TB

http://www.thedailysheeple.com/wp-content/uploads/2014/09/tb.jpg

Tuberkulosis merupakan sebuah penyakit yang terutama disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit yang paru-paru. Namun ternyata, paru-paru bukanlah satu-satunya organ tubuh yang dapat diinfeksi oleh kuman ini. Lalu, apa yang terjadi ketika kuman TB paru-paru menyerang bagian tubuh yang lain?

Tuberkulosis ekstrapulmoner merupakan istilah medis untuk setiap penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dari golongan Mycobacterium pada organ tubuh lain selain paru-paru, terutama Mycobacterium tuberculosis. Pada umumnya, infeksi dari kuman ini akan menyebabkan suatu penyakit pada paru yang dikenal sebagai tuberkulosis. Namun ternyata, infeksi dari kuman Mycobacterium tuberkulosis tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan saja. Tuberkulosis ekstrapulmoner merupakan bentuk lanjutan dari infeksi laten tuberkulosis paru yang mengalami reaktivasi

Masuknya Kuman Tuberkulosis ke Dalam Tubuh

Setiap penyakit tuberkulosis ekstrapulmoner diawali dengan tuberkulosis paru. Kuman penyebab tuberkulosis dapat ditularkan melalui udara. Sistem pertahanan tubuh yang terdapat pada sepanjang saluran pernafasan dapat mengeluarkan sebagian besar kuman yang masuk, namun ada kalanya ketika sebagian kecil kuman Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke dalam pernafasan berhasil lolos. Kuman yang berhasil lolos tersebut kemudian akan mencapai paru-paru, dan kemudian akan “dimakan” oleh sel pertahanan tubuh yang disebut makrofag alveolar.

LUNG

http://www.clevelandareaph.com/Lungs_and_alveoli.gif

Jika diamati strukturnya, pada bagian dalam paru-paru terdapat struktur menyerupai buah anggur dalam jumlah besar yang disebut alveolus. Sel makrofag alveolar adalah salah satu jenis sel darah putih yang secara khas hanya dapat ditemukan di sekitar alveolus paru-paru. Pada keadaan normal, kuman yang telah “ditelan” oleh sel ini akan dihancurkan sehingga infeksi oleh kuman tidak terjadi. Namun, kuman Mycobacterium tuberculosis memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di dalam sel ini sehingga tidak dapat dihancurkan. Kemudian, kuman ini akan berkembang biak di dalam sel ini untuk bereplikasi dan kemudian menginfeksi sel-sel makrofag alveolar lainnya.

Perjalanan Penyakit Tuberkulosis sampai Terjadi Tuberkulosis Ekstrapulmoner

Sekitar 2 – 4 minggu setelah infeksi awal, tubuh kemudian dapat membentuk sistem pertahanan tubuh untuk melawan infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Sistem imunitas yang dibentuk tubuh kemudian menghancurkan sel-sel makrofag alveolar yang telah terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, sehingga proses kembangbiak dari kuman ini akan terganggu. Namun, respons pertahanan tubuh ternyata juga menghancurkan jaringan paru normal disekitarnya. Akibatnya adalah terbentuknya suatu daerah dengan massa berwarna putih kekuningan seperti keju yang berisi sel-sel mati pada bagian paru-paru yang dihancurkan oleh sistem imun. Fenomena ini dinamakan nekrosis kaseosa, dimana kata nekrosis berarti kematian sel dan kaseosa berarti menyerupai keju.

Pada tahap selanjutnya, respon imun tubuh akan berkembang untuk membentuk suatu respon peradangan yang disebut sebagai granuloma. Bentuk dari granuloma ini adalah adanya kumpulan sel imun tubuh yang mengelilingi jaringan yang terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis, sehingga terkesan seperti terbentuk suatu dinding yang tersusun oleh sel imun tubuh di sekitar jaringan yang terinfeksi. Respon granuloma ini juga dapat muncul pada penyakit lain, dan pada penyakit tuberkulosis granuloma yang terbentuk disebut tuberkel. Tujuan dari pembentukan tuberkel ini adalah mencegah kuman tuberkulosis untuk menginfeksi jaringan paru lain yang masih sehat. Kuman Mycobacterium tuberculosis yang terjebak di dalam tuberkel kemudian akan menurunkan aktivitasnya, namun tetap tidak mati. Hal ini bertujuan agar kuman bisa bertahan hidup lebih lama di dalam tuberkel. Pada kasus seperti ini, seseorang dikatakan mengalami infeksi laten karena kuman TB tidak mati namun umumnya tidak memunculkan gejala klinis karena aktivitas kuman yang berkurang.

 Tuberkulosis Ekstrapulmoner dan Gejalanya

Pada orang yang mengalami infeksi laten, tuberkulosis ekstrapulmoner dapat terjadi ketika daya tahan tubuh menurun. Penurunan daya tahan tubuh menyebabkan sistem imunitas tubuh tidak lagi dapat menahan kuman yang masih hidup di dalam tuberkel. Akibatnya, kuman akan lolos dari tuberkel dan akan masuk ke peredaran darah atau limfa dan menyebar menuju organ lain. Beberapa jaringan tubuh selain paru-paru yang kerap menjadi target infeksi kuman tuberkulosis adalah kelenjar limfa, selaput paru (disebut pleura), saluran kemih, tulang dan sendi.

Gejala yang muncul bergantung pada organ mana yang diinfeksi oleh kuman tuberkulosis. Tuberkulosis ekstrapulmoner paling banyak menyerang kelenjar getah bening.Pada tuberkulosis ekstrapulmoner yang menyerang kelenjar limfa, gejala yang dapat muncul meliputi perbesaran kelenjar getah bening yang biasanya tidak terasa nyeri. Skrofula adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena klinis ini.

Pleura adalah selaput tipis yang membungkus paru-paru, dan merupakan bagian tubuh kedua tersering mengalami tuberkulosis ekstrapulmoner. Gejala yang dapat muncul ketika terjadi ketika tuberkulosis ekstrapulmoner menyerang paru adalah nyeri dada dan sesak napas. Pada tuberkulosis ekstrapulmoner yang menyerang saluran kemih, gejala yang dapat muncul meliputi nyeri saat berkemih, kencing berdarah (disebut juga hematuria) dan sering berkemih pada malam hari. Pada tuberkulosis ekstrapulmoner yang menyerang tulang dan sendi, gejalanya meliputi nyeri dan bengkak disekitar tulang atau sendi yang mengalami infeksi.

 

REFERENSI

  1. Kasper DL, Fauci AS, Hauser S, Longo D, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine 19/E (Vol.1 & Vol.2). McGraw Hill Professional; 2015. 1105-11 p.
  2. Kulchavenya E. Extrapulmonary tuberculosis: are statistical reports accurate? Ther Adv Infect Dis. 2014 Apr;2(2):61–70.
Mahasiswa FKUI 2015
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr