­Beredarnya Vaksin Palsu, Bagaimana Nasib Generasi Penerus?

Dewasa ini, vaksin palsu menjadi sebuah fenomena yang mengguncang dunia kesehatan di Indonesia. Sesungguhnya, apa vaksin palsu itu serta bagaimana cara tepat menanggapi nya?

Vaksin Palsu

Kenali dan tangani vaksin palsu dengan cermat.

            Permasalahan vaksin palsu menjadi topik hangat sekarang ini. Sesungguhnya, vaksin palsu telah beredar sejak tahun 2003 . Kejadian ini tentunya meresahkan berbagai pihak, terutama dari pihak orang tua. Kegelisahan akan kesehatan anak  muncul dalam benak mereka; mereka bertanya apa dampak dari vaksin tersebut dan apakah sang anak perlu divaksinasi ulang. Dari pihak dunia kesehatan, kejadian ini sungguh merusak citra pada mekanisme pengelolaan kesehatan, walaupun sebenarnya pihak yang tidak berwenanglah yang menyebabkan hal ini terjadi.

Terdapat berbagai pandangan mengenai apa itu vaksin palsu. Vaksin palsu dapat berupa vaksin yang diencerkan dengan cairan infus, cairan infus yang dicampurkan dengan antibiotik, hingga dapat hanya berupa cairan infus semata. Pemberian vaksin palsu memang tidak menunjukan dampak langsung bagi pasien, namun dibalik itu ketidakterbentuknya imunitas lah yang menjadi masalah pada masa yang akan datang. Disamping itu, selain isi vaksin yang dipalsukan, penggunaan botol vaksin bekas dan higienitas buruk dengan terdapat nya zat kimia berbahaya juga turut menambah masalah yang berbahaya bagi keselamatan pasien. Dengan tidak terbentuknya imunitas tersebut, generasi muda yang seharusnya mendapatkan vaksin yang asli menjadi rentan terjangkit penyakit yang seharusnya dapat dihindari dengan pembentukan imunitas dari vaksin. Oleh karena itu, masalah pemalsuan vaksin menjadi ujung tombak permasalahan yang dapat menimpa kesehatan generasi muda di masa mendatang.

Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi, vaksin merupakan suatu antigen yang mampu menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif untuk mencegah suatu penyakit infeksi tertentu. Dengan kata lain, vaksin palsu yang dimakud adalah zat yang tidak menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif atau pun yang tidak berhasil membuat kekebalan untuk mencegah terjadinya suatu penyakit.  Disamping itu, tujuan dari proses imunisasi melalui vaksin, selain menimbulkan kekebalan, menurut World Health Organization adalah sebagai alat yang untuk mengontrol hingga mengeliminasi penyakit menular yang mengancam jiwa. Sebagai contoh, wabah cacar (smallpox) yang dinyatakan oleh WHO telah berhasil diberantas pada 1980 dengan pemberian vaksin sejak inisiasi pertama nya pada tahun 1967. Oleh karena itu, beredarnya vaksin palsu dapat mengganggu keberhasilan program pemberantasan penyakit menular mematikan yang ditetapkan oleh dunia kesehatan internasional.

Vaksin palsu tentunya akan menimbulkan dampak yang merugikan. Dampak yang ditimbulkan bukanlah dampak biasa semata. Vaksin ini sesuai yang kita ketahui tidak dapat menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif sehingga pasien masih dapat terjangkit oleh penyakit menular. Hal ini lah yang menjadi masalah karena sangat mungkin pasien yang sudah divaksinasi dengan vaksin palsu tidak menyadari bahwa di dalam dirinya tidak terbentuknya kekebalan sehingga ia dapat tetap terinfeksi. Penyakit berbahaya yang seharusnya dapat dicegah dengan pemberian vaksin di usia dini anatara lain adalah: polio, difteri, petrusis, dsb. Dalam skala yang lebih besar, kegagalan imunisasi pada bayi dan anka-anak, di masa mendatang, dapat mengakibat gangguan kesehatan pada tingkat generasi yang mana mereka merupakan generasi penerus bangsa. Selain dari pada itu, kandungan vaksin yang tidak sesuai beserta dengan tingkat kebersihan patut dipertanyakan dapat menyebabkan gangguan mulai dari reaksi alergi hingga infeksi lainnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, berbagai solusi dapat dilakukan untuk menghindari dampak buruk yang dapat terjadi. Pertama, Vaksin palsu dapat dihindari dengan cara seperti: tidak membeli vaksin di sembarang apotek, melihat kemasan vaksin dan pastikan vaksin memiliki tutup yang disertai dengan bentuk kotak berwarna terang sebagai indikasi vaksin yang baik, dan mintalah rekomendasi atau bantuan baik dari dokter maupun puskesmas untuk mendapatkan vaksin yang baik. Kedua, apabila merasa kurang yakin dengan vaksinasi yang sudah diterima, dapat dilakukan  vaksinasi ulang dengan konsultasi pada dokter terlebih dahulu, Ketiga, peningkatan dalam regulasi peredaran vaksin di Indonesia agar tidak terulangnya vaksin palsu di Indonesia.

Tidak perlu khawatir untuk melakukan vaksinasi, walau dengan berbagai isu yang beredar mengenai vaksin palsu. Seperti kata pepatah ‘Mencegah lebih baik dari pada mengobati’ hal ini menjadi dasar untuk melakukan imunisasi. Dengan bijak dan tepat, kita dapat tetap menjaga kesehatan dan terhindar dari dampak vaksin palsu.  kristian

 

Referensi:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. 2013.
  2. World Health Organization. Immunization. Tersedia pada: http://www.who.int/topics/immunization/en/. 2016.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr