang tua. Kontak sosial dengan orang tua bukan semata-mata mengenai jarak, tetapi mengenai seberapa besar keinginan yang kita miliki untuk memulai kontak sosial tersebut.

 

[i] Evandrou M, Falkingham J, Qin M, Vlachantoni A. Children’s migration and chronic illness among older parents ‘left behind’ in China. SSM – Population Health. 2017;3:803-807.

[ii] Liu J. Ageing, migration and familial support in rural China. Geoforum. 2014;51:305-312.

[iii] Gruijters R. Intergenerational Contact in Chinese Families: Structural and Cultural Explanations. Journal of Marriage and Family. 2017;79(3):758-768.

[iv] Vullnetari J, King R. ‘Does your granny eat grass?’ On mass migration, care drain and the fate of older people in rural Albania. Global Networks. 2008;8(2):139-171.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr