feet-on-scales-saying-help

Mari kenali obat-obat untuk menangani obesitas!

Obesitas merupakan masalah kesehatan yang nampaknya tidak kunjung selesai. Riskesdas 2013 menemukan bahwa prevalensi obesitas meningkat semenjak tahun 2010; 13,5% penduduk dewasa menderita berat badan lebih dan 15,4% menderita obesitas. Apabila tidak ditangani, obesitas dapat berujung pada berbagai penyakit, seperti hipertensi, serangan jantung, stroke, diabetes mellitus (DM) tipe 2, kanker, dan osteoarthritis. Oleh karena itu, manajemen obesitas merupakan kompetensi penting bagi tenaga kesehatan.

Perlu diketahui bahwa dalam menangani obesitas, pendekatan multidisipliner yang mencakup pengaturan pola makan dan aktivitas fisik diperlukan. Penggunaan obat merupakan lini terakhir penanganan dan harus selalu disertai dengan modifikasi gaya hidup. American College of Cardiology mengindikasikan farmakoterapi hanya pada pasien dewasa yang obesitas (BMI ≥ 30 kg/m2) atau berat badan berlebih (BMI ≥ 27 kg/m2) dengan komorbiditas seperti hipertensi, dislipidemia, dan DM tipe 2.

Terdapat enam obat antiobesitas yang sudah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA): orlistat, lorcaserin, phentermine, phentermine/topiramate ER (Qysmia®), bupropion SR/naltrexone SR (Contrave®), dan liraglutide (Saxenda®). Semua obat ini, kecuali phentermine, telah disetujui untuk pengobatan jangka panjang (di atas 12 minggu).

Orlistat (Xenical®)

Tak seperti agen antiobesitas lain yang bekerja dengan menurunkan nafsu makan atau meningkatkan pengeluaran energi, orlistat bekerja dengan menghambat enzim lipase sehingga mengurangi pencernaan dan penyerapan lipid dari saluran pencernaan. Orlistat merupakan agen yang sudah disetujui oleh FDA semenjak 1999, dan menjadi satu-satunya obat yang boleh digunakan untuk jangka panjang hingga 2012. Orlistat juga memperbaiki kontrol glikemik dengan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, mengurangi kadar kolesterol total, HDL, dan tekanan darah.

Orlistat tersedia dalam kapsul 120 mg dan 60 mg, dan dikonsumsi per oral tiga kali sehari. Obat ini harus dikonsumsi saat makan atau hingga satu jam setelah makan. Karena menghambat penyerapan vitamin larut lemak (A, D, E, K), penggunaan orlistat juga harus disertai dengan suplemen multivitamin. Efek samping penggunaan orlistat disebabkan oleh malabsorpsi lemak, seperti steatorrhea, perut kembung, peningkatan BAB, dan inkontinensia feses. Orlistat dikontraindikasikan pada ibu hamil, chronic malabsorption syndrome, dan cholestasis.

Lorcaserin (Belviq®)

Lorcaserin merupakan agonis reseptor serotonin 2C (5-HT2C), dan bekerja dengan mengaktivasi neuron pro-opiomelanocortin (POMC) di hipotalamus. Aktivasi reseptor 5-HT2C pada neuron POMC memicu rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan. Lorcaserin tersedia dalam sediaan 10 mg, dan dikonsumsi per oral dua kali sehari. Karena bekerja pada susunan saraf pusat, obat ini dapat menyebabkan ketergantungan dan bisa disalahgunakan. Oleh karena itu, bila penurunan berat badan setelah 12 minggu masih dibawah 5%, penggunaan lorcaserin harus dihentikan. Efek samping dari lorcaserin adalah pusing kepala, rasa lelah, mual, mulut kering, dan konstipasi. Lorcaserin dikontraindikasikan pada ibu hamil dan pasien dengan penyakit katup jantung.

Phentermine (Adipex-P®)

Phentermine merupakan agen simpatomimetik. Ia memicu pelepasan norepinefrin dan dopamin pada hipotalamus, yang menyebabkan sensasi kenyang. Phentermine juga memicu pelepasan norepinefrin dan epinefrin di jaringan perifer, yang meningkatkan lipolisis dan pengeluaran energi basal. Phentermine digunakan untuk pengobatan jangka pendek (≤ 12 minggu). Obat ini tersedia dalam tablet 37.5 mg, dan dosis hariannya adalah 15 – 37.5 mg. Phentermine dikonsumsi pada pagi hari sebelum sarapan atau 1-2 jam setelah sarapan, karena konsumsi pada malam hari dapat menyebabkan insomnia. Phentermine dapat disalahgunakan, sehingga dosis harus dibuat sedikit mungkin selama respon masih adekuat. Efek samping dari phentermine adalah pusing kepala, insomnia, rasa mual, diare, konstipasi, dan mulut kering. Phentermine dikontraindikasikan pada ibu hamil, anak dibawah 16 tahun, pasien dengan riwayat penyakit jantung, hipertiroidisme, drug abuse, glaukoma, dan konsumsi alkohol.

Phentermine/Topiramate Extended Release (Qysmia®)

Phentermine dapat digunakan untuk jangka panjang ketika digabung dengan topiramate extended-release (ER). Topiramate sendiri adalah agen anti-epilepsi yang ditemukan dapat menyebabkan penurunan berat badan. Belum diketahui pasti bagaimana topiramate menurunkan nafsu makan. Akan tetapi, beberapa penelitian menemukan bahwa topiramate memodulasi reseptor GABA, glutamate, dan menghambat carbonic anhydrase.

Phentermine/topiramate ER diberikan dengan peningkatan dosis berkala untuk mencegah efek samping. Dosis diberikan sebanyak 3,75/23 mg tiap harinya pada dua minggu pertama, lalu 7,5/46 mg tiap harinya hingga minggu ke 12. Setelah ini, dosis dapat ditingkatkan menjadi 11,25/69 mg dan 15/96 mg tiap harinya. Obat ini dikonsumsi sekali sehari di pagi hari untuk mencegah efek insomnia dari phentermine. Bila penurunan berat badan <3% dalam 12 minggu, obat harus dihentikan secara berkala. Efek samping dan kontraindikasi obat ini sama dengan phentermine.

Bupropion Sustained Release/Naltrexone Sustained Release (Contrave®)

Bupropion dan naltrexone bekerja secara sinergistik pada neuron POMC di hipotalamus. Bupropion adalah inhibitor reuptake dopamin dan norepinefrin, sehingga mempertahankan efek kedua neurotransmitter dalam mengaktivasi neuron POMC yang memicu rasa kenyang dan peningkatan pengeluaran energi. Naltrexone adalah agonis reseptor opioid, dan memodulasi neuron POMC sehingga memperkuat efek dari bupropion. Sediaan terdapat dalam bentuk tablet, yang mengandung 90 mg bupropion sustained release (SR) dan 8 mg naltrexone SR. Obat ini dikonsumsi sebanyak 1 tablet setiap hari pada minggu pertama. Dosis ditingkatkan sebanyak satu tablet setiap minggu berikutnya hingga dosis maksimum sebanyak 4 tablet (2 tablet di pagi hari dan 2 tablet di malam hari). Konsumsi obat dihentikan bila penurunan berat badan dibawah 5% selama 12 minnggu. Efek samping bupropion SR/naltrexone SR adalah sakit kepala, pusing kepala, insomnia, rasa mual, diare, konstipasi, dan mulut kering. Obat ini dikontraindikasikan pada ibu hamil, pasien hipertensi tidak terkontrol, epilepsi, bulimia nervosa, dan anorexia nervosa.

Liraglutide (Saxenda®)

Liraglutide adalah analog GLP (glucagon-like peptide)-1 yang sudah disetujui untuk digunakan pada terapi DM tipe 2 karena dapat menstimulasi sekresi insulin dan menghambat gastic emptying. Reseptor GLP-1 juga ditemukan pada area otak yang mengatur nafsu makan. Oleh karena itu, Liraglutide dapat membantu menurunkan berat badan melalui penurunan nafsu makan. Liraglutide diberikan melalu injeksi subkutan di daeah abdomen, paha, dan lengan atas. Pemberian liraglutide tidak tergantung pada jadwal makan. Dosis dimulai pada 0.6 mg setiap harinya pada minggu pertama, dengan peningkatan berkala sebanyak 0.6 mg setiap minggunya hingga dosis maksimum (3 mg) tercapai. Penggunaan dihentikan apabila penurunan berat badan dibawah 4% selama 16 minggu pengobatan. Efek samping liraglutide adalah diare, dispepsia, rasa mual, hipoglisemia, pusing kepala, dan rasa lelah. Liraglutide dikontraindikasikan pada ibu hamil dan pasien dengan riwat karsinoma tiroid.

Source:

  1. Saunders KH, Shukla AP, Igel LI, Kumar RB, Aronne LJ. Pharmacotherapy for obesity. Endocrinology and metabolism clinics of North America. 2016 Sep 30;45(3):521-38.
  2. Jensen MD, Ryan DH, Apovian CM, et al. 2013 AHA/ACC/TOS guideline for the management of overweight and obesity in adults: a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines and The Obesity Society. J Am Coll Cardiol 2014;63(25 Pt B):2985–3023.
  3. Katzung BG, Trevor AJ, editors. Basic & clinical pharmacology. 13th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2015. 1203 p.
  4. Yanovski SZ, Yanovski JA. Long-term drug treatment for obesity: a systematic and clinical review. Jama. 2014 Jan 1;311(1):74-86.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr