Demensia adalah suatu sindrom yang mencakup penurunan memori, kemampuan berpikir, perilaku, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Merujuk ke definisi tersebut, demensia sebenarnya bukanlah diagnosis melainkan hanya sekumpulan gejala. Penyebabnya beragam; salah satunya adalah penyakit degeneratif yang kini sedang naik daun.

Penyakit degeneratif yang paling identik dengan demensia adalah Alzheimer. Hal tersebut membuat mudahnya seseorang “menuduh” orang-orang dengan gejala demensia mengidap Alzheimer, padahal ada banyak sekali penyebab demensia dengan manifestasi khas yang berbeda-beda. Artikel ini bertujuan memberi tips singkat mengenai perbedaan berbagai penyebab degeneratif demensia secara klinis

1. Penyakit Alzheimer

Gejala yang dominan di fase awal di Alzheimer adalah amnesia, terutama memori jangka pendek dan panjang. Di fase awal tersebut, fungsi kognitif selain memori masih baik. Paranoid dan perubahan perilaku dapat muncul sebelum atau setelah gangguan memori. Lama-kelamaan, gejala lain seperti disnomia (sulit mengingat kata) dan disorientasi visuospasial akan muncul seiring dengan memberatnya Alzheimer. Gangguan fungsi eksekutif, misalnya sulit mengikuti instruksi atau berpartisipasi dalam percakapan kompleks, biasanya muncul di fase akhir Alzheimer. Tidak seperti beberapa demensia lain, penderita Alzheimer biasanya tidak mengalami abnormalitas gaya berjalan (gait) maupun defisit motorik.

2. Demensia Vaskular (DV)

Penderita DV biasanya memiliki riwayat penyakit atherosklerotik, misalnya stroke, serangan iskemik transien (transient ischemic attack), atau memiliki faktor risiko atherosklerosis, misalnya menderita diabetes. DV harus terjadi dalam tiga bulan pasca peristiwa serangan vaskular. Gangguan fungsi eksekutif, tidak seperti Alzheimer, terjadi lebih dahulu dibanding gangguan memori. Pada penderita DV dapat ditemui defisit motorik. Nantinya, gejala psikosis, paranoid, dan perubahan mood juga bisa muncul.

3. Demensia Lewy-Body (DLB)

DLB hampir mirip dengan DV karena gangguan kognitif, terutama fungsi eksekutif dan visuospasial, terjadi di fase awal. Gejala khas lain DLB adalah halusinasi rekuren (terutama visual), parkinsonisme, dan REM sleep disorder. Halusinasi DLB biasanya muncul di fase awal penyakit. Dibanding Alzheimer dan demensia vaskular, DLB lebih sering disebut mirip Penakit Parkinson. Perbedaan dari Parkinson adalah gangguan kognitif muncul minimal 1 tahun sebelum muncul gejala motorik atau parkinsonisme dan jarang terjadi tremor. Yang juga perlu menjadi perhatian adalah diagnosis DLB dilakukan setelah mengeksklusi diagnosis lain.

4. Penyakit Parkinson

Parkinson sangat dikenal dengan gejala klasik tremor (resting tremor), rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural (cenderung retropulsion). Gaya berjalan pasien aneh karena kaki yang seharusnya diangkat menjadi diseret. Pasien juga seolah-olah berjalan terburu-buru dengan langkah kecil-kecil dan tersendat seolah berusaha mempertahankan keseimbangan agar tidak jatuh. Parkinson juga dapat disertai gejala demensia yang risiko

Gaya berjalan penderita Parkinson

Gaya berjalan penderita Parkinson

kemunculannya makin tinggi seiring bertambah tua usia pasien, yaitu biasanya muncul minimal dalam 1 tahun setelah gejala-gejala klasik muncul, biasanya dalam 4-5 tahun.

 

5. Normal Pressure Hydrocephalus (NPH)

NPH merupakan salah satu diagnosis yang sering terlewat sebagai diagnosis banding Alzheimer. Gejala awal NPH adalah perubahan gaya berjalan yang membungkuk ke depan dan langkah kecil-kecil. Sekilas gaya berjalan tersebut mirip Parkinson, tetapi di NPH biasanya tidak ditemukan langkah menyeret dan tremor. Pasien dapat mengalami perubahan karakter, penurunan atensi, sulit berpikir, dan penurunan memori. Perbedaan NPH dari Alzheimer adalah pada NPH gangguan kognitif pasti terjadi setelah gaya berjalan menjadi abnormal. Gejala yang muncul di fase akhir NPH adalah inkontinensia urin. Jika pasien datang dengan ketiga gejala klasik tersebut, sebaiknya NPH juga menjadi pertimbangan diagnosis banding.

Dengan memahami perjalanan penyakit degeneratif penyebab demensia di atas, diharapkan petugas kesehatan kini dapat lebih waspada terhadap berbagai penyebab demensia dan cara membedakannya. Selamat belajar!


Referensi

  1. Ropper AH, Samuels MA, Klein JP. Adams and Victor’s principles of neurology. 10th ed. New York: McGraw-Hill; 2014.
  2. Dementia [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2017 May [cited 2017 Jun 15]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs362/en/
  3. Muangpaisan W. Clinical differences among four common dementia syndromes [Internet]. Medscape; 2007 [cited 2017 Jun 15]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/564627_1
Shierly Novitawati
Reporter Senior Media Aesculapius.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr