Sumber: yournewswire.com

Sumber: yournewswire.com

Apa anda pernah mendengar tentang HPV? Banyak dari kita yang merasa hal tersebut merupakan hal asing. Namun, bagaimana dengan kanker serviks (kanker leher rahim)? Maka dari itu kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan HPV serta bagaimana mencegahnya dengan langkah imunisasi atau vaksin.

Human Papilloma Virus (HPV) adalah virus yang paling sering menyerang saluran reproduksi, khususnya pada wanita muda. Secara umum, infeksi HPV akan menyerang lapisan kulit dan mukosa (lapisan pelindung saluran cerna dan reproduksi). HPV sendiri terdiri dari sekitar 170 macam atau strain (galur). Masing-masing strain dapat menyebabkan penyakit yang berbeda pula. Transmisi HPV dapat terjadi melalui hubungan seksual, khususnya hubungan seksual yang tidak aman atau seks bebas. Dampak infeksi HPV yang berbahaya dan diwaspadai oleh banyak pihak sekarang adalah kanker serviks.

Kanker serviks adalah kanker pada leher rahim (serviks) yang menjadi kanker paling banyak yang menyerang wanita. Kanker serviks juga telah dinobatkan menjadi kanker penyebab kematian terbanyak bagi wanita di dunia. Sekitar 70% dari kasus kanker serviks terjadi akibat infeksi dari HPV, khususnya galur 16 dan 18. Kanker serviks sangat rentan dialami oleh wanita pada usia produktif atau usia aktif seksual, terutama melalui hubungan seksual sehingga dapat menyerang organ-organ reproduksi. Salah satu metode penting untuk mencegahnya adalah vaksin.

Vaksin HPV sudah diperkenalkan sejak tahun 2006 dan disetujui sebagai pencegahan utama dari infeksi HPV. Vaksin HPV juga telah dipilih menjadi pencegahan utama untuk kanker serviks yang diwajibkan oleh kebijakan beberapa negara. Vaksin HPV yang beredar saat ini terdapat dua jenis utama, yaitu vaksin yang mencegah galur 16 dan 18 (bivalen) dan vaksin yang mencegah galur 6, 11, 16, dan 18 (kuadrivalen). Vaksin ini juga terbukti dapat mencegah infeksi hingga 90%. Vaksin HPV sangat dianjurkan oleh World Health Organization (WHO) dan sudah menjadi program pemerintah. Selain itu, vaksin HPV juga dinyatakan sebagai imunisasi pilihan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Pada daerah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, imunisasi HPV dimasukkan kedalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dan diwajibkan untuk anak perempuan pada usia sekolah.

Vaksin HPV dianjurkan untuk diberikan pada anak perempuan (wanita muda) dari usia 11 tahun hingga 26 tahun dengan usia optimal 11 hingga 12 tahun. Selama usia remaja, dianjurkan untuk melakukan vaksin HPV sebanyak dua kali dengan jarak antar penyuntikannya sekitar enam bulan. Vaksin HPV diketahui tidak memiliki efek samping yang membahayakan, seperti rasa sakit sekitar daerah penyuntikan yang bersifat lokal sehingga vaksin ini sangat aman dengan efek yang berkepanjangan hingga 15 tahun. Maka dari itu, perlu diperhatikan untuk melakukan vaksin sebelum umur 26 tahun dan tidak dalam masa kehamilan. Sejauh ini tidak ada efek samping saat kehamilan tetapi masih belum dapat dipastikan.

Imunisasi tidak berarti infeksi HPV tidak akan terjadi, namun hanya meminimalkan risiko terjadinya infeksi. Terdapat hal-hal lain yang tentu dihindari untuk mencegah infeksi HPV dan khususnya kanker serviks, seperti tidak berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan pengaman seperti kondom saat berhubungan seksual, serta tidak merokok. Selain itu, skrining kanker serviks seperti PAP Smear juga harus dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat secara rutin dan berkala.

HPV memang beragam dan sulit untuk dicegah, namun dengan bantuan vaksin bagi wanita-wanita muda pada usia remaja, maka sebagian besar infeksi dapat dicegah. Pentingnya vaksin HPV harus dimengerti dan disuarakan kepada segala pihak untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi, terlebih kanker serviks.

Referensi

Human papillomavirus (HPV) and cervical cancer [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2018 [cited 12 March 2018]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs380/en/

HPV Vaccine Information For Young Women [Internet]. Atlanta: Centers for Disease Control and Prevention; 2018 [cited 12 March 2018]. Available from: https://www.cdc.gov/std/hpv/stdfact-hpv-vaccine-young-women.htm

Board P. Cervical Cancer Prevention (PDQ®) [Internet]. Bethesda: PubMed Health; 2017 [cited 12 March 2018]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0032668/

Basu P, Bhattacharya C, Biswas J, Singh P, Banerjee D. Efficacy and safety of human papillomavirus vaccine for primary prevention of cervical cancer: A review of evidence from phase III trials and national programs. South Asian Journal of Cancer. 2013;2(4):187.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan No. 42 Tahun 2013: Penyelenggaraan Imunisasi; 2013. p. 26-32.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/489/2016:  Pelaksanaan Imunisasi Human Papilloma Virus di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta; 2016. p. 1-5.

FKUI Student Batch 2016
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr