Malaria merupakan penyakit yang dapat mengancam nyawa. Sebenarnya, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Namun, apakah malaria dapat dicegah dengan menggunakan vaksin?

Penyakit malaria disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium yang disebarkan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles yang telah terinfeksi parasit Plasmodium. Pada tahun 2016, diperkirakan ada 216 juta kasus malaria di 91 negara (meningkat 5 juta kasus selama dari tahun 2015) dan kematian akibat malaria mencapai 445.000 pada tahun 2016. Indonesia bersama negara-negara lain di dunia bergabung dalam komitmen global, yaitu Millenium Development Goals (MDGs) untuk memberantas sejumlah penyakit, salah satunya malaria yang merupakan salah satu masalah pada berbagai negara.1

Sebenarnya malaria dapat dicegah dengan penyemprotan insektisida dan penggunaan obat antimalaria. Akan tetapi cara ini kurang efektif karena insektisida dapat menimbulkan resistensi insektisida pada nyamuk dan obat antimalaria juga dapat menyebabkan resistensi pada pasien yang mengonsumsi obat antimalaria. Oleh karena itu, WHO sedang berusaha memberikan cara preventif terbaru dengan menciptakan obat antimalaria (RTS,S/AS01) yang lebih dikenal dengan sebutan Mosquirix.1

RTS,S/AS01 merupakan vaksin malaria pertama di dunia yang telah terbukti dapat memberikan perlindungan terhadap malaria pada anak-anak dan belum tersedia di pasaran karena masih dalam tahap uji coba. Vaksin ini telah melalui uji coba tahap 3, yang telah dilakukan selama 5 tahun (2009 – 2014) dan memberikan hasil yang cukup signifikan. Hal ini terbukti pada anak-anak yang telah menerima 4 dosis vaksin ini memiliki risiko terkena malaria yang jauh lebih rendah daripada anak yang tidak menerima vaksin ini.2

Pada tahun 2018 ini, WHO telah memilih Ghana, Kenya, dan Malawi sebagai negara-negara di mana vaksin pertama terhadap malaria ini akan diuji dan dievaluasi karena vaksin ini hanya mampu memberikan perlindungan terhadap malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum, parasit mematikan yang paling umum di Afrika, sedangkan mayoritas penyebab malaria di luar Afrika disebabkan oleh Plasmodium vivax.2

Selain khasiatnya dalam melindungi dari infeksi Plasmodium falciparum, ada beberapa efek samping pada pemberian vaksin ini. Efek samping tersebut adalah demam, terkadang kejang, rasa sakit dan bengkak pada daerah suntikan, tetapi anak yang mengalami demam dan kejang setelah vaksinasi akan pulih sepenuhnya dan tidak ada efek samping jangka panjang.2

Oleh karena itu, penggunaan vaksin untuk mencegah penyakit malaria ini masih belum dapat dilakukan karena masih dalam tahap uji coba.3

 

 

Referensi

  1. World Health Organization. Malaria [Internet]. Geneva: WHO; 2018 [cited 2018 Apr 26]. Available from: http://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/malaria.
  2. World Health Organization. Q&A on the malaria vaccine implementation programme (MVIP) [Internet]. Geneva: WHO; 2018 [cited 2018 Apr 26]. Available from: http://www.who.int/malaria/media/malaria-vaccine-implementation-qa/en/.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Osteoarthritis [Internet]. London: CDC; 2018 [cited 2018 Apr 26]. Available from: https://www.cdc.gov/malaria/malaria_worldwide/reduction/vaccine.html.

 

Author: Andy Gunawan Karamoy

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr