Rabies adalah penyakit yang namanya sudah tidak asing di telinga. Namun, bagaimana sebenarnya bentuk kelainan yang ditimbulkan rabies? Rabies disebabkan oleh virus rabies. Virus ini termasuk dalam family Rhabdoviridae dan dalam genus Lyssavirus. Lyssa adalah kata dari bahasa Yunani yang berarti ‘gila’. Virus ini adalah jenis virus RNA yang banyak ditransmisikan melalui hewan sehingga termasuk dalam infeksi zoonotik. Transmisi utamanya melalui saliva (liur), sehingga penularan utamanya dengan cara gigitan.

Hewan yang sering membawa penyakit rabies ini adalah anjing, kelelawar, rakun, sigung, dan kucing. Penularan antar manusia mungkin terjadi, namun jarang. Kasus yang pernah terjadi adalah penularan melalui transplantasi organ (misalnya kornea) dari donor penderita rabies yang tidak terdiagnosis.

Perjalanan Penyakit

Masa inkubasi rabies umumnya 20-90 hari sejak terjadi gigitan, terkadang bisa lebih singkat atau lebih dari setahun. Masa inkubasi akan menjadi semakin singkat bila luka gigitan dalam atau multipel. Gigitan pada area kepala dan leher juga lebih cepat memunculkan gejala. Selama periode ini, virus akan berada di dekat lokasi inokulasi dan dapat berikatan dengan reseptor nikotinik kolinergik pada neuromuscular junction.

Virus ini kemudian akan naik ke sistem saraf pusat (SSP) dengan kecepatan 250 mm/hari melalui transport aksonal retrograde dan setelah itu akan menyebar ke berbagai organ dan jaringan. Salah satunya adalah sel acinar pada kelenjar saliva, yang merupakan tempat virus ini dapat bereplikasi sehingga dapat menular melalui saliva (gigitan). Selain itu, virus dapat menyebar ke kulit dan kornea.

Biarpun gejala yang ditimbulkan umumnya berat, ternyata perubahan patologis pada jaringan saraf tidak tampak signifikan. Temuan paling khas pada kasus rabies adalah Negri body, yaitu badan inklusi eosinofilik pada neuron yang tersusun atas protein dan RNA virus rabies. Badan inklusi ini lebih banyak ditemukan pada sel Purkinje cerebellum dan neuron pyramidal pada hippocampus.

Karena tidak ditemukan adanya kerusakan atau degenerasi neuron yang signifikan, maka konsep yang diterima saat ini adalah gangguan fungsi neuron yang menyebakan munculnya gejala. Biarpun demikian, masih belum dipahami bagaimana mekanisme ini menyebabkan perubahan perilaku.

Gejala

Fase-fase perjalanan penyakit pada rabies dibagi menjadi fase prodromal, fase gangguan neurologis akut, dan fase koma. Hal yang perlu ditekankan adalah diagnosis rabies harus dapat ditegakkan dan segera ditatalaksana sebelum ada gejala yang muncul karena pasien dapat dengan cepat mengalami perburukan keadaan dan meninggal biarpun sudah diterapi dengan agresif.

Pada fase prodromal, gejala yang ada umumnya tidak khas, kecuali paresthesia, nyeri, atau gatal pada lokasi bekas gigitan. Fase berikutnya adalah munculnya kelainan neurologis akut, umumnya berupa ensefalitis rabies (furious) pada 80% kasus atau paralisis/apatis pada sisa 20% kasus

Pada tipe furious, gejala yang muncul adalah gejala dengan pola klasik, misalnya gangguan saraf otonom (hipersalivasi, priapismus), perubahan perilaku (agitasi, cemas, dapat disertai halusinasi), dan hidrofobia. Hidrofobia adalah gejala khas berupa spasme otot berlebihan yang menyakitkan pada faring dan saluran nafas atas saat minum. Hal ini kemungkinan terjadi akibat disfungsi batang otak.

Pada tipe paralisis/apatis, kelumpuhan dimulai dari salah satu ekstremitas dan menyebar pada ekstremitas lainnya secara simetris. Penyebaran umumnya diawali dari ekstremitas yang tergigit. Pola ini mirip sindrom Guillain-Barre. Manifestasi tipe furious maupun paralisis akan berkembang hingga pasien koma dan meninggal.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium umumnya dapat normal atau berubah namun tidak memberikan gambaran spesifik. Begitu juga dengan pencitraan dan pemeriksaan EEG. Antibodi anti rabies dapat diperiksa dan memiliki nilai diagnostik pada pasien yang belum pernah imunisasi rabies. Namun, pembentukan antibodi ini cenderung lambat, bahkan ada pasien meninggal dengan antibodi masih negatif.

Opsi lain selain pemeriksaan serologi adalah melalui biopsi jaringan kulit dan dilakukan pemeriksaan direct fluorescent antibody (DFA). Pemeriksaan ini lebih sensitif. Pemeriksaan yang lebih baik adalah deteksi langsung RNA virus rabies dengan metode RT-PCR. Sampel yang digunakan adalah saliva.

Tatalaksana

Pada kecurigaan rabies yang belum memunculkan gejala (baru mengalami gigitan hewan tersangka positif rabies), dapat diberikan pertolongan pertama, yaitu mencuci luka dengan air sabun/detergen (5-10 menit) dan bilas dengan air bersih. Berikan alkohol 40-70%, dilanjutkan dengan iodium atau betadin. Kemudian, suntikkan serum anti rabies (SAR) secara infiltrasi di sekeliling luka.

Belum ada terapi definitif yang efektif saat ini pada kasus rabies yang sudah memunculkan gejala sehingga tatalaksana yang ada lebih bersifat simptomatik dan supportif. Pemberian vaksin maupun human rabies Ig (HRIG) tidak lagi diindikasikan pada fase ini karena sudah terlambat.

Prognosis

Bila sudah ada gejala, prognosis sangat buruk. Rabies adalah salah satu penyakit dengan case fatality rate tertinggi.

Referensi
Centers for Disease Control and Prevention

Edwin Wijaya
Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr